Seminggu
setelah Syahrul pulang dari RS, Syahrul dijadwalkan kontrol ke dokter spesialis
anak dan dokter orthopedi. Karena jadwal kedua dokter tersebut tidak bersamaan
akhirnya dalam seminggu itu Syahrul bolak-balik ke rs. Kontrol pertama di
dokter spesialis anak. Setelah menunggu lumayan lama dokter yang kemarin sempat
ke luar negeri itu akhirnya datang. Karena sudah didaftarkan jauh hari Syahrul
mendapat no urut satu.
“Alhamdulillah
atas izin Allah dan doa bapak ibu, anak ibu bisa pulang. Saya ikut senang
mendengarnya” ucap dokter berkaca mata tersebut. Menurut Babah selama Syahrul
di rs dokter hanya tersebut yang memberi motivasi pada Babah agar tetap optimis
saat Syahrul dalam kondisi kritis. Meski dokter tersebut juga tak bisa
menyembunyikan ketakjubannya melihat Syahrul bisa secepat itu pulih.
“Apa
yang harus kami lakukan selanjutnya, dok?” tanya Babah. Dokter tersebut
menyarankan agar Syahrul dirujuk ke Sardjito mengingat peralatan di sana jauh
lebih lengkap. Dokter juga merekomendasikan rekan sejawatnya salah satu dokter spesialis
perinalogi[1]
di Sardjito namun dokter tersebut ternyata juga tengah tugas kerja ke luar
negeri kurang lebih 1 minggu. Haduh...dokternya pada musim liburan kali
ya.hahaha. sebenarnya agak sedikit kecewa karena tidak ada tindak lanjut yang
nyata. Bahkan surat rujukan pun tidak diberikan. Nah bingung kan Mamao dan
Babah.
Selang
sehari Syahrul menemui dokter ortopedi. Namun berhubung dokter ortopedi yang
dulu menangani Syahrul selama dirawat di rs sedang berhalangan hadir akhirnya
Syahrul ditemui oleh dokter ortopedi pengganti. Sebelum melakukan tindakan
dokter tersebut menjelaskan sedikit tentang teknik ponseti[2]
untuk mengkoreksi bentuk kaki CTEV[3]
Syahrul. Jadi kaki Syahrul akan digips selama seminggu. Nanti kalau udah
seminggu dilepas, digips lagi sampai kurang lebih 6-8 kali. Jika bisa
terkoreksi bentuk kakinya maka akan dilanjutkan gips sampai 12-15 kali.tapi
kalau tidak terkoreksi akan dilakukan operasi achilles. Pikiran Mamao mulai
parno, selama ini Mamao kalau lihat orang digips pasti karena retak atau patah
tulang, pakai pen dan pikiran aneh-aneh lainnya. Termasuk caranya ngegips
gimana ya?. Entah Mamao itu beruntung atau gimana, saat menunggu antrian
tindakan ada ibu-ibu muda gendong anak, menyapa Mamao “yang sakit siapa, Mbak?”
tanya ibu muda itu. Ah barulah Mamao sadar rata-rata yang masuk poli tersebut orang
dewasa dengan penampilan memakai kursi roda atau kruk, bagian tubuh yang di
gips. “Anak saya, Mbak” jawab saya sambil memperlihatkan kaki Syahrul.Sontak
ibu muda tadi memanggil adiknya yang tengah duduk tak jauh dari tempatnya
berdiri.”Eh kakinya kayak (menyebut nama anaknya, Mamao lupa)”seru ibu muda
tersebut.
“dulu
anak saya juga kayak gini Mbak, ini sudah 6 kali gips besok mau pake sepatu”
lanjut ibu muda itu memamerkan gips di kaki anaknya yang masih basah.Mamao pun
tak kalah kaget. Setelah diselidik kelainan anak itu hanya pada kakinya,
keseluruhannya sehat. Bahkan bobotnya pun meningkat pesat sejak dari lahir.
“Sakit
enggak ya Mbak”tanya Mamao.
“Enggak
Mbak anak saya enggak pernah nangis digips” jawabnya.
“di
rumah rewel enggak?” tanya Mamao lagi.
“Enggak
juga Mbak” jawab ibu muda itu. Mamao sedikit lega ada kasus yang sama. Dan
sepertinya berjalan sukses.
Tidak
berapa lama nama Syahrul dipanggil di ruang tindakan. Syahrul dibaringkan di
bed yang telah diberi alas berbahan vinyl. Di samping bed terdapat baskom
berisi air hangat dan gulungan putih sekilas seperti lembaran dacron dan 2
bungkus kassa khusus gips di bungkusnya tertulis merk Poliban.
Dokter
ortopedi masuk ke ruang tindakan diikuti 2 perawat perempuan berseragam hijau. Dokter sedikit melakukan pijat ringan
tapi Mamao melihatnya seperti tengah memelintir kaki Syahrul ke posisi kaki
normal. Syahrul mulai menjerit kesakitan. Aduh ibu tadi pasti bohong nih, lha
ini Syahrul nangisnya sampai suaranya tercekat. Setelah diposisi yang
diharapkan dokter kemudian mulai membebatkan gulungan putih di kaki Syahrul
dari Paha atas hingga telapak kaki. Tinggal menyisakan jari-jari kaki yang
terbebas dari bebatan gulungan putih. Kassa bermerk Poliban tersebut kemudian
dicelupkan ke dalam air di baskom, begitu kassa tersebut menjadi lunak seperti
tercampur gamping kemudian di bebatkan di kaki Syahrul yang telah dilapisi busa
tipis tadi. Setelah seluruh kaki tertutup kassa,dokter meratakan permukaan kaki
sehingga permukaan kassa yang kasar berangsur-angsur menjadi halus. Terjawab sudah
gimana cara gips. Mamao kira digypsum macam eternit horang kaya.Hahaha.Mamao
coba cari-cari foto Syahrul pas dipasang gips di rs kok ngilang ya. Ya sudah
ini penampakan Syahrul pas pake gips entah gips ponseti ke berapa ini
Seperti
yang disarankan oleh dokter minggu depan sebelum ganti gips, gips lama harus
sudah dilepas dirumah jadi di RS tinggal ganti baru saja. Caranya gimana
Mamao?Kalau menurut intruksi dokternya gipsnya diberi handuk basah, tapi itu
caranya bisa memakan waktu lama banget agar gipsnya bisa lunak. Pertama kali
lepas gips Syahrul kakinya direndam di baskom berisi air hangat tapi Syahrul
malah jadi rewel mungkin karena kelamaan berendam kali ya. Terus Mamao
inisiatif merendam kaki Syahrul di
kantong plastik berisi air hangat. Lebih mudah megangin Syahrulnya kalau pakai
plastik kalau pakai baskom kaki Syahrul tidak seluruhnya terendam air. Nanti
kalau sudah lunak perbannya tinggal dilepas. Proses paling lama 1 jam
tergantung ketebalan gipsnya. Syahrul pernah digips tipis banget,Cuma pakai
semacam kaos kaki tipis jadi lepasnya cepet banget. Kalau aslinya melepas gips
itu ada alat khusus kok semacam gergaji listrik gitu. Nanti InsayAllah Mamao
tunjukin video pas Syahrul melepas gips pakai alat pasca operasi ya.
“Sudah 15 kali gips berarti harus operasi ini,
Pak. Karena kaki kanannya masih kurang terkoreksi” kata dokter ortopedi anak di
Sardjito tersebut.
“haduh,
Pak tadi di rumah pamitnya Cuma mau ngegips” jawab Babah. Mamao dan Babah
sontak kaget dengan rencana operasi tersebut karena di pertemuan awal dengan
profesor dikatakan bahwa profesor tidak menyetujui tindakan operasi karena
melalui ponseti dirasa sudah cukup meski harus melalui belasan hingga puluhan
kali ponseti.
“Kalau
bisa untuk sementara di gips dulu saja bagaimana Dok, agar bisa kami koordinasi
dengan keluarga di rumah. Karena di rumah masih ada 2 kakaknya. Kalau dadakan
pasti repot” pinta Babah kepada dokter yang baru saja pindah dari kalimantan
tersebut.
“Oke,
untuk sekarang bisa tapi minggu depan tolong dipertimbangkan ya untuk
operasinya. Ini bukan operasi besar Cuma disobek sedikit urat diatas
tungkainya. Dibius total. Enggak ada 1 jam operasinya. Jadi jangan bayangkan
ini operasi pakai pen atau yang serem-serem, Bu” ujar dokter sembari
menjelaskan pada Mamao yang masih dihantui ke’ngeri’an operasi tulang.
But,
akhirnya Syahrul baru bisa operasi selang 2 minggu dari terakhir kontrol karena
kebetulan Syahrul sempat batuk pilek dan bebarengan dengan jadwal kontrol
dengan poli lain. Itu pun operasi sempat tertunda 1 hari karena dokter anestesi
sempat ragu dengan kondisi nafas Syahrul. Sampai pada akhirnya operasi tetap
dilanjutkan sembari dokter telah menyiapkan kamar NICU, untuk berjaga-jaga jika
kondisinya memburuk. Segawat itukah Syahrul di mata dokter anestesi padahal
dokter anak, hasil rontgen dan cek darah juga sudah menyatakan Syahrul dalam kondisi
fit.
Finally,
operasi berlangsung tgl 21 Februari 2020, waktu itu usia Syahrul 5 bulan.Enggak
ada 1 jam, dan tak ada kendala berarti. Begitu tiba di ruang pemulihan Syahrul
langsung tersadar dan menangis. Alhamdulillah NICUnya enggak jadi kepake. Pagi
operasi, malamnya dokter memperbolehkan Syahrul pulang. Dan tahu enggak
sodara-sodara luka operasi Syahrul sebenarnya kecil enggak ada 3 cm
dibandingkan sama luka sunatan jauh lebih gede luka sunat. Tapi biaya
operasinya berlipat ganda dibanding biaya sunat. Totally 3 hari 2 malam di rs
habis biaya 12 jutaan!. Bayar cash, Ma?Enggak pake BPJS kok..hehehe.
Syahrul selesai operasi tendon Achilles
Sehabis operasi kaki Syahrul masih di gips Cuma bedanya gips ini tidak boleh dibuka selama 1 bulan. Dan untuk buka gipsnya harus ke rs karena nanti gips yang sudah dibuka bisa dipakaikan lagi andaikan sepatu dennis brownnya belum jadi.
Syahrul
ketika buka gips pasca operasi tendon Achilles
Serem
enggak tuh liatnya?. Pas buka kaki kirinya oleh dokter yang senior Mamao masih
ayem tapi begitu kaki kanannya dibuka gantian sama dokter yang lebih muda,
Mamao mulai was-was takut gergajinya kebablasan kena kakinya Syahrul. Eh dokter
senior itu malah ketawain Mamao yang terlihat beberapa kali menyipitkan kelopak
matanya bergidik ngeri melihat tindakan itu.
“Walah
bu ini enggak apa-apa, tuh kena kulit saya enggak apa-apa. Sini coba tangan ibu
“ ujar dokter itu sambil memamerkan gergaji itu beberapa kali mengesek lengan
tangan dokter tersebut.Mamao Cuma nyengir. Enggak deh dok. Mamao bukan limbad.
Hahaha. Selesai dibuka gipsnya, dokter meminta gipsnya di bawa pulang untuk
nanti dipakaikan lagi kalau misal sepatunya belum jadi. Misalkan udah jadi
sepatunya dokter juga mengharuskan agar Syahrul kontrol satu minggu setelahnya.
But
sehari sebelumnya Mamao sudah ada janji dengan salah satu pembuat sepatu afo di
daerah babarsari rekomendasi dari Mbak Febfi. Oia siapa mbak Febfi itu? Nanti
Mamao kasih ulasan lengkapnya di tulisan mendatang ya. Selepas Ashar Mamao dan
Syahrul diantar Babah untuk mengukur sepatu dennis brown ke tempat Pak Sholeh
membuka usahanya. Namun karena waktu itu awal-awal muncul wabah Corona Mamao
sengaja tidak mengajak kedua kakaknya. Sesampai di sana kami ditemui oleh
karyawan pak Sholeh dan kali ini entah sepertinya semuanya dimudahkan Allah, di
bengkel tersebut ternyata masih tersisa stok sepatu dennis brown yang sesuai
dengan ukuran kaki Syahrul. Jadilah saat itu juga Syahrul pulang memakai sepatu
dennis brown.
Okey
sementara sekian ya cerita tentang ponseti kaki Syahrul. Karena sampai cerita
ini ditulis, wabah Corona belum juga usai. Otomatis Syahrul juga belum kontrol
ke dokter. Episode berikutnya Mamao cerita tentang perjalanan medis, wuih
perjalanan medis? Hahaha ya karena ada beberapa poli yang Syahrul mesti jalani
kurang lebih 7 poli termasuk poli ortopedi ya. Siap? Pantengin terus blog ini
ya?eh emang ada yang baca ya Ma?Abaikan ada atau enggak tetep nulis Mamao!!!!.
[1] unit
pelayanan khusus bagi bayi baru lahir yang mempunyai masalah/ sakit sampai usia
satu bulan
[2] teknik manipulatif yang mengoreksi kaki pengkor bawaan
tanpa operasi invasif.
[3]
Congenital Talipes Equinovarus adalah kelainan bawaan kaki yang menyebabkan
kekakuan otot dan tendon bagian dalam kaki sehingga tendon menjadi pendek dan
menarik kaki ke arah dalam.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar