Selang beberapa menit bidan kembali ke ruang operasi “Bu,
bayinya baru diperiksa dokter anak jadi belum bisa IMD”.Mamao kembali
mengangguk. Kali ini Mamao agak sedikit lega mendengar ucapan bidan,setelah
sedari tadi hanya bertanya-tanya apakah dedek bayi sudah keluar atau belum.
Mengenai IMD Mamao tidak terlalu mempermasalahkan karena dulu kakak-kakaknya
juga tidak pakai IMD. Sepertinya paramedis di ruang operasi tidak sebanyak
tadi. Terdengar hanya satu dokter yang masih bercakap-cakap sambil
menyelesaikan proses bedah.Sepertinya sambil memberi penjelasan pada residen
juga. Entah mahasiswa kedokteran atau residen Mamao juga tidak fokus karena
dadanya mulai sesak. Perutnya terasa perih teriris-iris. Mamao mengeluhkan pada
salah satu paramedis.
“Mbak sakit perut saya ulu hati juga nyeri” keluh Mamao
sambil meringis menahan sakit. Kepala Mamao hanya bisa menoleh kanan kiri
menahan rasa sakit. Tangan pun tak bisa digerakkan karena terikat di samping
kanan kiri meja operasi.Mbak perawat hanya menjawab ‘ sebentar Bu perutnya baru
dijahit”.
Ya Allah baru sekali ini Mamao merasakan sakit perih di meja
operasi sebelum-sebelumnya perih dirasakan setelah efek bius hilang itupun di
bangsal. Sebelumnya pernah membaca artikel semakin sering operasi caesar maka
rasa sakitnya juga semakin menjadi-jadi. Tapi Mamao tidak menyangka rasanya
bisa sesakit ini.Badan Mamao mulai menggingil kedinginan dan sulit bernafas.
Salah seorang paramedis menyarankan agar dokter mempercepat proses menjahit
luka operasi. Pukul 12.00 Mamao menuju ruang pemulihan, di sana seorang petugas
menanyakan apakah Mamao ada keluhan.
“Saya kedinginan dan perut saya perih sekali’ jawab Mamao.
Petugas tersebut kemudian menyelimuti saya dengan selimut berbahan plastik yang
terasa berat di badan Mamao. Tapi sekejap badan Mamao tak lagi mengginggil.
Wuih canggih jadi penasaran selimut apa ya ini?. Rasanya kayak pakai bantal
penghangat punya ibu kalau lagi nyeri pinggang.
“Nanti setelah di bangsal akan diberikan obat pereda nyeri ,
Bu” tukas petugas tersebut. Ya ampun ini sakitnya sekarang suruh nunggu nanti. Sambil
menunggu rasa dingin itu hilang Mamao melirik di bed sebelah juga ada pasien
yang tengah pemulihan pasca operasi tapi pasien ini nenek-nenek. Sepertinya
beliau dibius total karena sedari tadi belum tersadarkan.
Kurang lebih hampir 1 setengah jam Mamao di kamar pemulihan. Setelah
rasa menggingil sudah mereda Mamao dijemput perawat dari bangsal dan di luar
pintu operasi Mamao mencari-cari Babah. Ternyata di luar sudah ada Ibu Mertua
dan Babah. Ya Allah Mamao ingin sekali peluk Babah kayak mimpi bisa keluar dari
ruang operasi dengan selamat karena sempat pesimis dengan rasa sakit selama di
ruang operasi. Sampai di kamar bangsal belum juga Babah mengucap banyak kata,
perawat sudah datang dan meminta Babah mengurus administrasi kamar bayi.
Tinggalah saya berdua dengan ibu Mertua di kamar itu. Ibu Mertua mencoba
menenangkan Mamao yang mulai menangis. Sedikit Mamao bercerita apa yang
dirasakan selama operasi berlangsung.mungkin seperti Sakaratul maut rasanya.
Pelan-pelan ibu mertua menuntun Mamao agar berdzikir. Setelah Mamao agak tenang
Ibu Mertua mengatakan kalau bayi Mamao laki-laki.Alhamdulillah akhirnya punya
anak cowok.Yes..yes..Haura dan Syakira juga pengen adik cowok.Btw Mamao selama
mengandung juga minta sama Allah agar dapat baby boy soalnya selama ini Mamao
suka cemburu kalau Babah sangat sayang sama ibunya. Ada ungkapan istri adalah
milik suami tapi suami milik ibunya. Trus istrinya punya apa dong?lha kalau
nanti haura dan syakira ikut suaminya Istrinya kayak gak dapat apa-apa. Dari
ungkapan itu Mamao pengen banget punya anak cowok yang sayang sama Mamanya.
Sampai sore hari Babynya belum juga dibawa ke kamar. Mamao
mulai cemas belum lagi pasien di bed sebelah anaknya sudah dibawa ke kamar.
Jelang Maghrib Mbah Uti dan Mbah Akung sama anak-anak datang menjenguk. Bapak
mencium pipi Mamao sambil berkata “ Selamat ya, Nduk. Apapun keadaannya Bapak
bangga sama cucunya,cacat ora popo”
Duerr rasanya waktunya terhenti. Mamao pandangi satu persatu
wajah orang di ruangan itu. Bingung tak paham dan lebih sakit lagi,sepertinya
hanya Mamaolah satu-satunya yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Gurat-gurat
kesedihan jelas nampak diwajah Ibu yang duduk disamping bed Mamao sambil
memegang tangan Mamao. Ibu Mertua mulai meneteskan air mata. Anak-anak yang
mulai cemas karena sekelilingnya mulai menangis dan terakhir kulihat Babah
mulai mengucap sesuatu.
“Ma, anak kita difabel tangan kanannya enggak ada
jarinya”kalimat itu muncul dari mulut Babah diikuti ucapan lainnya tapi Mamao
tak bisa jelas mendengarnya. Pikiran mendadak kosong. Mamao memejamkan matanya
berharap setelah beberapa saat Mamao membuka matanya ucapan tersebut hanya
mimpi dan tak pernah terucap. Ketika tengah menutup mata seperti terdengar
tangis sesengukan ibu semakin keras. Babah mencoba menguatkan Mamao dan menguatkan
dirinya sendiri sepertinya. Nada suaranya pun terdengar lelah. Terbesit rasa
marah dalam diri Mamao. Marah kenapa hal ini terjadi pada anaknya, marah pada
dirinya sendiri karena terlalu cuek dulu selama mengandung, dan marah kenapa
semua orang menyembunyikan hal ini dari Mamao.
“Babah yakin itu anak kita?tanya Mamao setelah mencoba
membuka matanya. Namun Mamao kecewa bahwa memang itu kenyataan yang tengah di
hadapi.Berharap hal itu kayak di sinetron-sinetron indonesah ada kisah anak
yang tertukar di rumah sakit atau film jepang kesukaan Haura, Soshite Chichi Ni
Naru. Oia film ini bagus banget lho. Rekomended buat yang suka nonton film asia
berkualitas.
“Iya, Ma. Babah yang adzanin.begitu lahir Babah dipanggil
dokternya masuk”jawab Babah. Ya Allah kuatkan saya,ada yang harus lebih
dikuatkan selain saya, ucap Mamao dalam hatinya.Mamao lihat Babah terlihat
letih psikisnya.Ibu yang sangat terpukul dan anak-anak yang entah mereka
mengerti atau tidak tapi saya melihat di mata anak-anak mereka takut melihat
mamanya terguncang seperti itu. Pelan-pelan Mamao berusaha sekuat tenaga
menahan tangis di depan anak-anak.
“Ibu yang sabar, cucunya cacat pasti ada yang membully ibu
jangan minder”ucap Mamao sambil mengenggam tangan Ibunya. Waktu terasa berjalan
begitu lama. Ketika Bapak Ibu dan anak-anak pulang diantar Babah air mata Mamao
tak berhenti menetes. Pikiran Mamao kalut. Karena sampai malam dedek bayinya
belum juga diantar ke kamar. Selepas Isya Babah kembali ke RS. Sedikit-sedikit
Mamao mencoba bertanya pada Babah seperti apa kondisi bayinya sebenarnya.
“Tangan kanannya enggak ada jarinya ma. Kedua kakinya bengkok
dan tulang dadanya ada yang patah” jawab Babah.
“kira-kira ada kelainan lain enggak ,Bah?”selidik Mamao.
“belum tahu, Ma.Semoga saja enggak”kata Babah.
Obrolan terhenti ketika seorang perawat memanggil Babah ke
ruang Bayi.Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi di bilik sebelah. Tak terasa
air mata Mamao kembali menetes teringat bayinya yang di entah di kamar sebelah
mana pasti juga sedang menangis karena haus. Sepertinya karena terlalu lelah
dan kebanyakan menangis Mamao tertidur sejenak, Mamao terbangun ketika Babah
datang membawa kabar yang tak kalah menyesakkan.
“Bayinya sempat henti nafas,Ma dan ini harus segera dirujuk
ke Sardjito”kata Babah.
“Paru-parunya kena juga, Bah?”tanya Mamao
“iya Ma, bayinya kalau nafas kayak kita habis lari.
Terenggah-enggah”jelas Babah
“Menurut Mamao gimana?dibawa ke Sardjito atau enggak?”tanya
Babah. Pemikiran Mamao dan Babah sejalan, jika ke sardjito biaya akan tambah
membengkak. Oh ini yang Mamao enggak suka kalau jadi orang gak berduit.
Pilihannya sulit-sulit enggak kayak kuis picisan di sela acara sinetron
indonesia.
“Bayi ini entah berumur panjang atau tidak kita tidak tahu,
Ma. Tetapi jika memang Allah memintanya dan besok di Yaumul Akhir kita dimintai
pertanggungjawabannya, bayi ini bisa tidak menarik kita sebagai orangtuanya
karena ikhtiar kita untuk hidupnya hanya setengah-tengah”ujar Babah.
“Sebisa mungkin kita lakukan yang terbaik semampu kita. Hasil
Akhirnya pasrahkan ke Allah. Tapi jika memang Allah lebih sayang anak kita
Mamao juga harus mengikhlaskan” lanjut Babah
Enggak terasa airmata Mamao kembali mengalir. Entah udah
berliter-liter air mata yang tumpah. Bagaimana kita harus belajar mengikhlaskan
seseorang pergi padahal belum lama ia singgah di kehidupan Mamao, menyentuhnya
pun Mamao belum sempat.
Mamao mengangguk pertanda setuju. Babah bergegas menuju kamar
bayi lagi untuk berkoordinasi dengan dokter yang merawat bayi Mamao. Lama
rasanya Babah pergi pukul 1 malam Babah kembali membawa kabar.
“Setelah kontak Sardjito ternyata kamar bayi full anak kita
tengah diantrikan dapat no 8. Sementara dicoba dirawat di NICU[1] RS ini dulu dan
anak kita sekarang sudah punya nama. Namanya Muhammad Syahrul Muharrom”jelas
Babah panjang lebar.
Mendengar penjelasan Babah rasa pesimis muncul di benak
Mamao. Terselamatkan tidak bayi ini. Pikiran buruk memenuhi kepala Mamao. Bisa
jadi Mamao pulang ke rumah tanpa bersama bayi ini.
“Babah sudah hubungi Kyai Chamdani?”tanya Mamao pelan.
“Sudah” jawab Babah pendek sambil menyodorkan isi chat WA
Babah dengan Kyai Chamdani.Memang jauh hari sebelum melahirkan Mamao dan Babah
memiliki nazar jika nanti anaknya laki-laki untuk pemberian namanya diserahkan
kepada beliau Kyai Chamdani. Beliau Kyai pemimpin pondok pesantren tempat Mamao
pernah sebentar belajar agama di dusunnya. Lewat beliau pula Mamao dan Babah dipertemukan
dan menjadi saksi pernikahan.
Malam terasa sangat lama, beberapa kali Mamao terbangun
karena nyeri kontraksi yang datang pergi ketika terbangun pikirannya melayang
bertanya-tanya bagaimana keadaan bayinya di NICU separah apakah kondisinya.
Ingin sekali rasanya Mamao berlari menuju NICU. Pasti Syahrul kehausan sehabis
operasi belum setetes pun ASI masuk ke mulut kecilnya.
Pagi mulai menunjukkan sinar lembutnya. Tapi pagi itu Mamao
tidak sedikit pun merasakan sukacita selayaknya ibu yang baru saja melahirkan.
Ibu-ibu milenial biasa sehabis bersalin memposting pamer bayi kecilnya di
status WA atau di story Facebook, Instagram kalau kelasnya artis malah sudah
dibuatkan akun instagram babynya.hahaha.Babah datang sehabis mengantar Kak
Haura ke sekolah sambil membawa sarapan untuk ibu mertua.Mamao baru saja
dibilas oleh perawat. Barulah Mamao sadar ternyata pasca operasi kemarin Mamao
tidak diberi popok dewasa hanya dialasi underpads[1], jadi setelah
dibilas dipasang pembalut sendiri. Untung Mamao bawa buat jaga-jaga .Lain rumah
sakit lain juga prosedurnya ya.
Siang sebelum sholat Jumat Babah dihubungi perawat yang
memberitahukan bahwa dokter spesialis anak sudah datang. Babah bergegas menemui
dokter tersebut.Mamao hanya bisa menunggu di kamar. Saya mencoba mengulik
keterangan dari ibu mertua tentang fisik Syahrul namun sayang ibu mertua pun
belum sempat melihat cucunya tersebut karena kamar bayi dijaga ketat hanya
orangtua bayi yang diijinkan masuk. Bahkan kaca jendela pun diblur enggak bisa
ngintip-intip.kok enggak difoto jeng?iya itu juga sempat saya protes ke Babah.
Tapi jawaban Babah Cuma” Kasihan , Ma. Enggak tega lihatnya”. Ya Mamao berpikir
ada benarnya Babah enggak ambil foto Syahrul karena bisa dipastikan Mamao
tambah down berat kalau melihat keadaan sebenarnya.
Ba’da sholat Jumat Babah kembali ke kamar dan menceritakan
sedikit penjelasan dari dokter anak.
“Sepertinya paru-paru Syahrul bermasalah. Sekarang pake alat
bantu pernafasan. Melihat dari hasil USG terlihat ada kebocoran kecil di
jantungnya. Tapi dokter jantung di rs ini tidak bisa menjelaskan lebih detil
karena alatnya terbatas dan dokter spesialis jantung anak di sini tidak ada
adanya di Sardjito.kata Babah panjang lebar.
Ya Allah separah itukah keadaan Syahrul. Meski Babah
menenangkan Mamao bahwa lubang di jantungnya hanya 2 mm Mamao tetap menangis.
Lha iya, itu jantung bukan balon atau ban kempes yang bocor alus.Di
tengah-tengah percakapan tersebut datang dokter esti ke kamar Mamao dikawal 2
orang perawat.Setelah periksa kondisi Mamao sebentar beliau memberikan wejangan
ke Mamao.
“Semua itu kehendak Allah. Bila nanti terjadi hal-hal yang
terburuk kita sebagai orang yang beriman harus menerimanya sebagai takdir dan
insyaAllah menjadi penolong Bapak Ibu di akherat nanti”kata dokter Esti .
sebenarnya kata-kata aslinya Mamao agak lupa tapi kurang lebih seperti itu.
Mendengar penuturan dokter yang intinya suruh Mamao mengikhlaskan Syahrul pergi
tangis Mamao justru makin kencang. Bagaimana tidak, untuk mereka yang paham
kondisi medis mungkin juga pesimis dengan kelangsungan hidupnya.
Mamao enggak bisa menggambarkan bagaimana suasana hati Mamao
saat itu. Mungkin buat ibu –ibu hebat yang seperjuangan dengan Mamao yang lebih
paham.Di saat kondisi yang bener-bener di titik terendah itu Mamao masih harus
mencoba memeras ASI. Enggak ada alat jadi pake tangan . entah Mamao yang enggak
biasa peras ASI dengan tangan atau memang ASInya yang sedikit. Saat itu ASI
yang terkumpul dikit banget enggak ada 5ml.Terpaksa Babah cari donor ASI.
Kebetulan punya teman yang anaknya laki-laki juga Cuma rumahnya sekitar 3 km
dari rs dan juga teman Mamao sesama wali murid TK Alfatah tempat sekolah TK Kak
Haura dulu. Terimakasih Mbak Yanti dan Mama Alie Adnan sudah menjadi ibu susu
Syahrul. Babah bela-belain malam-malam ke rumah Mbak Yanti dan Mama Alie ambil
ASI perah. Semoga Allah memberkahi kalian dengan anak-anak yang sholeh
sholehah, rezeki yang barokah, serta kesehatan untuk terus bermanfaat bagi
sekelilingnya.Aamiin.
Hari Sabtu, Mamao sudah bisa berdiri dan belajar berjalan.
Hari itu pula dokter menjadwalkan Mamao pulang ke rumah. Cuma Mamao yang pulang
Syahrul masih berjuang dengan hidupnya di NICU. Berat dan sedih. Pagi-pagi
sekali setelah membersihkan badan, Mamao merengek ke Babah minta di antar ke
NICU.Babah kemudian meminjam kursi roda di ruang perawat.ini hari pertama Mamao
bertemu Syahrul.Babah sudah mewanti-wanti Mamao agar jangan menangis terlalu
ekstrem. Mamao Cuma mengangguk, enggak janji juga sih.hehehe.
Sampai di pintu PICU Mamao mulai deg-degan. Mungkin yang
ditakutkan Babah Mamao bisa pingsan atau semacamnya. Di pintu pertama terlihat
beberapa bed terisi pasien yang tengah di rawat. Di samping bed terdapat layar
monitor entah apa namanya, dan perawat yang tengah mencatat perkembangan pasien
di papan besar. Papannya bisa alihfungsi jadi meja sepertinya karena bisa
dipindah-pindah. Di ujung ruangan ada kamar berdinding kaca.di pintunya
tertulis NICU. Jantung Mamao berdebar-debar dari luar terlihat infant warmer[2] dan bayi
berselimut orange. Sebelum memasuki ruang kaca itu mama mencuci tangan dengan
sanitizer di dekat pintu. Syahrul tengah tertidur. Badannya kecil sekali.
Bahkan wajahnya tak bisa Mamao lihat jelas karena begitu banyaknya piranti
medis yang menempel di badannya. Ventilator membantu nafasnya beberapa kali
selang yang menempel di hidungnya terlepas. Pelan pelan Babah menyingkapkan
selimut berwarna orange tersebut. Satu per satu Babah tunjukkan ke Mamao.
Tangan kanannya benar – benar tak tumbuh jari, dada kanannya cekung seolah
berlubang karena tulang dada yang tak terbentuk. Terlihat jantungnya ikut
mengembung ke permukaan bila Syahrul tengah menangis dan terakhir kedua kakinya
yang bengkok ke dalam. Ya Allah angkat sakitnya, angkat penderitaannya. Jika
memang engkau menghendaki bawalah pulang ke PangkuanMU.Doa Mamao lirih tak
mampu menahan rasa pedih. Mamao ingin sekali menciumnya tapi apadaya Mamao
pendek jadi enggak nyampe Cuma bisa mengelus-elus pipinya.Tapi jauh di lubuk
hati Mamao tumbuh keyakinan, Syahrul bisa sehat. Enggak apa-apa cacat fisiknya
namun Mamao juga mulai belajar mengikhlaskan bila sesuatu yang buruk terjadi.
Melihat keadaannya saat itu tidak mungkin Syahrul bisa pulang ke rumah bareng
Mamao
Menjelang siang Babah merampungkan administrasi untuk
kepulangan Mamao. YA Allah rasanya nano-nano seneng bisa lihat rumah kumpul
sama Kak Haura dan Syakira tapi Sedih ingat Syahrul di sini sendirian. Kebayang
sanak keluarga nanti yang datang ke rumah menanyakan macam-macam.Pikirannya
bercabang tak karuan. Saat ini mental Mamao harus sekuat baja. Bully atau
nyinyiran orang-orang di luar sana harus Mamao berani hadapi. Tapi kenyataan
tidak semudah itu Ferguso!, rasa sedih itu tetap tidak bisa disembunyikan,
terlebih saat kakak sulung Mamao yang baru pulang dari Bogor datang untuk
menjemput Mamao. Tangis Mamao kembali pecah.
“Kita hadapi bareng-bareng”ujar Mas Sus seraya memeluk adik
bungsunya tersebut.Pukul 14.00 administrasi selesai Babah melapor ke perawat
jaga untuk serah terima pasien. Mamao diantar menggunakan kursi roda menuju
loby rumah sakit. Dalam perjalanan menuju loby tersebut Mamao berbincang
sejenak dengan perawat tersebut.
“Mbak, rumah sakit segede gini apa enggak pernah ada perawat
atau dokter yang tersesat?” tanya Mamao.
“Ya, satu dua pernah , Bu, tapi ya selama masih ada jalan
pasti enggak jadi tersesat paling Cuma muter-muter lebih jauh”jawab perawat
tersebut sambil tertawa kecil. Aah
kata-kata perawat ini filosofis sekali, seolah berusaha menentramkan hati Mamao
atau Mamao saja yang lagi baper?.Sesampai di loby sebelum perawat itu kembali
masuk ke bangsal untuk melanjutkan tugasnya beliau berpesan sesuatu pada Mamao.
“Saya yakin ada rasa kecewa pada diri Ibu, tapi ingat Allah
selalu memberikan masalah pasti satu paket dengan solusinya”kata perawat itu,
kali ini kata-katanya terdengar dari hati tak sekedar basa-basi belaka. Yah,
Mamao merasa hampir semua perawat yang merawat dirinya melihat dirinya dengan
rasa iba, tak sedikit yang menguatkan dan memberi dukungan moril. Tapi perawat
yang satu ini menyampaikan dengan penuh rasa tulus.
[1] Neonatal
intensive care unit adalah ruang perawatan intensif di rumah sakit yang
disediakan khusus untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar