Jumat, 17 April 2020

Doa, Dukungan, dan Kesabaran Obat Sesungguhnya


Seminggu sudah Syahrul di rawat di RS. Mamao pun turut serta. Pikirannya bercabang. Memikirkan Syahrul, biaya berobat dan Haura Syakira yang ada di rumah. Di bangsal tersebut Syahrul ditempatkan di kamar bayi yang hanya bisa dimasuki oleh orang tua bayi dan paramedis. Mamao tidak bisa menunggui di samping box bayi setiap saat karena orangtua diberi ruang khusus untuk para penunggu bayi di luar bangsal. Kondisinya sekilas terlihat seperti bayi sehat normal yang membedakan mungkin hanya selang infus dan oksigen yang masih menempel. Sudah ada 2 bayi yang masuk ke ruang Bayi untuk menjalani fototerapi[1]. Rata-rata mereka hanya 2 hari 1 malam di rumah sakit. Alangkah senangnya mereka bisa segera membawa pulang bayi mereka ke rumah.
Di sela-sela menunggu Syahrul di rumah sakit, Mamao memutuskan untuk mencairkan saldo jamsosteknya. Dengan bantuan mantan atasannya dulu di kantor Mamao bisa mendapatkan paklaring tanpa harus ribet mengurus ke kantor. Padahal sebelumnya lebih tepatnya 2 tahun lalu Mamao pernah minta ke HRD kantor tempatnya bekerja tapi tidak kunjung diberikan. Sampai karyawannya ganti. Hadeuh.
Sebelum berangkat ke kantor Jamsostek Mamao berpamitan pada bidan jaga. Bidan senior yang juga Bidan yang dulu menemaninya sewaktu operasi caesar malah mendukungnya.
“Alhamdulillah Mbak kalo bisa dicairkan, saya dulu kerja 8 tahun kerja di Jakarta mau saya cairkan Jamsosteknya enggak bisa karena kartu Jamsosteknya ilang” ujar bidan senior.
“Aduh sayang sekali, Ibu. Pakai bukti potong iuran enggak bisa?” tanya saya heran.
“enggak bisa mbak. Lha saya kalo suruh cari yang enggak bisa wong sudah pindah sini” jawab Bidan senior.
Tuh jadi buat anda anda yang masih kerja dan pasti terdaftar jamsostek atau kalo sekarang namanya BPJS Ketenagakerjaan simpen baik-baik ya kartunya. Syaratnya sebenarnya gampang kok dan gak ribet mungkin Cuma lama di antriannya aja.hehe. Syarat Cuma fotokopi KTP, kartu jamsosstek/bpjs ketenagakerjaan, fotokopi buku tabungan, sama paklaring atau surat keterangan berhenti kerja. Pencairannya pun enggak lama paling lama 14 hari kerja.
Singkat cerita, Syahrul selama dirawat di bangsal sekilas seperti bayi sehat. Yah meskipun NGT dan fisiknya yang spesial membuatnya terlihat berbeda dari bayi yang keluar masuk di kamar bayi. Beberapa perawat berusaha membesarkan hati Mamao.
“Saudara saya juga ada kok bu yang enggak punya jari tangan kanannya tapi naik motor tetep bisa. Dimodifikasi gasnya di pindah di stang kiri” ucap bidan senior tersebut.
“Sekarang malah jadi guru SLB orangnya” lanjut bidan senior. Jujur mendengar penuturan perawat-perawat tersebut sedikit menguatkan hati Mamao. Pasti waktu itu muka Mamao bener-bener keliatan down banget. Ya iyalah dimana mikir anak sakit, belum lagi biaya rumah sakit yang membengkak ditambah kak Haura yang sempat telepon sambil nangis minta mamanya pulang. Asli nangis Mamao denger Kak Haura nahan tangis. Ya Allah anak Mamao hebat hebat semua. Meski berat dilalui mereka rela jauh dari Mamanya.
Hari kelima di bangsal belum ada perkembangan berarti.Malah dokter anaknya tengah ke luar negeri jadi digantikan dokter anak yang lain. Mamao dan Babah mencoba negosiasi dengan manajer rumah sakit dan dokter anak agar Syahrul bisa rawat jalan. Akhirnya dokter anak memutuskan sebelum memastikan Syahrul bisa pulang harus melakukan beberapa tes, seperti rontgen, BERA[2], USG kepala,USG jantung dan poli orthopedi untuk tindak lanjut CTEV[3].
Hari ketujuh mamao baru bisa menggendong Syahrul. Itu pun setelah melihat perawat tengah menimang Syahrul karena menangis.”Boleh saya gendong, Bu?”tanya Mamao kepada bidan senior. “Ya tentu boleh, sini Mbak”jawab bidan seraya menyerahkan Syahrul dari dekapannya. Amazing!dari lahir baru hari ini gendong Syahrul.Badannya kecil mungil. Mamao harus berhati-hati menimangnya karena infus masih terpasang di tangan kirinya. Tiba-tiba hp Mamao berdering. Di layar hp Mamao tertulis video call dari Babah. Mamao menutup panggilan karena tengah menggendong Syahrul. Setelah Syahrul tertidur Mamao menggambil gambar Syahrul dan menggirimkan ke nomor Babah disertai pesan.Maaf Bah, Mamao ambil foto Syahrul karena Mamao juga enggak tahu apakah Haura dan Syakira bisa ketemu adiknya atau enggak.
Foto perdana Syahrul

Hari itu tanggal 18 September 2019, Dokter mulai melepas infus Syahrul dan selang oksigen. Saturasi oksigennya terlihat baik. Kemudian perawat mengajari Mamao cara menyuapi ASI dengan sendok. Di sini Mamao mulai heran. Syahrul reflek menelannya lambat. Terlihat ASI masih mengenangi rongga mulutnya. Tapi perawat beranggapan itu mungkin belum terbiasa karena selama ini ASI melalui NGT.Mamao hanya mengiyakan. Iya nih masih kaget mungkin minum lewat mulut. Setelah diobservasi ternyata Syahrul tidak tersedak selama minum memakai sendok lanjut belajar menetek. Mengharukan pokoknya 2 minggu baru bisa netekin langsung.Selama menetek pun Syahrul masih suka tumpah tumpah ASInya. Tapi, so far so good. Syahrul tidak tersedak. Berita baiknya lagi Besok pagi Syahrul diperbolehkan pulang. Yeayy. 



[1] Terapi cahaya untuk pengobatan bagi bayi yang mengalami sakit kuning.
[2] Brain Evoked Response Auditory adalah pemeriksaan pendengaran pada anak 1-3 tahun
[3] Cacat lahir yaitu kaki terpelintir dari bentuk atau posisi normal.

5 Hari di NICU


Sesampai di rumah Bulik-bulik dan Om-om Mamao mulai berdatangan menengok. Mamao tahu melihat dari mata mereka ada sejuta tanya yang ingin diutarakan tapi mereka pendam. Mereka meredam dengan kata “Nggak apa-apa”. Asli memang maksud mereka mencoba untuk menghibur Mamao tapi frase itu justru menunjukkan bahwa mereka memandang masalah Mamao adalah masalah kecil. Aah apa lagi-lagi karena Mamao lagi sensitif jadi mudah baper?.entahlah. Rasanya badan di rumah tapi pikiran di rumah sakit. Begitu sampai di rumah Mamao berusaha memeras ASI sebanyak mungkin. Karena hanya ASI – lah sekarang yang bisa menolong Syahrul bertahan hidup.
Selepas Isya Ibu mengumpulkan bulik-bulik dan om-om untuk melakukan doa bersama untuk kesembuhan Syahrul. Tangis kembali pecah meski para bulik dan om belum tahu persis seperti apa kondisi Syahrul mereka turut menumpahkan air mata. Selesai doa bersama Mamao dan Babah kembali ke RS mengantar ASI. Beberapa botol di antaranya ASI perah dari Mbak Yanti dan Mama Alie. Setelah menyerahkan ASI perah dan sabun bayi Mamao bergegas menuju kamar NICU tempat Syahrul dirawat. Penutup kepalanya yang berwarna orange terlihat begitu besar di kepala Syahrul yang mungil. Wajahnya nyaris tak terlihat karena besarnya selang ventilator[1].Selang NGT[2] di mulutnya.Tangan kanannya masih tertancap selang infus. Dadanya pun disematkan beberapa bilah kabel. Kakinya di jepit alat oksimetri[3]. Perawat tengah mengganti popok Syahrul. Selesai mengganti popok, Syahrul kembali dibedong. Mamao sedikit bernafas lega, karena pemandangan yang memilukan itu telah tertutup oleh kain bedong dan selimut hangat yang berwarna senada dengan penutup kepalanya. Tak tega rasanya melihat anak laki-lakinya menderita. Tangis Syahrul meledak, entah karena melihat Mamao baru saja datang dan ingin menetek atau karena rasa sakit di tubuhnya. Mamao hanya bisa menepuk-nepuk pelan kakinya agar tangisnya mereda. Oh iya saat Mamao datang terdapat kassa yang ditetesi ASI disesapkan di mulut Syahrul. Syahrul sudah mulai mencari-cari tetek sehingga agak rewel.Ya Allah pasti haus sekali rasanya. Karena ASI perah dimasukkan melalui NGT jadi Syahrul tidak bisa mencecap rasa ASI.Begitu Syahrul tertidur , Mamao dan Babah pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah anak-anak telah tertidur. Mamao kembali mencoba memeras ASI. Dini hari sehabis buang air kecil di kamar mandi, Mamao merasa tubuhnya bergetar hebat. Mengginggil kedinginan. Mamao menjerit memanggil Babah.Dipapahnya Mamao menuju kamar dan menyelimutinya dengan banyak selimut.Babah mencoba menuntun Mamao untuk menyebut asma Allah.Karena mengginggil hebat suara Mamao pun terdengar bergetar dan terputus putus.Ibu mertua mengatakan Mamao hanya mengalami ‘ngrangkak’i bener enggak ya saya nulisnya. Hehehe. Semacam peradangan pada payudara yang membengkak akibat ASI yang tidak lancar. Entahlah kalau dulu pas lahirnya Kakak Haura saya gejalanya demam tinggi.
Ahad pagi Mamao kembali ke rumah sakit mengantarkan ASI. Menurut pengakuan perawat yang berjaga, Syahrul sempat dicoba lepas ventilatornya namun beberapa saat mengalami kesulitan bernapas. Lupa bernapas. Aih masak ada ya orang lupa bernapas?Lupa sama hutang banyak.hahahah.tapi sepertinya Mamao memang belum tahu ada kasus seperti itu. Next di cerita selanjutnya Insya Allah Mamao ceritain deh.Empat hari Syahrul di NICU belum terlihat ada perkembangan yang terlihat. Babah sudah mulai putus asa. Mengingat dana di dompet Babah juga habis. Terpaksalah Babah meminjam uang ke Ibu mertua dan Mamao pun juga harus meminta bantuan ibu. Asli mereka pun pasti juga merasa sedih masih juga dimintain uang. Mamao meminta Babah mengiklankan carry tuanya. Yah meskipun harganya gak lebih tinggi dari harga sebuah motor keluaran terbaru.Cuma itu yang bisa Mamao dan Babah lakukan. Mamao juga memiliki ide untuk mengontrakkan rumah yang ditempatinya sekarang. Namun, ibu melarang malah menawarkan rumah ibu saja yang dikontrakkan.
“Berapa lama lagi Syahrul di NICU bah?”tanya Mamao pelan, meski Babah pun tidak mengetahui jawaban pastinya.kenyataan pahit harus siap-siap Mamao hadapi. Keadaan yang sulit, Babah sempat berbincang dengan perawat di ruang NICU, mengenai keringanan biaya. Babah disarankan bertemu dengan bagian humas rumahsakit.
Senin sore handphone Babah berdering. Terpampang di layar sentuh gawai itu. NICU RS. Mamao sontak gemetar. Buru-buru diberikan hp ke Babah. Maklum semenjak hearing loss Mamao juga tidak bisa berkomunikasi melalui telepon atau HP.
“Hari ini, Mbak?” tanya Babah kepada seseorang di ujung telepon sana.Entah apa yang dikatakan orang itu, Babah terlihat terburu-buru.
“Ya , sebentar lagi saya menuju rumah sakit. Terimakasih Mbak” ucap Babah sambil menutup percakapan telepon.
“Ada apa bah?”tanya Mamao tegang. Apakah kondisi Syahrul memburuk hingga rumah sakit menghubunginya.
“Syahrul sore ini mau dipindah ke bangsal, Ma” jawab Babah. Mendengar kata-kata Babah ucapan syukur terlontar dari mulut Mamao. Harapan Syahrul masih ada. Harapan yang sempat hilang di hati Mamao kembali muncul. Anaknya akan pulang ke rumah.


[1] Alat bantu pernafasan yang dapat digunakan untuk mengontrol oksigen dan aliran udara dari paru-paru pasien saat paru-paru tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
[2] Nasogastric tube adalah alat untuk memasukkan nutrisi cair dengan selang plastik yang dipasang melalui mulut/hidung sampai lambung.
[3] Alat untuk mengukur  atau memantau kadar oksigen dalam darah.

Senin, 06 April 2020

Takdirmu Takdirku


Selang beberapa menit bidan kembali ke ruang operasi “Bu, bayinya baru diperiksa dokter anak jadi belum bisa IMD”.Mamao kembali mengangguk. Kali ini Mamao agak sedikit lega mendengar ucapan bidan,setelah sedari tadi hanya bertanya-tanya apakah dedek bayi sudah keluar atau belum. Mengenai IMD Mamao tidak terlalu mempermasalahkan karena dulu kakak-kakaknya juga tidak pakai IMD. Sepertinya paramedis di ruang operasi tidak sebanyak tadi. Terdengar hanya satu dokter yang masih bercakap-cakap sambil menyelesaikan proses bedah.Sepertinya sambil memberi penjelasan pada residen juga. Entah mahasiswa kedokteran atau residen Mamao juga tidak fokus karena dadanya mulai sesak. Perutnya terasa perih teriris-iris. Mamao mengeluhkan pada salah satu paramedis.
“Mbak sakit perut saya ulu hati juga nyeri” keluh Mamao sambil meringis menahan sakit. Kepala Mamao hanya bisa menoleh kanan kiri menahan rasa sakit. Tangan pun tak bisa digerakkan karena terikat di samping kanan kiri meja operasi.Mbak perawat hanya menjawab ‘ sebentar Bu perutnya baru dijahit”.
Ya Allah baru sekali ini Mamao merasakan sakit perih di meja operasi sebelum-sebelumnya perih dirasakan setelah efek bius hilang itupun di bangsal. Sebelumnya pernah membaca artikel semakin sering operasi caesar maka rasa sakitnya juga semakin menjadi-jadi. Tapi Mamao tidak menyangka rasanya bisa sesakit ini.Badan Mamao mulai menggingil kedinginan dan sulit bernafas. Salah seorang paramedis menyarankan agar dokter mempercepat proses menjahit luka operasi. Pukul 12.00 Mamao menuju ruang pemulihan, di sana seorang petugas menanyakan apakah Mamao ada keluhan.
“Saya kedinginan dan perut saya perih sekali’ jawab Mamao. Petugas tersebut kemudian menyelimuti saya dengan selimut berbahan plastik yang terasa berat di badan Mamao. Tapi sekejap badan Mamao tak lagi mengginggil. Wuih canggih jadi penasaran selimut apa ya ini?. Rasanya kayak pakai bantal penghangat punya ibu kalau lagi nyeri pinggang.
“Nanti setelah di bangsal akan diberikan obat pereda nyeri , Bu” tukas petugas tersebut. Ya ampun ini sakitnya sekarang suruh nunggu nanti. Sambil menunggu rasa dingin itu hilang Mamao melirik di bed sebelah juga ada pasien yang tengah pemulihan pasca operasi tapi pasien ini nenek-nenek. Sepertinya beliau dibius total karena sedari tadi belum tersadarkan.
Kurang lebih hampir 1 setengah jam Mamao di kamar pemulihan. Setelah rasa menggingil sudah mereda Mamao dijemput perawat dari bangsal dan di luar pintu operasi Mamao mencari-cari Babah. Ternyata di luar sudah ada Ibu Mertua dan Babah. Ya Allah Mamao ingin sekali peluk Babah kayak mimpi bisa keluar dari ruang operasi dengan selamat karena sempat pesimis dengan rasa sakit selama di ruang operasi. Sampai di kamar bangsal belum juga Babah mengucap banyak kata, perawat sudah datang dan meminta Babah mengurus administrasi kamar bayi. Tinggalah saya berdua dengan ibu Mertua di kamar itu. Ibu Mertua mencoba menenangkan Mamao yang mulai menangis. Sedikit Mamao bercerita apa yang dirasakan selama operasi berlangsung.mungkin seperti Sakaratul maut rasanya. Pelan-pelan ibu mertua menuntun Mamao agar berdzikir. Setelah Mamao agak tenang Ibu Mertua mengatakan kalau bayi Mamao laki-laki.Alhamdulillah akhirnya punya anak cowok.Yes..yes..Haura dan Syakira juga pengen adik cowok.Btw Mamao selama mengandung juga minta sama Allah agar dapat baby boy soalnya selama ini Mamao suka cemburu kalau Babah sangat sayang sama ibunya. Ada ungkapan istri adalah milik suami tapi suami milik ibunya. Trus istrinya punya apa dong?lha kalau nanti haura dan syakira ikut suaminya Istrinya kayak gak dapat apa-apa. Dari ungkapan itu Mamao pengen banget punya anak cowok yang sayang sama Mamanya.
Sampai sore hari Babynya belum juga dibawa ke kamar. Mamao mulai cemas belum lagi pasien di bed sebelah anaknya sudah dibawa ke kamar. Jelang Maghrib Mbah Uti dan Mbah Akung sama anak-anak datang menjenguk. Bapak mencium pipi Mamao sambil berkata “ Selamat ya, Nduk. Apapun keadaannya Bapak bangga sama cucunya,cacat ora popo”
Duerr rasanya waktunya terhenti. Mamao pandangi satu persatu wajah orang di ruangan itu. Bingung tak paham dan lebih sakit lagi,sepertinya hanya Mamaolah satu-satunya yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Gurat-gurat kesedihan jelas nampak diwajah Ibu yang duduk disamping bed Mamao sambil memegang tangan Mamao. Ibu Mertua mulai meneteskan air mata. Anak-anak yang mulai cemas karena sekelilingnya mulai menangis dan terakhir kulihat Babah mulai mengucap sesuatu.
“Ma, anak kita difabel tangan kanannya enggak ada jarinya”kalimat itu muncul dari mulut Babah diikuti ucapan lainnya tapi Mamao tak bisa jelas mendengarnya. Pikiran mendadak kosong. Mamao memejamkan matanya berharap setelah beberapa saat Mamao membuka matanya ucapan tersebut hanya mimpi dan tak pernah terucap. Ketika tengah menutup mata seperti terdengar tangis sesengukan ibu semakin keras. Babah mencoba menguatkan Mamao dan menguatkan dirinya sendiri sepertinya. Nada suaranya pun terdengar lelah. Terbesit rasa marah dalam diri Mamao. Marah kenapa hal ini terjadi pada anaknya, marah pada dirinya sendiri karena terlalu cuek dulu selama mengandung, dan marah kenapa semua orang menyembunyikan hal ini dari Mamao.
“Babah yakin itu anak kita?tanya Mamao setelah mencoba membuka matanya. Namun Mamao kecewa bahwa memang itu kenyataan yang tengah di hadapi.Berharap hal itu kayak di sinetron-sinetron indonesah ada kisah anak yang tertukar di rumah sakit atau film jepang kesukaan Haura, Soshite Chichi Ni Naru. Oia film ini bagus banget lho. Rekomended buat yang suka nonton film asia berkualitas.
“Iya, Ma. Babah yang adzanin.begitu lahir Babah dipanggil dokternya masuk”jawab Babah. Ya Allah kuatkan saya,ada yang harus lebih dikuatkan selain saya, ucap Mamao dalam hatinya.Mamao lihat Babah terlihat letih psikisnya.Ibu yang sangat terpukul dan anak-anak yang entah mereka mengerti atau tidak tapi saya melihat di mata anak-anak mereka takut melihat mamanya terguncang seperti itu. Pelan-pelan Mamao berusaha sekuat tenaga menahan tangis di depan anak-anak.
“Ibu yang sabar, cucunya cacat pasti ada yang membully ibu jangan minder”ucap Mamao sambil mengenggam tangan Ibunya. Waktu terasa berjalan begitu lama. Ketika Bapak Ibu dan anak-anak pulang diantar Babah air mata Mamao tak berhenti menetes. Pikiran Mamao kalut. Karena sampai malam dedek bayinya belum juga diantar ke kamar. Selepas Isya Babah kembali ke RS. Sedikit-sedikit Mamao mencoba bertanya pada Babah seperti apa kondisi bayinya sebenarnya.
“Tangan kanannya enggak ada jarinya ma. Kedua kakinya bengkok dan tulang dadanya ada yang patah” jawab Babah.
“kira-kira ada kelainan lain enggak ,Bah?”selidik Mamao.
“belum tahu, Ma.Semoga saja enggak”kata Babah.
Obrolan terhenti ketika seorang perawat memanggil Babah ke ruang Bayi.Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi di bilik sebelah. Tak terasa air mata Mamao kembali menetes teringat bayinya yang di entah di kamar sebelah mana pasti juga sedang menangis karena haus. Sepertinya karena terlalu lelah dan kebanyakan menangis Mamao tertidur sejenak, Mamao terbangun ketika Babah datang membawa kabar yang tak kalah menyesakkan.
“Bayinya sempat henti nafas,Ma dan ini harus segera dirujuk ke Sardjito”kata Babah.
“Paru-parunya kena juga, Bah?”tanya Mamao
“iya Ma, bayinya kalau nafas kayak kita habis lari. Terenggah-enggah”jelas Babah
“Menurut Mamao gimana?dibawa ke Sardjito atau enggak?”tanya Babah. Pemikiran Mamao dan Babah sejalan, jika ke sardjito biaya akan tambah membengkak. Oh ini yang Mamao enggak suka kalau jadi orang gak berduit. Pilihannya sulit-sulit enggak kayak kuis picisan di sela acara sinetron indonesia.
“Bayi ini entah berumur panjang atau tidak kita tidak tahu, Ma. Tetapi jika memang Allah memintanya dan besok di Yaumul Akhir kita dimintai pertanggungjawabannya, bayi ini bisa tidak menarik kita sebagai orangtuanya karena ikhtiar kita untuk hidupnya hanya setengah-tengah”ujar Babah.
“Sebisa mungkin kita lakukan yang terbaik semampu kita. Hasil Akhirnya pasrahkan ke Allah. Tapi jika memang Allah lebih sayang anak kita Mamao juga harus mengikhlaskan” lanjut Babah
Enggak terasa airmata Mamao kembali mengalir. Entah udah berliter-liter air mata yang tumpah. Bagaimana kita harus belajar mengikhlaskan seseorang pergi padahal belum lama ia singgah di kehidupan Mamao, menyentuhnya pun Mamao belum sempat.
Mamao mengangguk pertanda setuju. Babah bergegas menuju kamar bayi lagi untuk berkoordinasi dengan dokter yang merawat bayi Mamao. Lama rasanya Babah pergi pukul 1 malam Babah kembali membawa kabar.
“Setelah kontak Sardjito ternyata kamar bayi full anak kita tengah diantrikan dapat no 8. Sementara dicoba dirawat di NICU[1] RS ini dulu dan anak kita sekarang sudah punya nama. Namanya Muhammad Syahrul Muharrom”jelas Babah panjang lebar.
Mendengar penjelasan Babah rasa pesimis muncul di benak Mamao. Terselamatkan tidak bayi ini. Pikiran buruk memenuhi kepala Mamao. Bisa jadi Mamao pulang ke rumah tanpa bersama bayi ini.
“Babah sudah hubungi Kyai Chamdani?”tanya Mamao pelan.
“Sudah” jawab Babah pendek sambil menyodorkan isi chat WA Babah dengan Kyai Chamdani.Memang jauh hari sebelum melahirkan Mamao dan Babah memiliki nazar jika nanti anaknya laki-laki untuk pemberian namanya diserahkan kepada beliau Kyai Chamdani. Beliau Kyai pemimpin pondok pesantren tempat Mamao pernah sebentar belajar agama di dusunnya. Lewat beliau pula Mamao dan Babah dipertemukan dan menjadi saksi pernikahan.

Malam terasa sangat lama, beberapa kali Mamao terbangun karena nyeri kontraksi yang datang pergi ketika terbangun pikirannya melayang bertanya-tanya bagaimana keadaan bayinya di NICU separah apakah kondisinya. Ingin sekali rasanya Mamao berlari menuju NICU. Pasti Syahrul kehausan sehabis operasi belum setetes pun ASI masuk ke mulut kecilnya.

Pagi mulai menunjukkan sinar lembutnya. Tapi pagi itu Mamao tidak sedikit pun merasakan sukacita selayaknya ibu yang baru saja melahirkan. Ibu-ibu milenial biasa sehabis bersalin memposting pamer bayi kecilnya di status WA atau di story Facebook, Instagram kalau kelasnya artis malah sudah dibuatkan akun instagram babynya.hahaha.Babah datang sehabis mengantar Kak Haura ke sekolah sambil membawa sarapan untuk ibu mertua.Mamao baru saja dibilas oleh perawat. Barulah Mamao sadar ternyata pasca operasi kemarin Mamao tidak diberi popok dewasa hanya dialasi underpads[1], jadi setelah dibilas dipasang pembalut sendiri. Untung Mamao bawa buat jaga-jaga .Lain rumah sakit lain juga prosedurnya ya.
Siang sebelum sholat Jumat Babah dihubungi perawat yang memberitahukan bahwa dokter spesialis anak sudah datang. Babah bergegas menemui dokter tersebut.Mamao hanya bisa menunggu di kamar. Saya mencoba mengulik keterangan dari ibu mertua tentang fisik Syahrul namun sayang ibu mertua pun belum sempat melihat cucunya tersebut karena kamar bayi dijaga ketat hanya orangtua bayi yang diijinkan masuk. Bahkan kaca jendela pun diblur enggak bisa ngintip-intip.kok enggak difoto jeng?iya itu juga sempat saya protes ke Babah. Tapi jawaban Babah Cuma” Kasihan , Ma. Enggak tega lihatnya”. Ya Mamao berpikir ada benarnya Babah enggak ambil foto Syahrul karena bisa dipastikan Mamao tambah down berat kalau melihat keadaan sebenarnya.
Ba’da sholat Jumat Babah kembali ke kamar dan menceritakan sedikit penjelasan dari dokter anak.
“Sepertinya paru-paru Syahrul bermasalah. Sekarang pake alat bantu pernafasan. Melihat dari hasil USG terlihat ada kebocoran kecil di jantungnya. Tapi dokter jantung di rs ini tidak bisa menjelaskan lebih detil karena alatnya terbatas dan dokter spesialis jantung anak di sini tidak ada adanya di Sardjito.kata Babah panjang lebar.
Ya Allah separah itukah keadaan Syahrul. Meski Babah menenangkan Mamao bahwa lubang di jantungnya hanya 2 mm Mamao tetap menangis. Lha iya, itu jantung bukan balon atau ban kempes yang bocor alus.Di tengah-tengah percakapan tersebut datang dokter esti ke kamar Mamao dikawal 2 orang perawat.Setelah periksa kondisi Mamao sebentar beliau memberikan wejangan ke Mamao.
“Semua itu kehendak Allah. Bila nanti terjadi hal-hal yang terburuk kita sebagai orang yang beriman harus menerimanya sebagai takdir dan insyaAllah menjadi penolong Bapak Ibu di akherat nanti”kata dokter Esti . sebenarnya kata-kata aslinya Mamao agak lupa tapi kurang lebih seperti itu. Mendengar penuturan dokter yang intinya suruh Mamao mengikhlaskan Syahrul pergi tangis Mamao justru makin kencang. Bagaimana tidak, untuk mereka yang paham kondisi medis mungkin juga pesimis dengan kelangsungan hidupnya.
Mamao enggak bisa menggambarkan bagaimana suasana hati Mamao saat itu. Mungkin buat ibu –ibu hebat yang seperjuangan dengan Mamao yang lebih paham.Di saat kondisi yang bener-bener di titik terendah itu Mamao masih harus mencoba memeras ASI. Enggak ada alat jadi pake tangan . entah Mamao yang enggak biasa peras ASI dengan tangan atau memang ASInya yang sedikit. Saat itu ASI yang terkumpul dikit banget enggak ada 5ml.Terpaksa Babah cari donor ASI. Kebetulan punya teman yang anaknya laki-laki juga Cuma rumahnya sekitar 3 km dari rs dan juga teman Mamao sesama wali murid TK Alfatah tempat sekolah TK Kak Haura dulu. Terimakasih Mbak Yanti dan Mama Alie Adnan sudah menjadi ibu susu Syahrul. Babah bela-belain malam-malam ke rumah Mbak Yanti dan Mama Alie ambil ASI perah. Semoga Allah memberkahi kalian dengan anak-anak yang sholeh sholehah, rezeki yang barokah, serta kesehatan untuk terus bermanfaat bagi sekelilingnya.Aamiin.
Hari Sabtu, Mamao sudah bisa berdiri dan belajar berjalan. Hari itu pula dokter menjadwalkan Mamao pulang ke rumah. Cuma Mamao yang pulang Syahrul masih berjuang dengan hidupnya di NICU. Berat dan sedih. Pagi-pagi sekali setelah membersihkan badan, Mamao merengek ke Babah minta di antar ke NICU.Babah kemudian meminjam kursi roda di ruang perawat.ini hari pertama Mamao bertemu Syahrul.Babah sudah mewanti-wanti Mamao agar jangan menangis terlalu ekstrem. Mamao Cuma mengangguk, enggak janji juga sih.hehehe.
Sampai di pintu PICU Mamao mulai deg-degan. Mungkin yang ditakutkan Babah Mamao bisa pingsan atau semacamnya. Di pintu pertama terlihat beberapa bed terisi pasien yang tengah di rawat. Di samping bed terdapat layar monitor entah apa namanya, dan perawat yang tengah mencatat perkembangan pasien di papan besar. Papannya bisa alihfungsi jadi meja sepertinya karena bisa dipindah-pindah. Di ujung ruangan ada kamar berdinding kaca.di pintunya tertulis NICU. Jantung Mamao berdebar-debar dari luar terlihat infant warmer[2] dan bayi berselimut orange. Sebelum memasuki ruang kaca itu mama mencuci tangan dengan sanitizer di dekat pintu. Syahrul tengah tertidur. Badannya kecil sekali. Bahkan wajahnya tak bisa Mamao lihat jelas karena begitu banyaknya piranti medis yang menempel di badannya. Ventilator membantu nafasnya beberapa kali selang yang menempel di hidungnya terlepas. Pelan pelan Babah menyingkapkan selimut berwarna orange tersebut. Satu per satu Babah tunjukkan ke Mamao. Tangan kanannya benar – benar tak tumbuh jari, dada kanannya cekung seolah berlubang karena tulang dada yang tak terbentuk. Terlihat jantungnya ikut mengembung ke permukaan bila Syahrul tengah menangis dan terakhir kedua kakinya yang bengkok ke dalam. Ya Allah angkat sakitnya, angkat penderitaannya. Jika memang engkau menghendaki bawalah pulang ke PangkuanMU.Doa Mamao lirih tak mampu menahan rasa pedih. Mamao ingin sekali menciumnya tapi apadaya Mamao pendek jadi enggak nyampe Cuma bisa mengelus-elus pipinya.Tapi jauh di lubuk hati Mamao tumbuh keyakinan, Syahrul bisa sehat. Enggak apa-apa cacat fisiknya namun Mamao juga mulai belajar mengikhlaskan bila sesuatu yang buruk terjadi. Melihat keadaannya saat itu tidak mungkin Syahrul bisa pulang ke rumah bareng Mamao
Menjelang siang Babah merampungkan administrasi untuk kepulangan Mamao. YA Allah rasanya nano-nano seneng bisa lihat rumah kumpul sama Kak Haura dan Syakira tapi Sedih ingat Syahrul di sini sendirian. Kebayang sanak keluarga nanti yang datang ke rumah menanyakan macam-macam.Pikirannya bercabang tak karuan. Saat ini mental Mamao harus sekuat baja. Bully atau nyinyiran orang-orang di luar sana harus Mamao berani hadapi. Tapi kenyataan tidak semudah itu Ferguso!, rasa sedih itu tetap tidak bisa disembunyikan, terlebih saat kakak sulung Mamao yang baru pulang dari Bogor datang untuk menjemput Mamao. Tangis Mamao kembali pecah.
“Kita hadapi bareng-bareng”ujar Mas Sus seraya memeluk adik bungsunya tersebut.Pukul 14.00 administrasi selesai Babah melapor ke perawat jaga untuk serah terima pasien. Mamao diantar menggunakan kursi roda menuju loby rumah sakit. Dalam perjalanan menuju loby tersebut Mamao berbincang sejenak dengan perawat tersebut.
“Mbak, rumah sakit segede gini apa enggak pernah ada perawat atau dokter yang tersesat?” tanya Mamao.
“Ya, satu dua pernah , Bu, tapi ya selama masih ada jalan pasti enggak jadi tersesat paling Cuma muter-muter lebih jauh”jawab perawat tersebut sambil tertawa kecil.  Aah kata-kata perawat ini filosofis sekali, seolah berusaha menentramkan hati Mamao atau Mamao saja yang lagi baper?.Sesampai di loby sebelum perawat itu kembali masuk ke bangsal untuk melanjutkan tugasnya beliau berpesan sesuatu pada Mamao.
“Saya yakin ada rasa kecewa pada diri Ibu, tapi ingat Allah selalu memberikan masalah pasti satu paket dengan solusinya”kata perawat itu, kali ini kata-katanya terdengar dari hati tak sekedar basa-basi belaka. Yah, Mamao merasa hampir semua perawat yang merawat dirinya melihat dirinya dengan rasa iba, tak sedikit yang menguatkan dan memberi dukungan moril. Tapi perawat yang satu ini menyampaikan dengan penuh rasa tulus.


[1] Semacam alas yang dapat menyerap cairan dengan cepat dan mudah.
[2]Alat penghangat bayi



[1] Neonatal intensive care unit adalah ruang perawatan intensif di rumah sakit yang disediakan khusus untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan.

Detik-Detik Menegangkan


Operasi caesar dijadwalkan pukul 9 pagi. Tapi sejak semalam infus sudah terpasang di tangan kanan Mamao. Tengah malam Mamao sudah diharuskan puasa. Sebenarnya malam sebelum melahirkan itu Mamao berniat bermalam sendiri sedangkan Babah di rumah bersama anak-anak. Meskipun di rumah ada Mbah Akung dan mbah Utinya, Mamao bersikeras agar Babah malam itu di rumah biar anak-anak tidak merasa sendiri. Tapi bada Isya Babah datang katanya enggak tega Mamao tidur sendiri di ruangan itu. Weew padahal di ruangan itu ada satu pasien lain. Yah meskipun menurut perawat pasien itu sedang di ruang bersalin. “Lha terus besok enggak jualan Bah?” tanya Mamao. “Jualan, Ma. Besok pagi –pagi sekali Babah pulang” jawab Babah. “Enggak ngrepotin mbak perawat bah jam 3 pagi pulang?” tanya Mamao lagi. Oh iya di bangsal khusus bersalin ini pintu keluar masuknya dijaga ketat. Hanya yang ber-id card RS yang bisa buka tutup pintu. Pernah waktu itu Mamao tanya alasannya karena di bangsal tersebut ada bayi jadi rawan terjadi pencurian bayi.ooohgitu toh. Apakah pernah ada kasus pencurian bayi?hehe yang itu saya enggak nanya,dan benar saja jam 3 pagi Mamao bangunkan Babah untuk segera pulang masak sari kacang ijo.Sayang kalo jualan. Sehabis antar Kak  Haura sekolah Babah balik lagi ke RS nungguin Mamao. Perawat beberapa kali ngecek kandungan Mamao karena kenceng-kenceng mulai intens. Bahkan ketika perawat datang membawa baju ganti untuk operasi tiba-tiba keluar cairan.Mamao panik.
“Apa ini yang keluar ya mbak?Darahkah atau ketuban?”tanya saya cemas.Perawat kemudian mengecek apakah itu adalah cairan ketuban atau tidak.Setelah diperiksa dengan kertas semacam kertas Lakmus[1] ternyata itu hanya cairan biasa bukan ketuban. Pukul 10 pagi Mamao diantar beberapa perawat menuju ruang operasi. Sebelum masuk ruang persiapan operasi Babah sempat mengajak Mamao berdoa semoga operasinya lancar.Tegang.bener deh meski udah pernah 2 kali operasi caesar  tapi di operasi ini tegang karena perut udah mulai kencang-kencang. Di ruang persiapan operasi sempat diperiksa lagi oleh perawat, detak jantungnya sempat kesulitan di deteksi Fetal Doppler[2] karena perutnya kenceng banget. Kurang lebih hampir 1 jam di ruang persiapan tambah bikin tegang kok lama ya?dokternya pada belum datang atau gimana ini.Sambil merasakan perut yang udah enggak nyaman pandangan Mamao tertuju pada bed di sebelah. Bapak-bapak sudah sepuh. Entah mau operasi apa. Dari sebelum Mamao masuk ruangan itu bapak itu selalu terpejam matanya.Bapaknya sadar enggak ya itu atau kondisi udah gak sadar, batinku. Hampir pukul 11 beberapa perawat cowok mulai membawa Mamao ke ruang operasi. Beberapa pisau bedah sudah tertata di samping meja operasi. Segera Mamao dipindah ke meja operasi dengan dibantu paramedis di ruang operasi berjubah ijo-ijo,bahkan kepalanya juga ditutup dengan nurse cap[3] warna ijo.Kedua tangan diikat disisi samping meja operasi dan di tangan kanan terpasang tensimeter yang terhubung ke sebuah mesin.Selang oksigen mulai dipasang ke hidung Mamao. Sambil mencoba agar Mamao lebih relaks beberapa orang di ruangan itu mencoba mengajak Mamao berbincang sejenak. Tapi dasar Mamao hearing loss beberapa kali percakapan menjadi enggak nyambung. Hahaha. Maafkan saya mas-mas.Tak lama dokter anestesi datang, beliau mengajukan beberapa pertanyaan tentang pengalaman Mamao anestesi sebelum-sebelumnya. Ada riwayat alergi?dulu operasi dimana?oh yang ini agak malu-malu Mamao jawabnya saat dokter anestesi tanya” Lha kok sekarang operasi di sini”?Mamao jawab sok diplomatis. “Dulu dijamin perusahaan pak jadi cari rumah sakitnya yang kerjasama sama assurance kantor”. Aslinya “sini yang paling murah Pak”. Hahaha. Untung dokternya enggak korek-korek lagi. Setelah siap dokter tersebut memberikan bantal agar bisa Mamao peluk saat menahan sakit suntik anestesi di tulang belakang. Buat yang sudah pernah operasi caesar pasti tahu posisi saat suntik anestesi bukan posisi yang nyaman untuk ibu hamil dengan perut besar masih harus suruh duduk tegak. Jadi kalau masih ada yang bilang melahirkan melalui oprasi caesar itu  tidak bisa dibilang seorang ibu sejati, sini saya bantuin sayat perutnya 20 cm terus hari kedua pasca operasi harus sudah bisa berdiri. Rasanya enggak kalah WOW dengan rasa sakit ibu yang melahirkan secara normal. Karena pasca operasi masih harus merasakan kontraksi dan perihnya luka operasi. Belum lagi resiko infeksi luka operasi.fuih.Ditambah urat malunya harus diputus. Di ruang operasi bener-bener telanjang dan kita enggak bisa milih paramedis harus cewek semua. Malah hampir 75% cowok di ruang operasi saat itu.
Selesai suntik anestesi beberapa paramedis berjubah hijau yang masuk ke ruangan operasi.Badan Mamao mulai mati rasa. Dokter mengecek apakah anestesi sudah mulai bekerja dengan meminta Mamao mengangkat kaki ke atas. Bila sudah tidak bisa  .pertanda anestesi sudah bekerja dan operasi bisa segera dilakukan.Seorang wanita meraih tangan kiri saya dan menyarankan agar saya tenang dan mulai berdoa.Di kemudian hari nanti Mamao baru akan mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Bidan senior di RSA. “Kok malah keringetan ini tangannya?Takut apa?” tanya wanita itu
“Cuma tegang kok”jawab Mamao dengan senyum agak dipaksakan karena saking tegangnya.
“Jadi disteril, Bu?”tanya sesosok wanita lainnya di sebelah wanita tadi dan ternyata wanita itu adalah dokter Esti.
“Ya, Dok” jawab Mamao singkat sambil mengangguk pelan. Sesaat kemudian operasi dimulai meski dibius Mamao masih bisa merasakan ketika paramedis itu mencoba memasang kateter. Alhamdulillah dipasang dalam kondisi bius. Dulu sewaktu operasi caesar Syakira kateter dipasang ketika Mamao masih berada di bangsal. Sakitnya bukan main.Setelah itu dokter mulai membuat sayatan diatas tulang kemaluan Mamao merasa ada yang menggaris-garis perutnya. Mamao hanya bisa memejamkan mata dan menoleh ke kiri atau ke kanan karena bila melihat ke atas ada lampu operasi yang memantulkan kondisi perutnya yang tengah dibedah.Ada hal yang membuat Mamao tak habis pikir ternyata selama operasi berlangsung paramedis tersebut juga diselingi obrolan ringan. Ada yang ngobrolin dokter yang ini gini nih kalo operasi kalo dokter itu biasanya gini. Hadeh Mamao jadi berasa kayak ayam potong yang lagi dipotong-potong sama bakul daging ayam, ditinggal ngobrol sama pelanggannya.Kira-kira 20 menit kemudian paramedis tersebut memberi aba-aba, sepertinya Dedek bayi siap diangkat. 3 orang di atas kepala Mamao turut mendorong perut Mamao.Mamao sempat mengaduh kesakitan. Rasanya kayak ada yang menarik badan Mamao tapi berat banget lepasnya. Selesai mendorong 3 orang yang mendorong dari atas dada Mamao mengucap maaf ‘Maaf ya Bu agak sakit”. Mamao hanya mengangguk pelan. Namun ada membingungkan Mamao.Mamao tak mendengar suara tangis bayi.Mamao memang Hearing Loss tapi beberapa pembicaraan para medis barusan Mamao dengar tapi masak suara bayi tidak terdengar?


[1] Kertas dari bahan kimia yang akan berubah warna jika dicelupkan ke dalam larutan asam atau basa.
[2] Alat yang berfungsi mendeteksi dan mengghitung detak jantung janin dalam kandungan.
[3] Pelindung kepala sekali pakai yang sering digunakan para petugas medis di ruang operasi

Hunting Tempat Bersalin


Singkat cerita kehamilan Mamao lalui dengan biasa-biasa saja.Karena banyak yang lupa. Menginjak usia 5 bulan pola makan Mamao sudah normal. Hanya pergerakan yang terbatas karena untuk jalan perut bagian bawah serasa menganjal dan bidan menyatakan itu normal begitu pula dengan ‘beser’ Mamao dianggap normal oleh bidan.okelah, hingga sampailah pada usia kehamilan 34 minggu. Perutnya udah mulai kecang-kencang tak teratur. Segera Mamao mencari SpoG . saat itu Babah tengah mudik ke Temanggung, selepas Maghrib Mamao baru bisa memeriksakan diri ke dokter. Karena sudah malam dokter Esti pun tidak praktek Mamao cuzz ke RS Sakina Idaman, sekalian survey tempat melahirkan di sana.ternyata Mamao mendapat no antrian paling buntut.Saking lamanya si kecil Syasya merengek minta pulang. Padahal belum ada setengah jam nunggunya.Terpaksa Babah mengantar pulang si Syasya,sementara Haura bersikeras tetap bertahan mau ikut periksa.Katanya pengen lihat adik bayi.hehehe.Sambil berjalan ke arah tempat parkir Babah menyempatkan diri tanya-tanya tentang biaya bersalin di gedung barat RS Sakina Idaman. Untuk rinciannya mohon maaf sekali teman, sudah terhapus di file hp Babah. Tapi seinget Mamao untuk biaya persalinan caesar kelas 3 kisaran Rp 12 jutaan.Melotot mata Mamao denger angka segitu. Oh oke masih ada beberapa RS yang mau  disurvei, jadi Mamao save dulu pilihan di Sakina. Bukan kenapa-kenapa , Bu secara Mamao tidak punya jaminan sama sekali jadi cari biaya persalinan yang murmer.hehehe.Enggak pake lama Babah udah balik lagi ke Sakina setelah antar si Syasya. Tepat pukul 22 Mamao baru dipanggil ke ruang periksa. Dokter Ami ramah. Cuma sepertinya beliau agak terburu-buru meriksanya. Padahal saya pasien terakhirnya.”Dok, tolong jangan kasih tahu jenis kelaminnya ya, biar surprise” kata Babah sebelum dokter Ami mengoleskan gel USG ke alatnya.”Oh iya-iya bisa” jawab dokter Ami. Tak ada penjelasan panjang lebar dokter Ami pun mengatakan kencang-kencang yang Mamao alami masih normal hanya bila dalam beberapa hari nanti intensitasnya semakin sering harus segera dibawa ke UGD agar diberi obat pereda kontraksi. Karena usia kehamilan masih belum cukup umur jadi harus dipertahankan. “Saya perlu diet enggak dok?” tanya Mamao. “Enggak usah belum gede-gede amat janinnya”jawab dokter Ami. Di sini Mamao agak heran karena riwayat dua kehamilan sebelumnya Mamao disuruh diet karena janin besar. Tapi okelah Mamao jadi bisa melanjutkan hobi ngemil tanpa khawatir janinnya kebesaran. Sabar ya nak belum saatnya kita bertemu.
Akhir bulan Agustus Mamao mencoba mencari informasi biaya melahirkan di RS Queen Latifa. Sepulang antar kakak Haura sekolah, Mamao, Babah dan Syasya menuju rumah sakit di kawasan ringroad tersebut. Dulu pas hamilnya Syasya Mamao pernah bed rest dan di rawat beberapa hari di Queen Latifa. Pengalaman di rawat di sana yang membuat Mamao menjadikan alternatif pilihan setelah sakina idaman. Tapi ada tapinya nih biaya melahirkan di sini ternyata selisih sedikit dengan sakina dan minusnya adalah jarak rs dengan rumah lumayan jauh. Oke rankingnya jadi di bawah sakina deh.
Tanggal 2 September 2019. Semakin mendekati HPL kenceng-kenceng udah semakin terasa. Mamao memutuskan ke RSA UGM untuk kontrol sekaligus nanya-nanya biaya melahirkan di sana. Tidak pakai lama Mamao dipanggil masuk ke ruang periksa dr Esti.Setelah diperiksa dr Esti langsung menyarankan minggu ini juga harus segera di operasi karena Mamao sudah kenceng-kenceng. Hadeuh...
“Dok kalo senin depan gimana dok?” nego Babah
“Enggak bisa pak, keburu kontraksi ini ketebalan rahimnya gak ada 2 mm saya khawatir beresiko kalau ditunda minggu depan” jawab dr Esti.
Setelah diskusi singkat Mamao dan Babah memutuskan tanggal 5 September 2019 dilakukan operasi. Pada tanggal 4 September sore Mamao mulai masuk opname.Oia Mamao akhirnya memutuskan melahirkan di RSA ugm karena dari tiga rumah sakit yang didatangi ini yang paling murah.Hahaha aduh emak-emak.
USG sebelum operasi

Jumat, 03 April 2020

NAPAK TILAS DI PUSKESMAS


Cerita sedikit, kenapa Mamao sebut napak tilas. Karena di Puskesmas inilah pertama kalinya Mamao bertemu secara jelas selama taaruf dengan Babah. Jadi, selama taaruf Mamao dan Babah hampir tidak pernah bertatap muka. Lha dulu gak dilihatin mukanya, Mbak?. Lihatlah tapi Cuma sekilas jadi muka detilnya gak paham. Ada jerawat enggak ada tahi lalat berapa enggak tahu.Hehehe. Nah di puskesmas inilah pas pemeriksaan caten barulah Mamao paham ternyata seperti itulaah Babah.
Seminggu sebelum ramadhan sekitar akhir bulan April 2019  sempet kontrol ke Puskesmas gegara di kontrol sebelumnya di RS suruh ke Puskesmas biar dapat buku KIA.Pengalaman dulu pernah anterin ibue ke Puskesmas kebayang dengan antrian panjang jadi milih deh 'sowan' ke Puskesmas lebih pagi.habis anter Kak Haura langsung cuss ke Puskesmas biar jemput sekolahnya nanti gak telat.Sesampainya di sana Puskesmas udah ramai sangat macam pasar dadakan.Tapi ternyata proses dari daftar sampai ke poli KIA ternyata gak selama yang Mamao  duga.gak nyampe 15 menit Mamao sudah dipanggil sama asisten bidan masuk ke ruang periksa.wuiih canggih agak beda sama Puskesmas deket rumah.Puskesmas ini agak jauh tapi prosedurnya lebih rapi.Love it..
Setelah ditanyain macem-macem sama Bu bidan akhirnya Mamao harus dirujuk ke lab,bagian gizi,dokter gigi,sama dokter umum baru nanti balik lagi ke poli KIA buat dapetin buku KIA.
Sampai di sini Mamao mulai rewel kok harus pake ini itu yah belum lagi hearing loss Mamao baru kumat.jadilah Babah yang jadi penerjemah Mamao dan para medis di puskesmas,tambah pusing kepala saya..
Di bagian lab MAmao tes urine dan darah..duh gak percaya amat Bu bidan udah Segede balon juga."wis ngikut aja, ma..."kata Babah .angguk -angguk deh.habis hasil lab keluar Alhamdulillah hasilnya +,Nek negatif bisa dikira bikin hoaxs Mamao sama Bu bidan.heehehe
Lanjut ke bagian Gizi,dokternya muda ramah juga.saranin supaya banyakin buah dan sayur.nah pas dokternya 'ngomel' gini si kecil Syasya colek Mamao "tu kan Ma gak doyan sayur buah,kan sehat".hehe Mamao nyengir doang."kalo gak suka bisa diganti pake kacang-kacangan,kacang kedelai kacang hijau bagus banget itu buat ganti asupan gizi dari buah sayur bagus buat janin".giliran BAbah yang lirik-lirik ke Mamao "tuh kan..".nyengir lagi Mamao, .Bu dokternya belum tau kalo lagi ngobrol sama bakul kacang ijo,pasiennya bisa jadi pasar sasaran nih..
Selesai di ruang gizi lanjut di poli gigi,cuma diliat giginya yang bolong berapa yang sehat berapa.nyambung gak sih sama KIA?.manut aja Ma..celoteh Babah denger keluhan Mamao lagi.Di bagian umum cuma ngobrol ringan dengan dokternya soalnya Mamao juga udah gak ada keluhan...cuma keluhan laper sama bete aja hahaha.
Akhirnya balik lagi ke poli KIA setelah menjalani berbagai prosesi itu akhirnya dapet juga buku pink-nya,yeeay... pulang.
Mamao sama si kecil Syasya beli bakso tusuk di depan Puskesmas sambil nunggu Babah antri pembayaran dan obat.
"Bu..Bu "terdengar mas mas pake seragam sebuah dealer motor yang tengah pameran di halaman Puskesmas memanggil Mamao.agak celingukan juga lha Mamao kalo lagi kumat gini suka bingung cari sumber suara.
"Bu bisa minta tolong foto di deket motor?"pintanya sambil menyerahkan brosur produk motor buatan Jepang itu.
"Lha mas saya gak mau beli motor,kok"jawab Mamao polos.
"Lha gak apa-apa Bu,cuma buat laporan kantor aja"kata mas sales motor itu sambil mulai ambil gambar pake handphonenya.
Akhirnya difoto juga Mamao  dengan senyum aneh.karena merasa ikut persekongkolan sales itu ngakalin bosnya.coba Mamao pas bawa produk Sarkijo masnya pasti langsung tak suruh pose juga sama botol Sarkijo.Ini dia penampakan buku KIA Mamao 

ik ke topik awal. Seminggu sebelum ramadhan sekitar akhir bulan April 2019  sempet kontrol ke Puskesmas gegara di kontrol sebelumnya di RS suruh ke Puskesmas biar dapat buku KIA.Pengalaman dulu pernah anterin ibue ke Puskesmas kebayang dengan antrian panjang jadi milih deh 'sowan' ke Puskesmas lebih pagi.habis anter Kak Haura langsung cuss ke Puskesmas biar jemput sekolahnya nanti gak telat.Sesampainya di sana Puskesmas udah ramai sangat macam pasar dadakan.Tapi ternyata proses dari daftar sampai ke poli KIA ternyata gak selama yang Mamao  duga.gak nyampe 15 menit Mamao sudah dipanggil sama asisten bidan masuk ke ruang periksa.wuiih canggih agak beda sama Puskesmas deket rumah.Puskesmas ini agak jauh tapi prosedurnya lebih rapi.Love it..
Setelah ditanyain macem-macem sama Bu bidan akhirnya Mamao harus dirujuk ke lab,bagian gizi,dokter gigi,sama dokter umum baru nanti balik lagi ke poli KIA buat dapetin buku KIA.
Sampai di sini Mamao mulai rewel kok harus pake ini itu yah belum lagi hearing loss Mamao baru kumat.jadilah Babah yang jadi penerjemah Mamao dan para medis di puskesmas,tambah pusing kepala saya..
Di bagian lab MAmao tes urine dan darah..duh gak percaya amat Bu bidan udah Segede balon juga."wis ngikut aja, ma..."kata Babah .angguk -angguk deh.habis hasil lab keluar Alhamdulillah hasilnya +,Nek negatif bisa dikira bikin hoaxs Mamao sama Bu bidan.heehehe
Lanjut ke bagian Gizi,dokternya muda ramah juga.saranin supaya banyakin buah dan sayur.nah pas dokternya 'ngomel' gini si kecil Syasya colek Mamao "tu kan Ma gak doyan sayur buah,kan sehat".hehe Mamao nyengir doang."kalo gak suka bisa diganti pake kacang-kacangan,kacang kedelai kacang hijau bagus banget itu buat ganti asupan gizi dari buah sayur bagus buat janin".giliran BAbah yang lirik-lirik ke Mamao "tuh kan..".nyengir lagi Mamao, .Bu dokternya belum tau kalo lagi ngobrol sama bakul kacang ijo,pasiennya bisa jadi pasar sasaran nih..
Selesai di ruang gizi lanjut di poli gigi,cuma diliat giginya yang bolong berapa yang sehat berapa.nyambung gak sih sama KIA?.manut aja Ma..celoteh Babah denger keluhan Mamao lagi.Di bagian umum cuma ngobrol ringan dengan dokternya soalnya Mamao juga udah gak ada keluhan...cuma keluhan laper sama bete aja hahaha.
Akhirnya balik lagi ke poli KIA setelah menjalani berbagai prosesi itu akhirnya dapet juga buku pink-nya,yeeay... pulang.
Mamao sama si kecil Syasya beli bakso tusuk di depan Puskesmas sambil nunggu Babah antri pembayaran dan obat.
"Bu..Bu "terdengar mas mas pake seragam sebuah dealer motor yang tengah pameran di halaman Puskesmas memanggil Mamao.agak celingukan juga lha Mamao kalo lagi kumat gini suka bingung cari sumber suara.
"Bu bisa minta tolong foto di deket motor?"pintanya sambil menyerahkan brosur produk motor buatan Jepang itu.
"Lha mas saya gak mau beli motor,kok"jawab Mamao polos.
"Lha gak apa-apa Bu,cuma buat laporan kantor aja"kata mas sales motor itu sambil mulai ambil gambar pake handphonenya.
Akhirnya difoto juga Mamao  dengan senyum aneh.karena merasa ikut persekongkolan sales itu ngakalin bosnya.coba Mamao pas bawa produk Sarkijo masnya pasti langsung tak suruh pose juga sama botol Sarkijo.I
ni dia penampakan buku KIA Mamao