Senin, 06 April 2020

Takdirmu Takdirku


Selang beberapa menit bidan kembali ke ruang operasi “Bu, bayinya baru diperiksa dokter anak jadi belum bisa IMD”.Mamao kembali mengangguk. Kali ini Mamao agak sedikit lega mendengar ucapan bidan,setelah sedari tadi hanya bertanya-tanya apakah dedek bayi sudah keluar atau belum. Mengenai IMD Mamao tidak terlalu mempermasalahkan karena dulu kakak-kakaknya juga tidak pakai IMD. Sepertinya paramedis di ruang operasi tidak sebanyak tadi. Terdengar hanya satu dokter yang masih bercakap-cakap sambil menyelesaikan proses bedah.Sepertinya sambil memberi penjelasan pada residen juga. Entah mahasiswa kedokteran atau residen Mamao juga tidak fokus karena dadanya mulai sesak. Perutnya terasa perih teriris-iris. Mamao mengeluhkan pada salah satu paramedis.
“Mbak sakit perut saya ulu hati juga nyeri” keluh Mamao sambil meringis menahan sakit. Kepala Mamao hanya bisa menoleh kanan kiri menahan rasa sakit. Tangan pun tak bisa digerakkan karena terikat di samping kanan kiri meja operasi.Mbak perawat hanya menjawab ‘ sebentar Bu perutnya baru dijahit”.
Ya Allah baru sekali ini Mamao merasakan sakit perih di meja operasi sebelum-sebelumnya perih dirasakan setelah efek bius hilang itupun di bangsal. Sebelumnya pernah membaca artikel semakin sering operasi caesar maka rasa sakitnya juga semakin menjadi-jadi. Tapi Mamao tidak menyangka rasanya bisa sesakit ini.Badan Mamao mulai menggingil kedinginan dan sulit bernafas. Salah seorang paramedis menyarankan agar dokter mempercepat proses menjahit luka operasi. Pukul 12.00 Mamao menuju ruang pemulihan, di sana seorang petugas menanyakan apakah Mamao ada keluhan.
“Saya kedinginan dan perut saya perih sekali’ jawab Mamao. Petugas tersebut kemudian menyelimuti saya dengan selimut berbahan plastik yang terasa berat di badan Mamao. Tapi sekejap badan Mamao tak lagi mengginggil. Wuih canggih jadi penasaran selimut apa ya ini?. Rasanya kayak pakai bantal penghangat punya ibu kalau lagi nyeri pinggang.
“Nanti setelah di bangsal akan diberikan obat pereda nyeri , Bu” tukas petugas tersebut. Ya ampun ini sakitnya sekarang suruh nunggu nanti. Sambil menunggu rasa dingin itu hilang Mamao melirik di bed sebelah juga ada pasien yang tengah pemulihan pasca operasi tapi pasien ini nenek-nenek. Sepertinya beliau dibius total karena sedari tadi belum tersadarkan.
Kurang lebih hampir 1 setengah jam Mamao di kamar pemulihan. Setelah rasa menggingil sudah mereda Mamao dijemput perawat dari bangsal dan di luar pintu operasi Mamao mencari-cari Babah. Ternyata di luar sudah ada Ibu Mertua dan Babah. Ya Allah Mamao ingin sekali peluk Babah kayak mimpi bisa keluar dari ruang operasi dengan selamat karena sempat pesimis dengan rasa sakit selama di ruang operasi. Sampai di kamar bangsal belum juga Babah mengucap banyak kata, perawat sudah datang dan meminta Babah mengurus administrasi kamar bayi. Tinggalah saya berdua dengan ibu Mertua di kamar itu. Ibu Mertua mencoba menenangkan Mamao yang mulai menangis. Sedikit Mamao bercerita apa yang dirasakan selama operasi berlangsung.mungkin seperti Sakaratul maut rasanya. Pelan-pelan ibu mertua menuntun Mamao agar berdzikir. Setelah Mamao agak tenang Ibu Mertua mengatakan kalau bayi Mamao laki-laki.Alhamdulillah akhirnya punya anak cowok.Yes..yes..Haura dan Syakira juga pengen adik cowok.Btw Mamao selama mengandung juga minta sama Allah agar dapat baby boy soalnya selama ini Mamao suka cemburu kalau Babah sangat sayang sama ibunya. Ada ungkapan istri adalah milik suami tapi suami milik ibunya. Trus istrinya punya apa dong?lha kalau nanti haura dan syakira ikut suaminya Istrinya kayak gak dapat apa-apa. Dari ungkapan itu Mamao pengen banget punya anak cowok yang sayang sama Mamanya.
Sampai sore hari Babynya belum juga dibawa ke kamar. Mamao mulai cemas belum lagi pasien di bed sebelah anaknya sudah dibawa ke kamar. Jelang Maghrib Mbah Uti dan Mbah Akung sama anak-anak datang menjenguk. Bapak mencium pipi Mamao sambil berkata “ Selamat ya, Nduk. Apapun keadaannya Bapak bangga sama cucunya,cacat ora popo”
Duerr rasanya waktunya terhenti. Mamao pandangi satu persatu wajah orang di ruangan itu. Bingung tak paham dan lebih sakit lagi,sepertinya hanya Mamaolah satu-satunya yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Gurat-gurat kesedihan jelas nampak diwajah Ibu yang duduk disamping bed Mamao sambil memegang tangan Mamao. Ibu Mertua mulai meneteskan air mata. Anak-anak yang mulai cemas karena sekelilingnya mulai menangis dan terakhir kulihat Babah mulai mengucap sesuatu.
“Ma, anak kita difabel tangan kanannya enggak ada jarinya”kalimat itu muncul dari mulut Babah diikuti ucapan lainnya tapi Mamao tak bisa jelas mendengarnya. Pikiran mendadak kosong. Mamao memejamkan matanya berharap setelah beberapa saat Mamao membuka matanya ucapan tersebut hanya mimpi dan tak pernah terucap. Ketika tengah menutup mata seperti terdengar tangis sesengukan ibu semakin keras. Babah mencoba menguatkan Mamao dan menguatkan dirinya sendiri sepertinya. Nada suaranya pun terdengar lelah. Terbesit rasa marah dalam diri Mamao. Marah kenapa hal ini terjadi pada anaknya, marah pada dirinya sendiri karena terlalu cuek dulu selama mengandung, dan marah kenapa semua orang menyembunyikan hal ini dari Mamao.
“Babah yakin itu anak kita?tanya Mamao setelah mencoba membuka matanya. Namun Mamao kecewa bahwa memang itu kenyataan yang tengah di hadapi.Berharap hal itu kayak di sinetron-sinetron indonesah ada kisah anak yang tertukar di rumah sakit atau film jepang kesukaan Haura, Soshite Chichi Ni Naru. Oia film ini bagus banget lho. Rekomended buat yang suka nonton film asia berkualitas.
“Iya, Ma. Babah yang adzanin.begitu lahir Babah dipanggil dokternya masuk”jawab Babah. Ya Allah kuatkan saya,ada yang harus lebih dikuatkan selain saya, ucap Mamao dalam hatinya.Mamao lihat Babah terlihat letih psikisnya.Ibu yang sangat terpukul dan anak-anak yang entah mereka mengerti atau tidak tapi saya melihat di mata anak-anak mereka takut melihat mamanya terguncang seperti itu. Pelan-pelan Mamao berusaha sekuat tenaga menahan tangis di depan anak-anak.
“Ibu yang sabar, cucunya cacat pasti ada yang membully ibu jangan minder”ucap Mamao sambil mengenggam tangan Ibunya. Waktu terasa berjalan begitu lama. Ketika Bapak Ibu dan anak-anak pulang diantar Babah air mata Mamao tak berhenti menetes. Pikiran Mamao kalut. Karena sampai malam dedek bayinya belum juga diantar ke kamar. Selepas Isya Babah kembali ke RS. Sedikit-sedikit Mamao mencoba bertanya pada Babah seperti apa kondisi bayinya sebenarnya.
“Tangan kanannya enggak ada jarinya ma. Kedua kakinya bengkok dan tulang dadanya ada yang patah” jawab Babah.
“kira-kira ada kelainan lain enggak ,Bah?”selidik Mamao.
“belum tahu, Ma.Semoga saja enggak”kata Babah.
Obrolan terhenti ketika seorang perawat memanggil Babah ke ruang Bayi.Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi di bilik sebelah. Tak terasa air mata Mamao kembali menetes teringat bayinya yang di entah di kamar sebelah mana pasti juga sedang menangis karena haus. Sepertinya karena terlalu lelah dan kebanyakan menangis Mamao tertidur sejenak, Mamao terbangun ketika Babah datang membawa kabar yang tak kalah menyesakkan.
“Bayinya sempat henti nafas,Ma dan ini harus segera dirujuk ke Sardjito”kata Babah.
“Paru-parunya kena juga, Bah?”tanya Mamao
“iya Ma, bayinya kalau nafas kayak kita habis lari. Terenggah-enggah”jelas Babah
“Menurut Mamao gimana?dibawa ke Sardjito atau enggak?”tanya Babah. Pemikiran Mamao dan Babah sejalan, jika ke sardjito biaya akan tambah membengkak. Oh ini yang Mamao enggak suka kalau jadi orang gak berduit. Pilihannya sulit-sulit enggak kayak kuis picisan di sela acara sinetron indonesia.
“Bayi ini entah berumur panjang atau tidak kita tidak tahu, Ma. Tetapi jika memang Allah memintanya dan besok di Yaumul Akhir kita dimintai pertanggungjawabannya, bayi ini bisa tidak menarik kita sebagai orangtuanya karena ikhtiar kita untuk hidupnya hanya setengah-tengah”ujar Babah.
“Sebisa mungkin kita lakukan yang terbaik semampu kita. Hasil Akhirnya pasrahkan ke Allah. Tapi jika memang Allah lebih sayang anak kita Mamao juga harus mengikhlaskan” lanjut Babah
Enggak terasa airmata Mamao kembali mengalir. Entah udah berliter-liter air mata yang tumpah. Bagaimana kita harus belajar mengikhlaskan seseorang pergi padahal belum lama ia singgah di kehidupan Mamao, menyentuhnya pun Mamao belum sempat.
Mamao mengangguk pertanda setuju. Babah bergegas menuju kamar bayi lagi untuk berkoordinasi dengan dokter yang merawat bayi Mamao. Lama rasanya Babah pergi pukul 1 malam Babah kembali membawa kabar.
“Setelah kontak Sardjito ternyata kamar bayi full anak kita tengah diantrikan dapat no 8. Sementara dicoba dirawat di NICU[1] RS ini dulu dan anak kita sekarang sudah punya nama. Namanya Muhammad Syahrul Muharrom”jelas Babah panjang lebar.
Mendengar penjelasan Babah rasa pesimis muncul di benak Mamao. Terselamatkan tidak bayi ini. Pikiran buruk memenuhi kepala Mamao. Bisa jadi Mamao pulang ke rumah tanpa bersama bayi ini.
“Babah sudah hubungi Kyai Chamdani?”tanya Mamao pelan.
“Sudah” jawab Babah pendek sambil menyodorkan isi chat WA Babah dengan Kyai Chamdani.Memang jauh hari sebelum melahirkan Mamao dan Babah memiliki nazar jika nanti anaknya laki-laki untuk pemberian namanya diserahkan kepada beliau Kyai Chamdani. Beliau Kyai pemimpin pondok pesantren tempat Mamao pernah sebentar belajar agama di dusunnya. Lewat beliau pula Mamao dan Babah dipertemukan dan menjadi saksi pernikahan.

Malam terasa sangat lama, beberapa kali Mamao terbangun karena nyeri kontraksi yang datang pergi ketika terbangun pikirannya melayang bertanya-tanya bagaimana keadaan bayinya di NICU separah apakah kondisinya. Ingin sekali rasanya Mamao berlari menuju NICU. Pasti Syahrul kehausan sehabis operasi belum setetes pun ASI masuk ke mulut kecilnya.

Pagi mulai menunjukkan sinar lembutnya. Tapi pagi itu Mamao tidak sedikit pun merasakan sukacita selayaknya ibu yang baru saja melahirkan. Ibu-ibu milenial biasa sehabis bersalin memposting pamer bayi kecilnya di status WA atau di story Facebook, Instagram kalau kelasnya artis malah sudah dibuatkan akun instagram babynya.hahaha.Babah datang sehabis mengantar Kak Haura ke sekolah sambil membawa sarapan untuk ibu mertua.Mamao baru saja dibilas oleh perawat. Barulah Mamao sadar ternyata pasca operasi kemarin Mamao tidak diberi popok dewasa hanya dialasi underpads[1], jadi setelah dibilas dipasang pembalut sendiri. Untung Mamao bawa buat jaga-jaga .Lain rumah sakit lain juga prosedurnya ya.
Siang sebelum sholat Jumat Babah dihubungi perawat yang memberitahukan bahwa dokter spesialis anak sudah datang. Babah bergegas menemui dokter tersebut.Mamao hanya bisa menunggu di kamar. Saya mencoba mengulik keterangan dari ibu mertua tentang fisik Syahrul namun sayang ibu mertua pun belum sempat melihat cucunya tersebut karena kamar bayi dijaga ketat hanya orangtua bayi yang diijinkan masuk. Bahkan kaca jendela pun diblur enggak bisa ngintip-intip.kok enggak difoto jeng?iya itu juga sempat saya protes ke Babah. Tapi jawaban Babah Cuma” Kasihan , Ma. Enggak tega lihatnya”. Ya Mamao berpikir ada benarnya Babah enggak ambil foto Syahrul karena bisa dipastikan Mamao tambah down berat kalau melihat keadaan sebenarnya.
Ba’da sholat Jumat Babah kembali ke kamar dan menceritakan sedikit penjelasan dari dokter anak.
“Sepertinya paru-paru Syahrul bermasalah. Sekarang pake alat bantu pernafasan. Melihat dari hasil USG terlihat ada kebocoran kecil di jantungnya. Tapi dokter jantung di rs ini tidak bisa menjelaskan lebih detil karena alatnya terbatas dan dokter spesialis jantung anak di sini tidak ada adanya di Sardjito.kata Babah panjang lebar.
Ya Allah separah itukah keadaan Syahrul. Meski Babah menenangkan Mamao bahwa lubang di jantungnya hanya 2 mm Mamao tetap menangis. Lha iya, itu jantung bukan balon atau ban kempes yang bocor alus.Di tengah-tengah percakapan tersebut datang dokter esti ke kamar Mamao dikawal 2 orang perawat.Setelah periksa kondisi Mamao sebentar beliau memberikan wejangan ke Mamao.
“Semua itu kehendak Allah. Bila nanti terjadi hal-hal yang terburuk kita sebagai orang yang beriman harus menerimanya sebagai takdir dan insyaAllah menjadi penolong Bapak Ibu di akherat nanti”kata dokter Esti . sebenarnya kata-kata aslinya Mamao agak lupa tapi kurang lebih seperti itu. Mendengar penuturan dokter yang intinya suruh Mamao mengikhlaskan Syahrul pergi tangis Mamao justru makin kencang. Bagaimana tidak, untuk mereka yang paham kondisi medis mungkin juga pesimis dengan kelangsungan hidupnya.
Mamao enggak bisa menggambarkan bagaimana suasana hati Mamao saat itu. Mungkin buat ibu –ibu hebat yang seperjuangan dengan Mamao yang lebih paham.Di saat kondisi yang bener-bener di titik terendah itu Mamao masih harus mencoba memeras ASI. Enggak ada alat jadi pake tangan . entah Mamao yang enggak biasa peras ASI dengan tangan atau memang ASInya yang sedikit. Saat itu ASI yang terkumpul dikit banget enggak ada 5ml.Terpaksa Babah cari donor ASI. Kebetulan punya teman yang anaknya laki-laki juga Cuma rumahnya sekitar 3 km dari rs dan juga teman Mamao sesama wali murid TK Alfatah tempat sekolah TK Kak Haura dulu. Terimakasih Mbak Yanti dan Mama Alie Adnan sudah menjadi ibu susu Syahrul. Babah bela-belain malam-malam ke rumah Mbak Yanti dan Mama Alie ambil ASI perah. Semoga Allah memberkahi kalian dengan anak-anak yang sholeh sholehah, rezeki yang barokah, serta kesehatan untuk terus bermanfaat bagi sekelilingnya.Aamiin.
Hari Sabtu, Mamao sudah bisa berdiri dan belajar berjalan. Hari itu pula dokter menjadwalkan Mamao pulang ke rumah. Cuma Mamao yang pulang Syahrul masih berjuang dengan hidupnya di NICU. Berat dan sedih. Pagi-pagi sekali setelah membersihkan badan, Mamao merengek ke Babah minta di antar ke NICU.Babah kemudian meminjam kursi roda di ruang perawat.ini hari pertama Mamao bertemu Syahrul.Babah sudah mewanti-wanti Mamao agar jangan menangis terlalu ekstrem. Mamao Cuma mengangguk, enggak janji juga sih.hehehe.
Sampai di pintu PICU Mamao mulai deg-degan. Mungkin yang ditakutkan Babah Mamao bisa pingsan atau semacamnya. Di pintu pertama terlihat beberapa bed terisi pasien yang tengah di rawat. Di samping bed terdapat layar monitor entah apa namanya, dan perawat yang tengah mencatat perkembangan pasien di papan besar. Papannya bisa alihfungsi jadi meja sepertinya karena bisa dipindah-pindah. Di ujung ruangan ada kamar berdinding kaca.di pintunya tertulis NICU. Jantung Mamao berdebar-debar dari luar terlihat infant warmer[2] dan bayi berselimut orange. Sebelum memasuki ruang kaca itu mama mencuci tangan dengan sanitizer di dekat pintu. Syahrul tengah tertidur. Badannya kecil sekali. Bahkan wajahnya tak bisa Mamao lihat jelas karena begitu banyaknya piranti medis yang menempel di badannya. Ventilator membantu nafasnya beberapa kali selang yang menempel di hidungnya terlepas. Pelan pelan Babah menyingkapkan selimut berwarna orange tersebut. Satu per satu Babah tunjukkan ke Mamao. Tangan kanannya benar – benar tak tumbuh jari, dada kanannya cekung seolah berlubang karena tulang dada yang tak terbentuk. Terlihat jantungnya ikut mengembung ke permukaan bila Syahrul tengah menangis dan terakhir kedua kakinya yang bengkok ke dalam. Ya Allah angkat sakitnya, angkat penderitaannya. Jika memang engkau menghendaki bawalah pulang ke PangkuanMU.Doa Mamao lirih tak mampu menahan rasa pedih. Mamao ingin sekali menciumnya tapi apadaya Mamao pendek jadi enggak nyampe Cuma bisa mengelus-elus pipinya.Tapi jauh di lubuk hati Mamao tumbuh keyakinan, Syahrul bisa sehat. Enggak apa-apa cacat fisiknya namun Mamao juga mulai belajar mengikhlaskan bila sesuatu yang buruk terjadi. Melihat keadaannya saat itu tidak mungkin Syahrul bisa pulang ke rumah bareng Mamao
Menjelang siang Babah merampungkan administrasi untuk kepulangan Mamao. YA Allah rasanya nano-nano seneng bisa lihat rumah kumpul sama Kak Haura dan Syakira tapi Sedih ingat Syahrul di sini sendirian. Kebayang sanak keluarga nanti yang datang ke rumah menanyakan macam-macam.Pikirannya bercabang tak karuan. Saat ini mental Mamao harus sekuat baja. Bully atau nyinyiran orang-orang di luar sana harus Mamao berani hadapi. Tapi kenyataan tidak semudah itu Ferguso!, rasa sedih itu tetap tidak bisa disembunyikan, terlebih saat kakak sulung Mamao yang baru pulang dari Bogor datang untuk menjemput Mamao. Tangis Mamao kembali pecah.
“Kita hadapi bareng-bareng”ujar Mas Sus seraya memeluk adik bungsunya tersebut.Pukul 14.00 administrasi selesai Babah melapor ke perawat jaga untuk serah terima pasien. Mamao diantar menggunakan kursi roda menuju loby rumah sakit. Dalam perjalanan menuju loby tersebut Mamao berbincang sejenak dengan perawat tersebut.
“Mbak, rumah sakit segede gini apa enggak pernah ada perawat atau dokter yang tersesat?” tanya Mamao.
“Ya, satu dua pernah , Bu, tapi ya selama masih ada jalan pasti enggak jadi tersesat paling Cuma muter-muter lebih jauh”jawab perawat tersebut sambil tertawa kecil.  Aah kata-kata perawat ini filosofis sekali, seolah berusaha menentramkan hati Mamao atau Mamao saja yang lagi baper?.Sesampai di loby sebelum perawat itu kembali masuk ke bangsal untuk melanjutkan tugasnya beliau berpesan sesuatu pada Mamao.
“Saya yakin ada rasa kecewa pada diri Ibu, tapi ingat Allah selalu memberikan masalah pasti satu paket dengan solusinya”kata perawat itu, kali ini kata-katanya terdengar dari hati tak sekedar basa-basi belaka. Yah, Mamao merasa hampir semua perawat yang merawat dirinya melihat dirinya dengan rasa iba, tak sedikit yang menguatkan dan memberi dukungan moril. Tapi perawat yang satu ini menyampaikan dengan penuh rasa tulus.


[1] Semacam alas yang dapat menyerap cairan dengan cepat dan mudah.
[2]Alat penghangat bayi



[1] Neonatal intensive care unit adalah ruang perawatan intensif di rumah sakit yang disediakan khusus untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar