Singkat cerita kehamilan Mamao lalui dengan biasa-biasa saja.Karena
banyak yang lupa. Menginjak usia 5 bulan pola makan Mamao sudah normal. Hanya
pergerakan yang terbatas karena untuk jalan perut bagian bawah serasa menganjal
dan bidan menyatakan itu normal begitu pula dengan ‘beser’ Mamao dianggap
normal oleh bidan.okelah, hingga sampailah pada usia kehamilan 34 minggu.
Perutnya udah mulai kecang-kencang tak teratur. Segera Mamao mencari SpoG .
saat itu Babah tengah mudik ke Temanggung, selepas Maghrib Mamao baru bisa
memeriksakan diri ke dokter. Karena sudah malam dokter Esti pun tidak praktek
Mamao cuzz ke RS Sakina Idaman, sekalian survey tempat melahirkan di
sana.ternyata Mamao mendapat no antrian paling buntut.Saking lamanya si kecil
Syasya merengek minta pulang. Padahal belum ada setengah jam nunggunya.Terpaksa
Babah mengantar pulang si Syasya,sementara Haura bersikeras tetap bertahan mau
ikut periksa.Katanya pengen lihat adik bayi.hehehe.Sambil berjalan ke arah
tempat parkir Babah menyempatkan diri tanya-tanya tentang biaya bersalin di
gedung barat RS Sakina Idaman. Untuk rinciannya mohon maaf sekali teman, sudah
terhapus di file hp Babah. Tapi seinget Mamao untuk biaya persalinan caesar
kelas 3 kisaran Rp 12 jutaan.Melotot mata Mamao denger angka segitu. Oh oke
masih ada beberapa RS yang mau disurvei,
jadi Mamao save dulu pilihan di Sakina. Bukan kenapa-kenapa , Bu secara Mamao
tidak punya jaminan sama sekali jadi cari biaya persalinan yang
murmer.hehehe.Enggak pake lama Babah udah balik lagi ke Sakina setelah antar si
Syasya. Tepat pukul 22 Mamao baru dipanggil ke ruang periksa. Dokter Ami ramah.
Cuma sepertinya beliau agak terburu-buru meriksanya. Padahal saya pasien
terakhirnya.”Dok, tolong jangan kasih tahu jenis kelaminnya ya, biar surprise”
kata Babah sebelum dokter Ami mengoleskan gel USG ke alatnya.”Oh iya-iya bisa”
jawab dokter Ami. Tak ada penjelasan panjang lebar dokter Ami pun mengatakan
kencang-kencang yang Mamao alami masih normal hanya bila dalam beberapa hari
nanti intensitasnya semakin sering harus segera dibawa ke UGD agar diberi obat
pereda kontraksi. Karena usia kehamilan masih belum cukup umur jadi harus
dipertahankan. “Saya perlu diet enggak dok?” tanya Mamao. “Enggak usah belum
gede-gede amat janinnya”jawab dokter Ami. Di sini Mamao agak heran karena
riwayat dua kehamilan sebelumnya Mamao disuruh diet karena janin besar. Tapi
okelah Mamao jadi bisa melanjutkan hobi ngemil tanpa khawatir janinnya
kebesaran. Sabar ya nak belum saatnya kita bertemu.
Akhir bulan Agustus Mamao mencoba mencari informasi biaya
melahirkan di RS Queen Latifa. Sepulang antar kakak Haura sekolah, Mamao, Babah
dan Syasya menuju rumah sakit di kawasan ringroad tersebut. Dulu pas hamilnya
Syasya Mamao pernah bed rest dan di rawat beberapa hari di Queen Latifa.
Pengalaman di rawat di sana yang membuat Mamao menjadikan alternatif pilihan
setelah sakina idaman. Tapi ada tapinya nih biaya melahirkan di sini ternyata
selisih sedikit dengan sakina dan minusnya adalah jarak rs dengan rumah lumayan
jauh. Oke rankingnya jadi di bawah sakina deh.
Tanggal 2 September 2019. Semakin mendekati HPL kenceng-kenceng
udah semakin terasa. Mamao memutuskan ke RSA UGM untuk kontrol sekaligus
nanya-nanya biaya melahirkan di sana. Tidak pakai lama Mamao dipanggil masuk ke
ruang periksa dr Esti.Setelah diperiksa dr Esti langsung menyarankan minggu ini
juga harus segera di operasi karena Mamao sudah kenceng-kenceng. Hadeuh...
“Dok kalo senin depan gimana dok?” nego Babah
“Enggak bisa pak, keburu kontraksi ini ketebalan rahimnya gak
ada 2 mm saya khawatir beresiko kalau ditunda minggu depan” jawab dr Esti.
Setelah diskusi singkat Mamao dan Babah memutuskan tanggal 5
September 2019 dilakukan operasi. Pada tanggal 4 September sore Mamao mulai
masuk opname.Oia Mamao akhirnya memutuskan melahirkan di RSA ugm karena dari
tiga rumah sakit yang didatangi ini yang paling murah.Hahaha aduh emak-emak.
USG sebelum operasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar