Senin, 06 April 2020

Hunting Tempat Bersalin


Singkat cerita kehamilan Mamao lalui dengan biasa-biasa saja.Karena banyak yang lupa. Menginjak usia 5 bulan pola makan Mamao sudah normal. Hanya pergerakan yang terbatas karena untuk jalan perut bagian bawah serasa menganjal dan bidan menyatakan itu normal begitu pula dengan ‘beser’ Mamao dianggap normal oleh bidan.okelah, hingga sampailah pada usia kehamilan 34 minggu. Perutnya udah mulai kecang-kencang tak teratur. Segera Mamao mencari SpoG . saat itu Babah tengah mudik ke Temanggung, selepas Maghrib Mamao baru bisa memeriksakan diri ke dokter. Karena sudah malam dokter Esti pun tidak praktek Mamao cuzz ke RS Sakina Idaman, sekalian survey tempat melahirkan di sana.ternyata Mamao mendapat no antrian paling buntut.Saking lamanya si kecil Syasya merengek minta pulang. Padahal belum ada setengah jam nunggunya.Terpaksa Babah mengantar pulang si Syasya,sementara Haura bersikeras tetap bertahan mau ikut periksa.Katanya pengen lihat adik bayi.hehehe.Sambil berjalan ke arah tempat parkir Babah menyempatkan diri tanya-tanya tentang biaya bersalin di gedung barat RS Sakina Idaman. Untuk rinciannya mohon maaf sekali teman, sudah terhapus di file hp Babah. Tapi seinget Mamao untuk biaya persalinan caesar kelas 3 kisaran Rp 12 jutaan.Melotot mata Mamao denger angka segitu. Oh oke masih ada beberapa RS yang mau  disurvei, jadi Mamao save dulu pilihan di Sakina. Bukan kenapa-kenapa , Bu secara Mamao tidak punya jaminan sama sekali jadi cari biaya persalinan yang murmer.hehehe.Enggak pake lama Babah udah balik lagi ke Sakina setelah antar si Syasya. Tepat pukul 22 Mamao baru dipanggil ke ruang periksa. Dokter Ami ramah. Cuma sepertinya beliau agak terburu-buru meriksanya. Padahal saya pasien terakhirnya.”Dok, tolong jangan kasih tahu jenis kelaminnya ya, biar surprise” kata Babah sebelum dokter Ami mengoleskan gel USG ke alatnya.”Oh iya-iya bisa” jawab dokter Ami. Tak ada penjelasan panjang lebar dokter Ami pun mengatakan kencang-kencang yang Mamao alami masih normal hanya bila dalam beberapa hari nanti intensitasnya semakin sering harus segera dibawa ke UGD agar diberi obat pereda kontraksi. Karena usia kehamilan masih belum cukup umur jadi harus dipertahankan. “Saya perlu diet enggak dok?” tanya Mamao. “Enggak usah belum gede-gede amat janinnya”jawab dokter Ami. Di sini Mamao agak heran karena riwayat dua kehamilan sebelumnya Mamao disuruh diet karena janin besar. Tapi okelah Mamao jadi bisa melanjutkan hobi ngemil tanpa khawatir janinnya kebesaran. Sabar ya nak belum saatnya kita bertemu.
Akhir bulan Agustus Mamao mencoba mencari informasi biaya melahirkan di RS Queen Latifa. Sepulang antar kakak Haura sekolah, Mamao, Babah dan Syasya menuju rumah sakit di kawasan ringroad tersebut. Dulu pas hamilnya Syasya Mamao pernah bed rest dan di rawat beberapa hari di Queen Latifa. Pengalaman di rawat di sana yang membuat Mamao menjadikan alternatif pilihan setelah sakina idaman. Tapi ada tapinya nih biaya melahirkan di sini ternyata selisih sedikit dengan sakina dan minusnya adalah jarak rs dengan rumah lumayan jauh. Oke rankingnya jadi di bawah sakina deh.
Tanggal 2 September 2019. Semakin mendekati HPL kenceng-kenceng udah semakin terasa. Mamao memutuskan ke RSA UGM untuk kontrol sekaligus nanya-nanya biaya melahirkan di sana. Tidak pakai lama Mamao dipanggil masuk ke ruang periksa dr Esti.Setelah diperiksa dr Esti langsung menyarankan minggu ini juga harus segera di operasi karena Mamao sudah kenceng-kenceng. Hadeuh...
“Dok kalo senin depan gimana dok?” nego Babah
“Enggak bisa pak, keburu kontraksi ini ketebalan rahimnya gak ada 2 mm saya khawatir beresiko kalau ditunda minggu depan” jawab dr Esti.
Setelah diskusi singkat Mamao dan Babah memutuskan tanggal 5 September 2019 dilakukan operasi. Pada tanggal 4 September sore Mamao mulai masuk opname.Oia Mamao akhirnya memutuskan melahirkan di RSA ugm karena dari tiga rumah sakit yang didatangi ini yang paling murah.Hahaha aduh emak-emak.
USG sebelum operasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar