Jumat, 17 April 2020

5 Hari di NICU


Sesampai di rumah Bulik-bulik dan Om-om Mamao mulai berdatangan menengok. Mamao tahu melihat dari mata mereka ada sejuta tanya yang ingin diutarakan tapi mereka pendam. Mereka meredam dengan kata “Nggak apa-apa”. Asli memang maksud mereka mencoba untuk menghibur Mamao tapi frase itu justru menunjukkan bahwa mereka memandang masalah Mamao adalah masalah kecil. Aah apa lagi-lagi karena Mamao lagi sensitif jadi mudah baper?.entahlah. Rasanya badan di rumah tapi pikiran di rumah sakit. Begitu sampai di rumah Mamao berusaha memeras ASI sebanyak mungkin. Karena hanya ASI – lah sekarang yang bisa menolong Syahrul bertahan hidup.
Selepas Isya Ibu mengumpulkan bulik-bulik dan om-om untuk melakukan doa bersama untuk kesembuhan Syahrul. Tangis kembali pecah meski para bulik dan om belum tahu persis seperti apa kondisi Syahrul mereka turut menumpahkan air mata. Selesai doa bersama Mamao dan Babah kembali ke RS mengantar ASI. Beberapa botol di antaranya ASI perah dari Mbak Yanti dan Mama Alie. Setelah menyerahkan ASI perah dan sabun bayi Mamao bergegas menuju kamar NICU tempat Syahrul dirawat. Penutup kepalanya yang berwarna orange terlihat begitu besar di kepala Syahrul yang mungil. Wajahnya nyaris tak terlihat karena besarnya selang ventilator[1].Selang NGT[2] di mulutnya.Tangan kanannya masih tertancap selang infus. Dadanya pun disematkan beberapa bilah kabel. Kakinya di jepit alat oksimetri[3]. Perawat tengah mengganti popok Syahrul. Selesai mengganti popok, Syahrul kembali dibedong. Mamao sedikit bernafas lega, karena pemandangan yang memilukan itu telah tertutup oleh kain bedong dan selimut hangat yang berwarna senada dengan penutup kepalanya. Tak tega rasanya melihat anak laki-lakinya menderita. Tangis Syahrul meledak, entah karena melihat Mamao baru saja datang dan ingin menetek atau karena rasa sakit di tubuhnya. Mamao hanya bisa menepuk-nepuk pelan kakinya agar tangisnya mereda. Oh iya saat Mamao datang terdapat kassa yang ditetesi ASI disesapkan di mulut Syahrul. Syahrul sudah mulai mencari-cari tetek sehingga agak rewel.Ya Allah pasti haus sekali rasanya. Karena ASI perah dimasukkan melalui NGT jadi Syahrul tidak bisa mencecap rasa ASI.Begitu Syahrul tertidur , Mamao dan Babah pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah anak-anak telah tertidur. Mamao kembali mencoba memeras ASI. Dini hari sehabis buang air kecil di kamar mandi, Mamao merasa tubuhnya bergetar hebat. Mengginggil kedinginan. Mamao menjerit memanggil Babah.Dipapahnya Mamao menuju kamar dan menyelimutinya dengan banyak selimut.Babah mencoba menuntun Mamao untuk menyebut asma Allah.Karena mengginggil hebat suara Mamao pun terdengar bergetar dan terputus putus.Ibu mertua mengatakan Mamao hanya mengalami ‘ngrangkak’i bener enggak ya saya nulisnya. Hehehe. Semacam peradangan pada payudara yang membengkak akibat ASI yang tidak lancar. Entahlah kalau dulu pas lahirnya Kakak Haura saya gejalanya demam tinggi.
Ahad pagi Mamao kembali ke rumah sakit mengantarkan ASI. Menurut pengakuan perawat yang berjaga, Syahrul sempat dicoba lepas ventilatornya namun beberapa saat mengalami kesulitan bernapas. Lupa bernapas. Aih masak ada ya orang lupa bernapas?Lupa sama hutang banyak.hahahah.tapi sepertinya Mamao memang belum tahu ada kasus seperti itu. Next di cerita selanjutnya Insya Allah Mamao ceritain deh.Empat hari Syahrul di NICU belum terlihat ada perkembangan yang terlihat. Babah sudah mulai putus asa. Mengingat dana di dompet Babah juga habis. Terpaksalah Babah meminjam uang ke Ibu mertua dan Mamao pun juga harus meminta bantuan ibu. Asli mereka pun pasti juga merasa sedih masih juga dimintain uang. Mamao meminta Babah mengiklankan carry tuanya. Yah meskipun harganya gak lebih tinggi dari harga sebuah motor keluaran terbaru.Cuma itu yang bisa Mamao dan Babah lakukan. Mamao juga memiliki ide untuk mengontrakkan rumah yang ditempatinya sekarang. Namun, ibu melarang malah menawarkan rumah ibu saja yang dikontrakkan.
“Berapa lama lagi Syahrul di NICU bah?”tanya Mamao pelan, meski Babah pun tidak mengetahui jawaban pastinya.kenyataan pahit harus siap-siap Mamao hadapi. Keadaan yang sulit, Babah sempat berbincang dengan perawat di ruang NICU, mengenai keringanan biaya. Babah disarankan bertemu dengan bagian humas rumahsakit.
Senin sore handphone Babah berdering. Terpampang di layar sentuh gawai itu. NICU RS. Mamao sontak gemetar. Buru-buru diberikan hp ke Babah. Maklum semenjak hearing loss Mamao juga tidak bisa berkomunikasi melalui telepon atau HP.
“Hari ini, Mbak?” tanya Babah kepada seseorang di ujung telepon sana.Entah apa yang dikatakan orang itu, Babah terlihat terburu-buru.
“Ya , sebentar lagi saya menuju rumah sakit. Terimakasih Mbak” ucap Babah sambil menutup percakapan telepon.
“Ada apa bah?”tanya Mamao tegang. Apakah kondisi Syahrul memburuk hingga rumah sakit menghubunginya.
“Syahrul sore ini mau dipindah ke bangsal, Ma” jawab Babah. Mendengar kata-kata Babah ucapan syukur terlontar dari mulut Mamao. Harapan Syahrul masih ada. Harapan yang sempat hilang di hati Mamao kembali muncul. Anaknya akan pulang ke rumah.


[1] Alat bantu pernafasan yang dapat digunakan untuk mengontrol oksigen dan aliran udara dari paru-paru pasien saat paru-paru tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
[2] Nasogastric tube adalah alat untuk memasukkan nutrisi cair dengan selang plastik yang dipasang melalui mulut/hidung sampai lambung.
[3] Alat untuk mengukur  atau memantau kadar oksigen dalam darah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar