Seminggu
sudah Syahrul di rawat di RS. Mamao pun turut serta. Pikirannya bercabang.
Memikirkan Syahrul, biaya berobat dan Haura Syakira yang ada di rumah. Di
bangsal tersebut Syahrul ditempatkan di kamar bayi yang hanya bisa dimasuki
oleh orang tua bayi dan paramedis. Mamao tidak bisa menunggui di samping box
bayi setiap saat karena orangtua diberi ruang khusus untuk para penunggu bayi
di luar bangsal. Kondisinya sekilas terlihat seperti bayi sehat normal yang
membedakan mungkin hanya selang infus dan oksigen yang masih menempel. Sudah
ada 2 bayi yang masuk ke ruang Bayi untuk menjalani fototerapi[1].
Rata-rata mereka hanya 2 hari 1 malam di rumah sakit. Alangkah senangnya mereka
bisa segera membawa pulang bayi mereka ke rumah.
Di
sela-sela menunggu Syahrul di rumah sakit, Mamao memutuskan untuk mencairkan
saldo jamsosteknya. Dengan bantuan mantan atasannya dulu di kantor Mamao bisa
mendapatkan paklaring tanpa harus ribet mengurus ke kantor. Padahal sebelumnya
lebih tepatnya 2 tahun lalu Mamao pernah minta ke HRD kantor tempatnya bekerja
tapi tidak kunjung diberikan. Sampai karyawannya ganti. Hadeuh.
Sebelum
berangkat ke kantor Jamsostek Mamao berpamitan pada bidan jaga. Bidan senior
yang juga Bidan yang dulu menemaninya sewaktu operasi caesar malah
mendukungnya.
“Alhamdulillah
Mbak kalo bisa dicairkan, saya dulu kerja 8 tahun kerja di Jakarta mau saya
cairkan Jamsosteknya enggak bisa karena kartu Jamsosteknya ilang” ujar bidan
senior.
“Aduh
sayang sekali, Ibu. Pakai bukti potong iuran enggak bisa?” tanya saya heran.
“enggak
bisa mbak. Lha saya kalo suruh cari yang enggak bisa wong sudah pindah sini”
jawab Bidan senior.
Tuh
jadi buat anda anda yang masih kerja dan pasti terdaftar jamsostek atau kalo
sekarang namanya BPJS Ketenagakerjaan simpen baik-baik ya kartunya. Syaratnya
sebenarnya gampang kok dan gak ribet mungkin Cuma lama di antriannya aja.hehe.
Syarat Cuma fotokopi KTP, kartu jamsosstek/bpjs ketenagakerjaan, fotokopi buku
tabungan, sama paklaring atau surat keterangan berhenti kerja. Pencairannya pun
enggak lama paling lama 14 hari kerja.
Singkat
cerita, Syahrul selama dirawat di bangsal sekilas seperti bayi sehat. Yah
meskipun NGT dan fisiknya yang spesial membuatnya terlihat berbeda dari bayi
yang keluar masuk di kamar bayi. Beberapa perawat berusaha membesarkan hati
Mamao.
“Saudara
saya juga ada kok bu yang enggak punya jari tangan kanannya tapi naik motor
tetep bisa. Dimodifikasi gasnya di pindah di stang kiri” ucap bidan senior
tersebut.
“Sekarang
malah jadi guru SLB orangnya” lanjut bidan senior. Jujur mendengar penuturan
perawat-perawat tersebut sedikit menguatkan hati Mamao. Pasti waktu itu muka
Mamao bener-bener keliatan down banget. Ya iyalah dimana mikir anak sakit,
belum lagi biaya rumah sakit yang membengkak ditambah kak Haura yang sempat
telepon sambil nangis minta mamanya pulang. Asli nangis Mamao denger Kak Haura
nahan tangis. Ya Allah anak Mamao hebat hebat semua. Meski berat dilalui mereka
rela jauh dari Mamanya.
Hari
kelima di bangsal belum ada perkembangan berarti.Malah dokter anaknya tengah ke
luar negeri jadi digantikan dokter anak yang lain. Mamao dan Babah mencoba
negosiasi dengan manajer rumah sakit dan dokter anak agar Syahrul bisa rawat
jalan. Akhirnya dokter anak memutuskan sebelum memastikan Syahrul bisa pulang
harus melakukan beberapa tes, seperti rontgen, BERA[2],
USG kepala,USG jantung dan poli orthopedi untuk tindak lanjut CTEV[3].
Hari
ketujuh mamao baru bisa menggendong Syahrul. Itu pun setelah melihat perawat
tengah menimang Syahrul karena menangis.”Boleh saya gendong, Bu?”tanya Mamao
kepada bidan senior. “Ya tentu boleh, sini Mbak”jawab bidan seraya menyerahkan
Syahrul dari dekapannya. Amazing!dari lahir baru hari ini gendong
Syahrul.Badannya kecil mungil. Mamao harus berhati-hati menimangnya karena
infus masih terpasang di tangan kirinya. Tiba-tiba hp Mamao berdering. Di layar
hp Mamao tertulis video call dari Babah. Mamao menutup panggilan karena tengah
menggendong Syahrul. Setelah Syahrul tertidur Mamao menggambil gambar Syahrul
dan menggirimkan ke nomor Babah disertai pesan.Maaf Bah, Mamao ambil foto Syahrul karena Mamao juga enggak tahu apakah
Haura dan Syakira bisa ketemu adiknya atau enggak.
Foto
perdana Syahrul
Hari itu tanggal 18
September 2019, Dokter mulai melepas infus Syahrul dan selang oksigen. Saturasi
oksigennya terlihat baik. Kemudian perawat mengajari Mamao cara menyuapi ASI
dengan sendok. Di sini Mamao mulai heran. Syahrul reflek menelannya lambat.
Terlihat ASI masih mengenangi rongga mulutnya. Tapi perawat beranggapan itu
mungkin belum terbiasa karena selama ini ASI melalui NGT.Mamao hanya
mengiyakan. Iya nih masih kaget mungkin minum lewat mulut. Setelah diobservasi
ternyata Syahrul tidak tersedak selama minum memakai sendok lanjut belajar
menetek. Mengharukan pokoknya 2 minggu baru bisa netekin langsung.Selama menetek
pun Syahrul masih suka tumpah tumpah ASInya. Tapi, so far so good. Syahrul
tidak tersedak. Berita baiknya lagi Besok pagi Syahrul diperbolehkan pulang.
Yeayy.
[1] Terapi
cahaya untuk pengobatan bagi bayi yang mengalami sakit kuning.
[2] Brain
Evoked Response Auditory adalah pemeriksaan pendengaran pada anak 1-3 tahun
[3] Cacat
lahir yaitu kaki terpelintir dari bentuk atau posisi normal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar