Selasa, 09 Juni 2020

Ponseti Step

Seminggu setelah Syahrul pulang dari RS, Syahrul dijadwalkan kontrol ke dokter spesialis anak dan dokter orthopedi. Karena jadwal kedua dokter tersebut tidak bersamaan akhirnya dalam seminggu itu Syahrul bolak-balik ke rs. Kontrol pertama di dokter spesialis anak. Setelah menunggu lumayan lama dokter yang kemarin sempat ke luar negeri itu akhirnya datang. Karena sudah didaftarkan jauh hari Syahrul mendapat no urut satu.

“Alhamdulillah atas izin Allah dan doa bapak ibu, anak ibu bisa pulang. Saya ikut senang mendengarnya” ucap dokter berkaca mata tersebut. Menurut Babah selama Syahrul di rs dokter hanya tersebut yang memberi motivasi pada Babah agar tetap optimis saat Syahrul dalam kondisi kritis. Meski dokter tersebut juga tak bisa menyembunyikan ketakjubannya melihat Syahrul bisa secepat itu pulih.

“Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, dok?” tanya Babah. Dokter tersebut menyarankan agar Syahrul dirujuk ke Sardjito mengingat peralatan di sana jauh lebih lengkap. Dokter juga merekomendasikan rekan sejawatnya salah satu dokter spesialis perinalogi[1] di Sardjito namun dokter tersebut ternyata juga tengah tugas kerja ke luar negeri kurang lebih 1 minggu. Haduh...dokternya pada musim liburan kali ya.hahaha. sebenarnya agak sedikit kecewa karena tidak ada tindak lanjut yang nyata. Bahkan surat rujukan pun tidak diberikan. Nah bingung kan Mamao dan Babah.

Selang sehari Syahrul menemui dokter ortopedi. Namun berhubung dokter ortopedi yang dulu menangani Syahrul selama dirawat di rs sedang berhalangan hadir akhirnya Syahrul ditemui oleh dokter ortopedi pengganti. Sebelum melakukan tindakan dokter tersebut menjelaskan sedikit tentang teknik ponseti[2] untuk mengkoreksi bentuk kaki CTEV[3] Syahrul. Jadi kaki Syahrul akan digips selama seminggu. Nanti kalau udah seminggu dilepas, digips lagi sampai kurang lebih 6-8 kali. Jika bisa terkoreksi bentuk kakinya maka akan dilanjutkan gips sampai 12-15 kali.tapi kalau tidak terkoreksi akan dilakukan operasi achilles. Pikiran Mamao mulai parno, selama ini Mamao kalau lihat orang digips pasti karena retak atau patah tulang, pakai pen dan pikiran aneh-aneh lainnya. Termasuk caranya ngegips gimana ya?. Entah Mamao itu beruntung atau gimana, saat menunggu antrian tindakan ada ibu-ibu muda gendong anak, menyapa Mamao “yang sakit siapa, Mbak?” tanya ibu muda itu. Ah barulah Mamao sadar rata-rata yang masuk poli tersebut orang dewasa dengan penampilan memakai kursi roda atau kruk, bagian tubuh yang di gips. “Anak saya, Mbak” jawab saya sambil memperlihatkan kaki Syahrul.Sontak ibu muda tadi memanggil adiknya yang tengah duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.”Eh kakinya kayak (menyebut nama anaknya, Mamao lupa)”seru ibu muda tersebut.

“dulu anak saya juga kayak gini Mbak, ini sudah 6 kali gips besok mau pake sepatu” lanjut ibu muda itu memamerkan gips di kaki anaknya yang masih basah.Mamao pun tak kalah kaget. Setelah diselidik kelainan anak itu hanya pada kakinya, keseluruhannya sehat. Bahkan bobotnya pun meningkat pesat sejak dari lahir.

“Sakit enggak ya Mbak”tanya Mamao.

“Enggak Mbak anak saya enggak pernah nangis digips” jawabnya.

“di rumah rewel enggak?” tanya Mamao lagi.

“Enggak juga Mbak” jawab ibu muda itu. Mamao sedikit lega ada kasus yang sama. Dan sepertinya berjalan sukses.

Tidak berapa lama nama Syahrul dipanggil di ruang tindakan. Syahrul dibaringkan di bed yang telah diberi alas berbahan vinyl. Di samping bed terdapat baskom berisi air hangat dan gulungan putih sekilas seperti lembaran dacron dan 2 bungkus kassa khusus gips di bungkusnya tertulis merk Poliban.

Dokter ortopedi masuk ke ruang tindakan diikuti 2 perawat perempuan berseragam  hijau. Dokter sedikit melakukan pijat ringan tapi Mamao melihatnya seperti tengah memelintir kaki Syahrul ke posisi kaki normal. Syahrul mulai menjerit kesakitan. Aduh ibu tadi pasti bohong nih, lha ini Syahrul nangisnya sampai suaranya tercekat. Setelah diposisi yang diharapkan dokter kemudian mulai membebatkan gulungan putih di kaki Syahrul dari Paha atas hingga telapak kaki. Tinggal menyisakan jari-jari kaki yang terbebas dari bebatan gulungan putih. Kassa bermerk Poliban tersebut kemudian dicelupkan ke dalam air di baskom, begitu kassa tersebut menjadi lunak seperti tercampur gamping kemudian di bebatkan di kaki Syahrul yang telah dilapisi busa tipis tadi. Setelah seluruh kaki tertutup kassa,dokter meratakan permukaan kaki sehingga permukaan kassa yang kasar berangsur-angsur menjadi halus. Terjawab sudah gimana cara gips. Mamao kira digypsum macam eternit horang kaya.Hahaha.Mamao coba cari-cari foto Syahrul pas dipasang gips di rs kok ngilang ya. Ya sudah ini penampakan Syahrul pas pake gips entah gips ponseti ke berapa ini


Seperti yang disarankan oleh dokter minggu depan sebelum ganti gips, gips lama harus sudah dilepas dirumah jadi di RS tinggal ganti baru saja. Caranya gimana Mamao?Kalau menurut intruksi dokternya gipsnya diberi handuk basah, tapi itu caranya bisa memakan waktu lama banget agar gipsnya bisa lunak. Pertama kali lepas gips Syahrul kakinya direndam di baskom berisi air hangat tapi Syahrul malah jadi rewel mungkin karena kelamaan berendam kali ya. Terus Mamao inisiatif  merendam kaki Syahrul di kantong plastik berisi air hangat. Lebih mudah megangin Syahrulnya kalau pakai plastik kalau pakai baskom kaki Syahrul tidak seluruhnya terendam air. Nanti kalau sudah lunak perbannya tinggal dilepas. Proses paling lama 1 jam tergantung ketebalan gipsnya. Syahrul pernah digips tipis banget,Cuma pakai semacam kaos kaki tipis jadi lepasnya cepet banget. Kalau aslinya melepas gips itu ada alat khusus kok semacam gergaji listrik gitu. Nanti InsayAllah Mamao tunjukin video pas Syahrul melepas gips pakai alat pasca operasi ya.

 Singkat cerita Syahrul akhirnya menjalani proses ponseti sebanyak total 16 kali di 2 rumah sakit berbeda. Ada banyak cerita selama proses ponseti. Mulai dari gonta-ganti dokter. FYI ternyata untuk ponseti enggak semua dokter ortopedi bisa.pernah kaki Syahrul lututnya lecet karena ponsetinya enggak pas. Berbekas sampai sekarang.Agak ngos-ngosan di 3-4 ponseti awal karena budgetnya dari kantong sendiri waktu itu belum daftar BPJS,Pertemuan dengan Profesor Armis, antri pagi ditindak sore. Sampai kerap jadi pasien terakhir yang ditangani. Sampai akhirnya Syahrul harus mengakhiri proses ponseti dengan operasi tendon achilles.

 “Sudah 15 kali gips berarti harus operasi ini, Pak. Karena kaki kanannya masih kurang terkoreksi” kata dokter ortopedi anak di Sardjito tersebut.

“haduh, Pak tadi di rumah pamitnya Cuma mau ngegips” jawab Babah. Mamao dan Babah sontak kaget dengan rencana operasi tersebut karena di pertemuan awal dengan profesor dikatakan bahwa profesor tidak menyetujui tindakan operasi karena melalui ponseti dirasa sudah cukup meski harus melalui belasan hingga puluhan kali ponseti.

“Kalau bisa untuk sementara di gips dulu saja bagaimana Dok, agar bisa kami koordinasi dengan keluarga di rumah. Karena di rumah masih ada 2 kakaknya. Kalau dadakan pasti repot” pinta Babah kepada dokter yang baru saja pindah dari kalimantan tersebut.

“Oke, untuk sekarang bisa tapi minggu depan tolong dipertimbangkan ya untuk operasinya. Ini bukan operasi besar Cuma disobek sedikit urat diatas tungkainya. Dibius total. Enggak ada 1 jam operasinya. Jadi jangan bayangkan ini operasi pakai pen atau yang serem-serem, Bu” ujar dokter sembari menjelaskan pada Mamao yang masih dihantui ke’ngeri’an operasi tulang.

But, akhirnya Syahrul baru bisa operasi selang 2 minggu dari terakhir kontrol karena kebetulan Syahrul sempat batuk pilek dan bebarengan dengan jadwal kontrol dengan poli lain. Itu pun operasi sempat tertunda 1 hari karena dokter anestesi sempat ragu dengan kondisi nafas Syahrul. Sampai pada akhirnya operasi tetap dilanjutkan sembari dokter telah menyiapkan kamar NICU, untuk berjaga-jaga jika kondisinya memburuk. Segawat itukah Syahrul di mata dokter anestesi padahal dokter anak, hasil rontgen dan cek darah  juga sudah menyatakan Syahrul dalam kondisi fit.

Finally, operasi berlangsung tgl 21 Februari 2020, waktu itu usia Syahrul 5 bulan.Enggak ada 1 jam, dan tak ada kendala berarti. Begitu tiba di ruang pemulihan Syahrul langsung tersadar dan menangis. Alhamdulillah NICUnya enggak jadi kepake. Pagi operasi, malamnya dokter memperbolehkan Syahrul pulang. Dan tahu enggak sodara-sodara luka operasi Syahrul sebenarnya kecil enggak ada 3 cm dibandingkan sama luka sunatan jauh lebih gede luka sunat. Tapi biaya operasinya berlipat ganda dibanding biaya sunat. Totally 3 hari 2 malam di rs habis biaya 12 jutaan!. Bayar cash, Ma?Enggak pake BPJS kok..hehehe.

                                          Syahrul selesai operasi tendon Achilles

Sehabis operasi kaki Syahrul masih di gips Cuma bedanya gips ini tidak boleh dibuka selama 1 bulan. Dan untuk buka gipsnya harus ke rs karena nanti gips yang sudah dibuka bisa dipakaikan lagi andaikan sepatu dennis brownnya belum jadi.


Syahrul ketika buka gips pasca operasi tendon Achilles

    Serem enggak tuh liatnya?. Pas buka kaki kirinya oleh dokter yang senior Mamao masih ayem tapi begitu kaki kanannya dibuka gantian sama dokter yang lebih muda, Mamao mulai was-was takut gergajinya kebablasan kena kakinya Syahrul. Eh dokter senior itu malah ketawain Mamao yang terlihat beberapa kali menyipitkan kelopak matanya bergidik ngeri melihat tindakan itu.

“Walah bu ini enggak apa-apa, tuh kena kulit saya enggak apa-apa. Sini coba tangan ibu “ ujar dokter itu sambil memamerkan gergaji itu beberapa kali mengesek lengan tangan dokter tersebut.Mamao Cuma nyengir. Enggak deh dok. Mamao bukan limbad. Hahaha. Selesai dibuka gipsnya, dokter meminta gipsnya di bawa pulang untuk nanti dipakaikan lagi kalau misal sepatunya belum jadi. Misalkan udah jadi sepatunya dokter juga mengharuskan agar Syahrul kontrol satu minggu setelahnya.

But sehari sebelumnya Mamao sudah ada janji dengan salah satu pembuat sepatu afo di daerah babarsari rekomendasi dari Mbak Febfi. Oia siapa mbak Febfi itu? Nanti Mamao kasih ulasan lengkapnya di tulisan mendatang ya. Selepas Ashar Mamao dan Syahrul diantar Babah untuk mengukur sepatu dennis brown ke tempat Pak Sholeh membuka usahanya. Namun karena waktu itu awal-awal muncul wabah Corona Mamao sengaja tidak mengajak kedua kakaknya. Sesampai di sana kami ditemui oleh karyawan pak Sholeh dan kali ini entah sepertinya semuanya dimudahkan Allah, di bengkel tersebut ternyata masih tersisa stok sepatu dennis brown yang sesuai dengan ukuran kaki Syahrul. Jadilah saat itu juga Syahrul pulang memakai sepatu dennis brown.


Okey sementara sekian ya cerita tentang ponseti kaki Syahrul. Karena sampai cerita ini ditulis, wabah Corona belum juga usai. Otomatis Syahrul juga belum kontrol ke dokter. Episode berikutnya Mamao cerita tentang perjalanan medis, wuih perjalanan medis? Hahaha ya karena ada beberapa poli yang Syahrul mesti jalani kurang lebih 7 poli termasuk poli ortopedi ya. Siap? Pantengin terus blog ini ya?eh emang ada yang baca ya Ma?Abaikan ada atau enggak tetep nulis Mamao!!!!.



[1] unit pelayanan khusus bagi bayi baru lahir yang mempunyai masalah/ sakit sampai usia satu bulan

[2]  teknik manipulatif yang mengoreksi kaki pengkor bawaan tanpa operasi invasif.

[3] Congenital Talipes Equinovarus adalah kelainan bawaan kaki yang menyebabkan kekakuan otot dan tendon bagian dalam kaki sehingga tendon menjadi pendek dan menarik  kaki ke  arah dalam.


Senin, 01 Juni 2020

Doa yang Tak Kunjung Henti

Selama Mamao di RS ternyata banyak saudara, tetangga, teman dan sahabat yang datang ke rumah. Namun apadaya Mamao masih di RS mereka terpaksa hanya bisa bertemu dengan Babah atau Bapak Ibu di rumah. Malah sebagian ada yang nekat ke RS tapi tetep enggak bisa ketemu Syahrul jadi Cuma ketemu Mamao aja. Ada satu cerita yang masih terngiang di hati Mamao saat di RS. Waktu itu jam menunjukkan pukul 17.00 lalu lalang pengunjung besuk berdatangan. Mamao baru saja selesai mandi di kamar mandi yang terletak kira-kira 100 meter dari bangsal anak. Ketika tengah menuju kamar tunggu pandangan mata Mamao tertuju pada sosok laki-laki yang terlihat familiar di matanya.

“Pak Sugeng, ngapain di sini?” tanya Mamao pada laki-laki yang tengah berbincang singkat dengan dua temannya. Sontak Pak Sugeng menoleh ke arah Mamao. Tak kalah terkejutnya.

“Lha kamu sendiri kenapa di sini, Lia?” tanya Pak Sugeng balik seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan mantan rekan kerjanya dulu. Mamao malah cengegesan. Pak Sugeng kemudian mengenalkan 2 rekannya yang ikut bersamanya.

“Saya mau jenguk teman saya dia habis melahirkan” jawab Pak Sugeng pendek.

“Kalau habis melahirkan bukan di bangsal ini pak Sugeng, tapi di bangsal lantai 3” timpal Mamao.

“Kemarin di WA katanya di rawat di RS ini lantai 4” sanggah Pak Sugeng, “ini sudah di hubungi tapi tidak membalas” tambah Pak Sugeng.Tepat saat Pak Sugeng berhenti bicara salah satu temannya berujar “Sudah pulang ternyata tadi malam, barusan dicek sama perawatnya”

Mamao mencoba mengingat-ingat. Semalam memang ada pasien bayi yang sakit kuning dan menjalani fototerapi di kamar bayi. Ibu bayi tersebut juga sempat berbincang-bincang sebentar dengan Mamao semalam sesaat sebelum pulang dan mendoakan agar Mamao dan Syahrul bisa segera pulang ke rumah. Tak disangka ibu tersebut adalah rekan kerja Pak Sugeng di perusahaan tempat Mamao dulu bekerja.

Dua teman Pak Sugeng kemudian memutuskan untuk pamit pulang terlebih dahulu. Sementara Pak Sugeng masih ngobrol dengan Mamao di kursi lorong depan bangsal anak. Kebetulan Babah sedang berada di kamar tunggu, Mamao segera memanggil Babah.

“Bah, ada pak Sugeng di sini” kata Mamao

“Kok tahu Mamao di sini?”tanya Babah.Kemudian Mamao menjelaskan perihal Pak Sugeng yang mau menjenguk temannya tersebut. Mamao mulai bercerita tentang Syahrul.

“Sudah seminggu aku di sini Pak” tutur Mamao.Pak Sugeng kaget karena lama tidak bertemu tahu-tahu Mamao melahirkan lagi.Obrolan beralih tentang pekerjaan Pak Sugeng yang ternyata sekarang dipindahkan ke divisi lain dan kantor cabang di wilayah sleman utara. Mamao pun bertanya kabar teman-teman dan mantan atasannya dulu di kantor. Beberapa sudah resign beberapa masih bertahan. Ketika berpamitan pulang Pak Sugeng menyelipkan amplop di sela jabat tangannya dengan Mamao. Mamao sempat menolak namun Pak Sugeng bersikukuh agar Mamao menerima pemberian tersebut. Tidak terasa air mata haru mengalir di pipi Mamao. Pak Sugeng mulai menenangkan Mamao yang mulai menangis sesengukan sambil mengucapkan kata-kata menguatkan hati Mamao.

Kemudian ada lagi cerita satu keluarga eh 2 keluarga karena keluarga ini datang beserta anak dan menantunya. Mereka yang pertama kali datang menjenguk ke RS tapi hebatnya mereka menjenguk enggak pas jam besuk. Mamao ingat waktu itu hari Ahad siang jam besuk sudah lewat tapi entah dari mana mereka datang mengagetkan Mamao yang tengah duduk sendirian di kamar tunggu. Asli kaget Mamao.Setelah berbicang sejenak barulah Mamao tahu mereka datang tidak melalui loby rawat jalan tapi melalui pintu belakang kantin. Fiuh untung enggak ada satpam nunggu di depan lorong. Jadi mereka enggak kena marah satpam. Hahahaha

Banyak saudara dan teman menjenguk di rs tanpa  melihat Syahrul.Mamao hanya bisa menemui di lorong depan bangsal anak. Malah ada yang ke RS tapi setelah bertemu Babah di loby dan bilang Syahrul enggak bisa dilihat mereka balik kanan.Apapun itu Mamao tetap mengucapkan terimakasih atas doa dan perhatian keluarga, teman, sahabat dan bahkan doa sesama orangtua pasien di rs.

Setelah Syahrul pulang ke rumah hati Mamao kembali meleleh. Keluarga, saudara, teman dan sahabat yang sempat ‘kecelik’ kembali datang ke rumah. Mereka sepertinya penasaran dengan kondisi Syahrul kok bisa 2 minggu baru bisa dibawa pulang. Mamao sebagai ibunya belajar mengasah mental memiliki anak istimewa. Setiap ada tamu yang hendak menjenguk Mamao tunjukkan semua keistimewaan anaknya satu per satu. Tak ayal setiap yang datang pasti menunjukkan ekspresi terkejut, iba, sedih, tak sedikit juga yang kepo, “Dulu enggak ketahuan pa, Mbak?”. Aha andai udah ketahuan pun Mamao juga enggak tahu harus berbuat apa.

Mamao ingat ketika moment Bu Nyai menjenguk Syahrul. Mamao serahkan Syahrul agar digendong Bu Nyai. Jadilah Bu Nyai malah nangis sesengukan dan diikuti ibu-ibu yang lain setelah melihat fisik Syahrul.Mamao juga terharu tak kala ibu –ibu wali santri tpa Inayatullah datang berkunjung.Banyak di antara wali santri yang datang malah Mamao tidak kenal!.Meleleh deh Mamao.Ibu-ibu rt seberang yang Mamao yakin datang lantaran Mbah Utinya aktif di pengajian juga turut memanjatkan doa untuk kesembuhan Syahrul.Ternyata setelah ditelisik mereka mengetahui perihal keadaan Syahrul melalui Pengajian Sabtu Pahing yang diadakan oleh pondok pesantren Inayatullah rutin selapan sekali, saat-saat kritis Syahrul di NICU bertepatan dengan pengajian tersebut dan didoakan oleh Kyai Chamdani dan seluruh jamaah. Ya Allah, mungkin atas seizin Allah melalui doa-doa mereka Syahrul bisa melalui masa –masa kritisnya.

Mama-mama cantik wali murid TK Alfatah, tk tempat Kak Haura dulu sekolah juga turut datang menguatkan hati Mamao. Mama Tsaniya, Mama Daffa, Mama Atika, Mama Alie, Mama Fafa, Mama Alif, Mama Tarra. Love You All. dan ternyata ada yang ketinggalan info tentang kelahiran Syahrul. Yaitu wali murid SDIT Yaa Bunayya. Sempat membuat heboh komite sekolah. Mbak Maya Syarief selaku ketua komite kelas 1A sampai bilang tidak enak hati katanya karena telat mengetahuinya. Yap, waktu itu mereka mengetahui setelah Syahrul berusia 3 bulan. Sebenarnya bukan maksud Mamao diam-diam saja. Cuma kondisinya Mamao masih harus bolak-balik ke RS jadi enggak sempat share macem-macem.Jadi, pernah suatu hari Babah pas ada acara kerja bakti di sekolah kak Haura ngobrolin tentang Syahrul dengan beberapa bapak-bapak wali murid dan salah satu di antaranya dokter Desin, dokter spesialis di Sardjito.Selang 2 bulan dokter ini menyampaikan ke ketua komite. Sore hari ketua komite konfirmasi ke Babah, Paginya langsung silaturahmi ke rumah. MasyaAllah gercep banget mereka kalo untuk kegiatan sosial. Kemudian siang harinya gantian Mbak Maya yang ke konfirmasi ke Mamao. Masih dalam minggu yang sama Mbak Maya, Ummu Hafsoh,keluarga Ummu Alifia, keluarga Ummu Aisyah,silaturahmi ke rumah. Jujur ini pertama kalinya Mamao berinteraksi dengan mereka yang bercadar. Sempat ada rasa minder-minder gimana gitu, tapi ternyata mereka welcome banget. Gak beda-bedain sama yang enggak pakai cadar.

Masih inget cerita Mamao tentang anak itu membawa rezeki sendiri-sendiri. Sempet pesimis karena saat di rumah sakit apalagi waktu Syahrul di bangsal, uang yang di dompet Babah udah menipis karena buat wara-wiri dan operasional selama enggak jualan. Babah terpaksa pinjam ke ibu mertua dan mbah uti. Itu aja sebenernya masih kurang guys buat tebus Syahrul pulang. Siang hari pas mau urus kepulangan Syahrul Babah udah bawa BPKB motor dan mobil tua buat jaminan di RS karena terakhir dicek nominalnya udah 9 jutaan. Saat menuju kasir Mamao dan Babah iseng ngecek ke atm di loby RS. Begitu memasukan kartu ATM dan memencet beberapa tombol di mesin atm alangkah terkejutnya Mamao dan Babah, ternyata pencairan jamsostek yang sejatinya masih nunggu beberapa hari lagi udah cair. Allahu Akbar Mamao dan Babah tak henti-hentinya mengucap syukur. “Udah Bah kalo cukup langsung kita lunasin aja, yang besok kita pikir besok” kata Mamao. Babah mengangguk mengiyakan. Sampai di mbak mbak kasir angka yang muncul 12 juta sekian. Fiuh lega. Mamao bayar cash dan sebagian lewat mesin EDC di kasir. Percaya enggak semua sodara-sodara. Saya sama Babah sebelumnya Cuma minta ke Allah biar enggak punya hutang ke RS apalagi punya hutang ke bank. Aduh ngeRibanya bikin kapok. Tapi sama Allah langsung dijawab “Gak usah kawatir. Gak usah hutang rs ini tak kasih sisa 2 juta sekalian” ini yang bikin Mamao nangis. Allah begitu dengan sayangnya seperti tengah mengelus-elus kepala Mamao “Tenangno pikirmu[1]”. Mamao yang dari awal kehamilan udah khawatir soal dana seperti ditegur “Kandani kok ngeyel[2].Rezeki sudah dijamin” dan ada beberapa peristiwa nantinya yang menunjukkan kalau rezekimu semua sudah dijamin Allah. So, masih ngeyel?

Tentang rezeki tak semuanya dikaitkan dengan materi. Keluarga yang dengan tangan terbuka menerima keadaan Syahrul juga bagian dari rezeki Mamao dan Babah. Kak Haura dan Syakira pun tanpa Mamao jelaskan panjang lebar mereka tetap sayang dengan Syahrul. Pertama kali kak Syakira melihat tangan special Syahrul malah Syakira yang nangis. “Adik kasihan sekali, Ma” ucap Syakira waktu itu sambil terisak memegangi tangan kanan adiknya yang tak berjari. Merekalah yang membuat Mamao kuat menjalani hari. Begitu juga dengan sahabat,teman yang tetap memberi semangat dan doa baik langsung atau melalui pesan WA mereka juga bagian dari rezeki. Beruntunglah Mamao.dikelilingi oleh orang-orang yang begitu perhatian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Tenangkan pikiranmu (bahasa jawa)

[2] Dikasih tahu kok gak percaya