Jumat, 17 April 2020

Doa, Dukungan, dan Kesabaran Obat Sesungguhnya


Seminggu sudah Syahrul di rawat di RS. Mamao pun turut serta. Pikirannya bercabang. Memikirkan Syahrul, biaya berobat dan Haura Syakira yang ada di rumah. Di bangsal tersebut Syahrul ditempatkan di kamar bayi yang hanya bisa dimasuki oleh orang tua bayi dan paramedis. Mamao tidak bisa menunggui di samping box bayi setiap saat karena orangtua diberi ruang khusus untuk para penunggu bayi di luar bangsal. Kondisinya sekilas terlihat seperti bayi sehat normal yang membedakan mungkin hanya selang infus dan oksigen yang masih menempel. Sudah ada 2 bayi yang masuk ke ruang Bayi untuk menjalani fototerapi[1]. Rata-rata mereka hanya 2 hari 1 malam di rumah sakit. Alangkah senangnya mereka bisa segera membawa pulang bayi mereka ke rumah.
Di sela-sela menunggu Syahrul di rumah sakit, Mamao memutuskan untuk mencairkan saldo jamsosteknya. Dengan bantuan mantan atasannya dulu di kantor Mamao bisa mendapatkan paklaring tanpa harus ribet mengurus ke kantor. Padahal sebelumnya lebih tepatnya 2 tahun lalu Mamao pernah minta ke HRD kantor tempatnya bekerja tapi tidak kunjung diberikan. Sampai karyawannya ganti. Hadeuh.
Sebelum berangkat ke kantor Jamsostek Mamao berpamitan pada bidan jaga. Bidan senior yang juga Bidan yang dulu menemaninya sewaktu operasi caesar malah mendukungnya.
“Alhamdulillah Mbak kalo bisa dicairkan, saya dulu kerja 8 tahun kerja di Jakarta mau saya cairkan Jamsosteknya enggak bisa karena kartu Jamsosteknya ilang” ujar bidan senior.
“Aduh sayang sekali, Ibu. Pakai bukti potong iuran enggak bisa?” tanya saya heran.
“enggak bisa mbak. Lha saya kalo suruh cari yang enggak bisa wong sudah pindah sini” jawab Bidan senior.
Tuh jadi buat anda anda yang masih kerja dan pasti terdaftar jamsostek atau kalo sekarang namanya BPJS Ketenagakerjaan simpen baik-baik ya kartunya. Syaratnya sebenarnya gampang kok dan gak ribet mungkin Cuma lama di antriannya aja.hehe. Syarat Cuma fotokopi KTP, kartu jamsosstek/bpjs ketenagakerjaan, fotokopi buku tabungan, sama paklaring atau surat keterangan berhenti kerja. Pencairannya pun enggak lama paling lama 14 hari kerja.
Singkat cerita, Syahrul selama dirawat di bangsal sekilas seperti bayi sehat. Yah meskipun NGT dan fisiknya yang spesial membuatnya terlihat berbeda dari bayi yang keluar masuk di kamar bayi. Beberapa perawat berusaha membesarkan hati Mamao.
“Saudara saya juga ada kok bu yang enggak punya jari tangan kanannya tapi naik motor tetep bisa. Dimodifikasi gasnya di pindah di stang kiri” ucap bidan senior tersebut.
“Sekarang malah jadi guru SLB orangnya” lanjut bidan senior. Jujur mendengar penuturan perawat-perawat tersebut sedikit menguatkan hati Mamao. Pasti waktu itu muka Mamao bener-bener keliatan down banget. Ya iyalah dimana mikir anak sakit, belum lagi biaya rumah sakit yang membengkak ditambah kak Haura yang sempat telepon sambil nangis minta mamanya pulang. Asli nangis Mamao denger Kak Haura nahan tangis. Ya Allah anak Mamao hebat hebat semua. Meski berat dilalui mereka rela jauh dari Mamanya.
Hari kelima di bangsal belum ada perkembangan berarti.Malah dokter anaknya tengah ke luar negeri jadi digantikan dokter anak yang lain. Mamao dan Babah mencoba negosiasi dengan manajer rumah sakit dan dokter anak agar Syahrul bisa rawat jalan. Akhirnya dokter anak memutuskan sebelum memastikan Syahrul bisa pulang harus melakukan beberapa tes, seperti rontgen, BERA[2], USG kepala,USG jantung dan poli orthopedi untuk tindak lanjut CTEV[3].
Hari ketujuh mamao baru bisa menggendong Syahrul. Itu pun setelah melihat perawat tengah menimang Syahrul karena menangis.”Boleh saya gendong, Bu?”tanya Mamao kepada bidan senior. “Ya tentu boleh, sini Mbak”jawab bidan seraya menyerahkan Syahrul dari dekapannya. Amazing!dari lahir baru hari ini gendong Syahrul.Badannya kecil mungil. Mamao harus berhati-hati menimangnya karena infus masih terpasang di tangan kirinya. Tiba-tiba hp Mamao berdering. Di layar hp Mamao tertulis video call dari Babah. Mamao menutup panggilan karena tengah menggendong Syahrul. Setelah Syahrul tertidur Mamao menggambil gambar Syahrul dan menggirimkan ke nomor Babah disertai pesan.Maaf Bah, Mamao ambil foto Syahrul karena Mamao juga enggak tahu apakah Haura dan Syakira bisa ketemu adiknya atau enggak.
Foto perdana Syahrul

Hari itu tanggal 18 September 2019, Dokter mulai melepas infus Syahrul dan selang oksigen. Saturasi oksigennya terlihat baik. Kemudian perawat mengajari Mamao cara menyuapi ASI dengan sendok. Di sini Mamao mulai heran. Syahrul reflek menelannya lambat. Terlihat ASI masih mengenangi rongga mulutnya. Tapi perawat beranggapan itu mungkin belum terbiasa karena selama ini ASI melalui NGT.Mamao hanya mengiyakan. Iya nih masih kaget mungkin minum lewat mulut. Setelah diobservasi ternyata Syahrul tidak tersedak selama minum memakai sendok lanjut belajar menetek. Mengharukan pokoknya 2 minggu baru bisa netekin langsung.Selama menetek pun Syahrul masih suka tumpah tumpah ASInya. Tapi, so far so good. Syahrul tidak tersedak. Berita baiknya lagi Besok pagi Syahrul diperbolehkan pulang. Yeayy. 



[1] Terapi cahaya untuk pengobatan bagi bayi yang mengalami sakit kuning.
[2] Brain Evoked Response Auditory adalah pemeriksaan pendengaran pada anak 1-3 tahun
[3] Cacat lahir yaitu kaki terpelintir dari bentuk atau posisi normal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar