Sesampai
di rumah Bulik-bulik dan Om-om Mamao mulai berdatangan menengok. Mamao tahu
melihat dari mata mereka ada sejuta tanya yang ingin diutarakan tapi mereka
pendam. Mereka meredam dengan kata “Nggak apa-apa”. Asli memang maksud mereka
mencoba untuk menghibur Mamao tapi frase itu justru menunjukkan bahwa mereka
memandang masalah Mamao adalah masalah kecil. Aah apa lagi-lagi karena Mamao
lagi sensitif jadi mudah baper?.entahlah. Rasanya badan di rumah tapi pikiran
di rumah sakit. Begitu sampai di rumah Mamao berusaha memeras ASI sebanyak
mungkin. Karena hanya ASI – lah sekarang yang bisa menolong Syahrul bertahan
hidup.
Selepas
Isya Ibu mengumpulkan bulik-bulik dan om-om untuk melakukan doa bersama untuk
kesembuhan Syahrul. Tangis kembali pecah meski para bulik dan om belum tahu
persis seperti apa kondisi Syahrul mereka turut menumpahkan air mata. Selesai
doa bersama Mamao dan Babah kembali ke RS mengantar ASI. Beberapa botol di
antaranya ASI perah dari Mbak Yanti dan Mama Alie. Setelah menyerahkan ASI perah
dan sabun bayi Mamao bergegas menuju kamar NICU tempat Syahrul dirawat. Penutup
kepalanya yang berwarna orange terlihat begitu besar di kepala Syahrul yang
mungil. Wajahnya nyaris tak terlihat karena besarnya selang ventilator[1].Selang
NGT[2]
di mulutnya.Tangan kanannya masih tertancap selang infus. Dadanya pun
disematkan beberapa bilah kabel. Kakinya di jepit alat oksimetri[3].
Perawat tengah mengganti popok Syahrul. Selesai mengganti popok, Syahrul
kembali dibedong. Mamao sedikit bernafas lega, karena pemandangan yang
memilukan itu telah tertutup oleh kain bedong dan selimut hangat yang berwarna
senada dengan penutup kepalanya. Tak tega rasanya melihat anak laki-lakinya
menderita. Tangis Syahrul meledak, entah karena melihat Mamao baru saja datang
dan ingin menetek atau karena rasa sakit di tubuhnya. Mamao hanya bisa
menepuk-nepuk pelan kakinya agar tangisnya mereda. Oh iya saat Mamao datang
terdapat kassa yang ditetesi ASI disesapkan di mulut Syahrul. Syahrul sudah
mulai mencari-cari tetek sehingga agak rewel.Ya Allah pasti haus sekali
rasanya. Karena ASI perah dimasukkan melalui NGT jadi Syahrul tidak bisa
mencecap rasa ASI.Begitu Syahrul tertidur , Mamao dan Babah pulang ke rumah.
Sesampainya
di rumah anak-anak telah tertidur. Mamao kembali mencoba memeras ASI. Dini hari
sehabis buang air kecil di kamar mandi, Mamao merasa tubuhnya bergetar hebat.
Mengginggil kedinginan. Mamao menjerit memanggil Babah.Dipapahnya Mamao menuju
kamar dan menyelimutinya dengan banyak selimut.Babah mencoba menuntun Mamao
untuk menyebut asma Allah.Karena mengginggil hebat suara Mamao pun terdengar
bergetar dan terputus putus.Ibu mertua mengatakan Mamao hanya mengalami
‘ngrangkak’i bener enggak ya saya nulisnya. Hehehe. Semacam peradangan pada
payudara yang membengkak akibat ASI yang tidak lancar. Entahlah kalau dulu pas
lahirnya Kakak Haura saya gejalanya demam tinggi.
Ahad
pagi Mamao kembali ke rumah sakit mengantarkan ASI. Menurut pengakuan perawat
yang berjaga, Syahrul sempat dicoba lepas ventilatornya namun beberapa saat
mengalami kesulitan bernapas. Lupa bernapas. Aih masak ada ya orang lupa
bernapas?Lupa sama hutang banyak.hahahah.tapi sepertinya Mamao memang belum
tahu ada kasus seperti itu. Next di cerita selanjutnya Insya Allah Mamao
ceritain deh.Empat hari Syahrul di NICU belum terlihat ada perkembangan yang
terlihat. Babah sudah mulai putus asa. Mengingat dana di dompet Babah juga
habis. Terpaksalah Babah meminjam uang ke Ibu mertua dan Mamao pun juga harus
meminta bantuan ibu. Asli mereka pun pasti juga merasa sedih masih juga
dimintain uang. Mamao meminta Babah mengiklankan carry tuanya. Yah meskipun
harganya gak lebih tinggi dari harga sebuah motor keluaran terbaru.Cuma itu
yang bisa Mamao dan Babah lakukan. Mamao juga memiliki ide untuk mengontrakkan
rumah yang ditempatinya sekarang. Namun, ibu melarang malah menawarkan rumah
ibu saja yang dikontrakkan.
“Berapa
lama lagi Syahrul di NICU bah?”tanya Mamao pelan, meski Babah pun tidak
mengetahui jawaban pastinya.kenyataan pahit harus siap-siap Mamao hadapi.
Keadaan yang sulit, Babah sempat berbincang dengan perawat di ruang NICU,
mengenai keringanan biaya. Babah disarankan bertemu dengan bagian humas
rumahsakit.
Senin
sore handphone Babah berdering. Terpampang di layar sentuh gawai itu. NICU RS.
Mamao sontak gemetar. Buru-buru diberikan hp ke Babah. Maklum semenjak hearing
loss Mamao juga tidak bisa berkomunikasi melalui telepon atau HP.
“Hari
ini, Mbak?” tanya Babah kepada seseorang di ujung telepon sana.Entah apa yang
dikatakan orang itu, Babah terlihat terburu-buru.
“Ya
, sebentar lagi saya menuju rumah sakit. Terimakasih Mbak” ucap Babah sambil
menutup percakapan telepon.
“Ada
apa bah?”tanya Mamao tegang. Apakah kondisi Syahrul memburuk hingga rumah sakit
menghubunginya.
“Syahrul
sore ini mau dipindah ke bangsal, Ma” jawab Babah. Mendengar kata-kata Babah
ucapan syukur terlontar dari mulut Mamao. Harapan Syahrul masih ada. Harapan
yang sempat hilang di hati Mamao kembali muncul. Anaknya akan pulang ke rumah.
[1] Alat
bantu pernafasan yang dapat digunakan untuk mengontrol oksigen dan aliran udara
dari paru-paru pasien saat paru-paru tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya.
[2]
Nasogastric tube adalah alat untuk memasukkan nutrisi cair dengan selang plastik
yang dipasang melalui mulut/hidung sampai lambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar