Selasa, 09 Juni 2020

Ponseti Step

Seminggu setelah Syahrul pulang dari RS, Syahrul dijadwalkan kontrol ke dokter spesialis anak dan dokter orthopedi. Karena jadwal kedua dokter tersebut tidak bersamaan akhirnya dalam seminggu itu Syahrul bolak-balik ke rs. Kontrol pertama di dokter spesialis anak. Setelah menunggu lumayan lama dokter yang kemarin sempat ke luar negeri itu akhirnya datang. Karena sudah didaftarkan jauh hari Syahrul mendapat no urut satu.

“Alhamdulillah atas izin Allah dan doa bapak ibu, anak ibu bisa pulang. Saya ikut senang mendengarnya” ucap dokter berkaca mata tersebut. Menurut Babah selama Syahrul di rs dokter hanya tersebut yang memberi motivasi pada Babah agar tetap optimis saat Syahrul dalam kondisi kritis. Meski dokter tersebut juga tak bisa menyembunyikan ketakjubannya melihat Syahrul bisa secepat itu pulih.

“Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, dok?” tanya Babah. Dokter tersebut menyarankan agar Syahrul dirujuk ke Sardjito mengingat peralatan di sana jauh lebih lengkap. Dokter juga merekomendasikan rekan sejawatnya salah satu dokter spesialis perinalogi[1] di Sardjito namun dokter tersebut ternyata juga tengah tugas kerja ke luar negeri kurang lebih 1 minggu. Haduh...dokternya pada musim liburan kali ya.hahaha. sebenarnya agak sedikit kecewa karena tidak ada tindak lanjut yang nyata. Bahkan surat rujukan pun tidak diberikan. Nah bingung kan Mamao dan Babah.

Selang sehari Syahrul menemui dokter ortopedi. Namun berhubung dokter ortopedi yang dulu menangani Syahrul selama dirawat di rs sedang berhalangan hadir akhirnya Syahrul ditemui oleh dokter ortopedi pengganti. Sebelum melakukan tindakan dokter tersebut menjelaskan sedikit tentang teknik ponseti[2] untuk mengkoreksi bentuk kaki CTEV[3] Syahrul. Jadi kaki Syahrul akan digips selama seminggu. Nanti kalau udah seminggu dilepas, digips lagi sampai kurang lebih 6-8 kali. Jika bisa terkoreksi bentuk kakinya maka akan dilanjutkan gips sampai 12-15 kali.tapi kalau tidak terkoreksi akan dilakukan operasi achilles. Pikiran Mamao mulai parno, selama ini Mamao kalau lihat orang digips pasti karena retak atau patah tulang, pakai pen dan pikiran aneh-aneh lainnya. Termasuk caranya ngegips gimana ya?. Entah Mamao itu beruntung atau gimana, saat menunggu antrian tindakan ada ibu-ibu muda gendong anak, menyapa Mamao “yang sakit siapa, Mbak?” tanya ibu muda itu. Ah barulah Mamao sadar rata-rata yang masuk poli tersebut orang dewasa dengan penampilan memakai kursi roda atau kruk, bagian tubuh yang di gips. “Anak saya, Mbak” jawab saya sambil memperlihatkan kaki Syahrul.Sontak ibu muda tadi memanggil adiknya yang tengah duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.”Eh kakinya kayak (menyebut nama anaknya, Mamao lupa)”seru ibu muda tersebut.

“dulu anak saya juga kayak gini Mbak, ini sudah 6 kali gips besok mau pake sepatu” lanjut ibu muda itu memamerkan gips di kaki anaknya yang masih basah.Mamao pun tak kalah kaget. Setelah diselidik kelainan anak itu hanya pada kakinya, keseluruhannya sehat. Bahkan bobotnya pun meningkat pesat sejak dari lahir.

“Sakit enggak ya Mbak”tanya Mamao.

“Enggak Mbak anak saya enggak pernah nangis digips” jawabnya.

“di rumah rewel enggak?” tanya Mamao lagi.

“Enggak juga Mbak” jawab ibu muda itu. Mamao sedikit lega ada kasus yang sama. Dan sepertinya berjalan sukses.

Tidak berapa lama nama Syahrul dipanggil di ruang tindakan. Syahrul dibaringkan di bed yang telah diberi alas berbahan vinyl. Di samping bed terdapat baskom berisi air hangat dan gulungan putih sekilas seperti lembaran dacron dan 2 bungkus kassa khusus gips di bungkusnya tertulis merk Poliban.

Dokter ortopedi masuk ke ruang tindakan diikuti 2 perawat perempuan berseragam  hijau. Dokter sedikit melakukan pijat ringan tapi Mamao melihatnya seperti tengah memelintir kaki Syahrul ke posisi kaki normal. Syahrul mulai menjerit kesakitan. Aduh ibu tadi pasti bohong nih, lha ini Syahrul nangisnya sampai suaranya tercekat. Setelah diposisi yang diharapkan dokter kemudian mulai membebatkan gulungan putih di kaki Syahrul dari Paha atas hingga telapak kaki. Tinggal menyisakan jari-jari kaki yang terbebas dari bebatan gulungan putih. Kassa bermerk Poliban tersebut kemudian dicelupkan ke dalam air di baskom, begitu kassa tersebut menjadi lunak seperti tercampur gamping kemudian di bebatkan di kaki Syahrul yang telah dilapisi busa tipis tadi. Setelah seluruh kaki tertutup kassa,dokter meratakan permukaan kaki sehingga permukaan kassa yang kasar berangsur-angsur menjadi halus. Terjawab sudah gimana cara gips. Mamao kira digypsum macam eternit horang kaya.Hahaha.Mamao coba cari-cari foto Syahrul pas dipasang gips di rs kok ngilang ya. Ya sudah ini penampakan Syahrul pas pake gips entah gips ponseti ke berapa ini


Seperti yang disarankan oleh dokter minggu depan sebelum ganti gips, gips lama harus sudah dilepas dirumah jadi di RS tinggal ganti baru saja. Caranya gimana Mamao?Kalau menurut intruksi dokternya gipsnya diberi handuk basah, tapi itu caranya bisa memakan waktu lama banget agar gipsnya bisa lunak. Pertama kali lepas gips Syahrul kakinya direndam di baskom berisi air hangat tapi Syahrul malah jadi rewel mungkin karena kelamaan berendam kali ya. Terus Mamao inisiatif  merendam kaki Syahrul di kantong plastik berisi air hangat. Lebih mudah megangin Syahrulnya kalau pakai plastik kalau pakai baskom kaki Syahrul tidak seluruhnya terendam air. Nanti kalau sudah lunak perbannya tinggal dilepas. Proses paling lama 1 jam tergantung ketebalan gipsnya. Syahrul pernah digips tipis banget,Cuma pakai semacam kaos kaki tipis jadi lepasnya cepet banget. Kalau aslinya melepas gips itu ada alat khusus kok semacam gergaji listrik gitu. Nanti InsayAllah Mamao tunjukin video pas Syahrul melepas gips pakai alat pasca operasi ya.

 Singkat cerita Syahrul akhirnya menjalani proses ponseti sebanyak total 16 kali di 2 rumah sakit berbeda. Ada banyak cerita selama proses ponseti. Mulai dari gonta-ganti dokter. FYI ternyata untuk ponseti enggak semua dokter ortopedi bisa.pernah kaki Syahrul lututnya lecet karena ponsetinya enggak pas. Berbekas sampai sekarang.Agak ngos-ngosan di 3-4 ponseti awal karena budgetnya dari kantong sendiri waktu itu belum daftar BPJS,Pertemuan dengan Profesor Armis, antri pagi ditindak sore. Sampai kerap jadi pasien terakhir yang ditangani. Sampai akhirnya Syahrul harus mengakhiri proses ponseti dengan operasi tendon achilles.

 “Sudah 15 kali gips berarti harus operasi ini, Pak. Karena kaki kanannya masih kurang terkoreksi” kata dokter ortopedi anak di Sardjito tersebut.

“haduh, Pak tadi di rumah pamitnya Cuma mau ngegips” jawab Babah. Mamao dan Babah sontak kaget dengan rencana operasi tersebut karena di pertemuan awal dengan profesor dikatakan bahwa profesor tidak menyetujui tindakan operasi karena melalui ponseti dirasa sudah cukup meski harus melalui belasan hingga puluhan kali ponseti.

“Kalau bisa untuk sementara di gips dulu saja bagaimana Dok, agar bisa kami koordinasi dengan keluarga di rumah. Karena di rumah masih ada 2 kakaknya. Kalau dadakan pasti repot” pinta Babah kepada dokter yang baru saja pindah dari kalimantan tersebut.

“Oke, untuk sekarang bisa tapi minggu depan tolong dipertimbangkan ya untuk operasinya. Ini bukan operasi besar Cuma disobek sedikit urat diatas tungkainya. Dibius total. Enggak ada 1 jam operasinya. Jadi jangan bayangkan ini operasi pakai pen atau yang serem-serem, Bu” ujar dokter sembari menjelaskan pada Mamao yang masih dihantui ke’ngeri’an operasi tulang.

But, akhirnya Syahrul baru bisa operasi selang 2 minggu dari terakhir kontrol karena kebetulan Syahrul sempat batuk pilek dan bebarengan dengan jadwal kontrol dengan poli lain. Itu pun operasi sempat tertunda 1 hari karena dokter anestesi sempat ragu dengan kondisi nafas Syahrul. Sampai pada akhirnya operasi tetap dilanjutkan sembari dokter telah menyiapkan kamar NICU, untuk berjaga-jaga jika kondisinya memburuk. Segawat itukah Syahrul di mata dokter anestesi padahal dokter anak, hasil rontgen dan cek darah  juga sudah menyatakan Syahrul dalam kondisi fit.

Finally, operasi berlangsung tgl 21 Februari 2020, waktu itu usia Syahrul 5 bulan.Enggak ada 1 jam, dan tak ada kendala berarti. Begitu tiba di ruang pemulihan Syahrul langsung tersadar dan menangis. Alhamdulillah NICUnya enggak jadi kepake. Pagi operasi, malamnya dokter memperbolehkan Syahrul pulang. Dan tahu enggak sodara-sodara luka operasi Syahrul sebenarnya kecil enggak ada 3 cm dibandingkan sama luka sunatan jauh lebih gede luka sunat. Tapi biaya operasinya berlipat ganda dibanding biaya sunat. Totally 3 hari 2 malam di rs habis biaya 12 jutaan!. Bayar cash, Ma?Enggak pake BPJS kok..hehehe.

                                          Syahrul selesai operasi tendon Achilles

Sehabis operasi kaki Syahrul masih di gips Cuma bedanya gips ini tidak boleh dibuka selama 1 bulan. Dan untuk buka gipsnya harus ke rs karena nanti gips yang sudah dibuka bisa dipakaikan lagi andaikan sepatu dennis brownnya belum jadi.


Syahrul ketika buka gips pasca operasi tendon Achilles

    Serem enggak tuh liatnya?. Pas buka kaki kirinya oleh dokter yang senior Mamao masih ayem tapi begitu kaki kanannya dibuka gantian sama dokter yang lebih muda, Mamao mulai was-was takut gergajinya kebablasan kena kakinya Syahrul. Eh dokter senior itu malah ketawain Mamao yang terlihat beberapa kali menyipitkan kelopak matanya bergidik ngeri melihat tindakan itu.

“Walah bu ini enggak apa-apa, tuh kena kulit saya enggak apa-apa. Sini coba tangan ibu “ ujar dokter itu sambil memamerkan gergaji itu beberapa kali mengesek lengan tangan dokter tersebut.Mamao Cuma nyengir. Enggak deh dok. Mamao bukan limbad. Hahaha. Selesai dibuka gipsnya, dokter meminta gipsnya di bawa pulang untuk nanti dipakaikan lagi kalau misal sepatunya belum jadi. Misalkan udah jadi sepatunya dokter juga mengharuskan agar Syahrul kontrol satu minggu setelahnya.

But sehari sebelumnya Mamao sudah ada janji dengan salah satu pembuat sepatu afo di daerah babarsari rekomendasi dari Mbak Febfi. Oia siapa mbak Febfi itu? Nanti Mamao kasih ulasan lengkapnya di tulisan mendatang ya. Selepas Ashar Mamao dan Syahrul diantar Babah untuk mengukur sepatu dennis brown ke tempat Pak Sholeh membuka usahanya. Namun karena waktu itu awal-awal muncul wabah Corona Mamao sengaja tidak mengajak kedua kakaknya. Sesampai di sana kami ditemui oleh karyawan pak Sholeh dan kali ini entah sepertinya semuanya dimudahkan Allah, di bengkel tersebut ternyata masih tersisa stok sepatu dennis brown yang sesuai dengan ukuran kaki Syahrul. Jadilah saat itu juga Syahrul pulang memakai sepatu dennis brown.


Okey sementara sekian ya cerita tentang ponseti kaki Syahrul. Karena sampai cerita ini ditulis, wabah Corona belum juga usai. Otomatis Syahrul juga belum kontrol ke dokter. Episode berikutnya Mamao cerita tentang perjalanan medis, wuih perjalanan medis? Hahaha ya karena ada beberapa poli yang Syahrul mesti jalani kurang lebih 7 poli termasuk poli ortopedi ya. Siap? Pantengin terus blog ini ya?eh emang ada yang baca ya Ma?Abaikan ada atau enggak tetep nulis Mamao!!!!.



[1] unit pelayanan khusus bagi bayi baru lahir yang mempunyai masalah/ sakit sampai usia satu bulan

[2]  teknik manipulatif yang mengoreksi kaki pengkor bawaan tanpa operasi invasif.

[3] Congenital Talipes Equinovarus adalah kelainan bawaan kaki yang menyebabkan kekakuan otot dan tendon bagian dalam kaki sehingga tendon menjadi pendek dan menarik  kaki ke  arah dalam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar