Balik
lagi ke cerita Syahrul sepulang dari rumah sakit ya. Inget kan cerita ketika
Syahrul diharuskan ke Sardjito?Hayo yang enggak inget buka post sebelumnya
ya.Well ketika ada anjuran itu Mamao dan
Babah bingung harus mulai dari mana. Salah satu teman sesama wali murid yang
kebetulan dokter di sardjito menyarankan Babah untuk membuat BPJS. Sebetulnya
jaman Mamao masih jadi pekerja Mamao
Babah dan Haura sudah punya BPJS tapi begitu resign udah enggak pernah bayar
iuran jadi waktu mau urus BPJS sempet ketar-ketir kalo kena denda banyak lha
udah lewat 3 tahun. Soalnya pernah membaca beberapa unggahan di ICJ[1]
ada kasus mantan pekerja yang dapat tagihan BPJS karena lama gak bayar iuran.
Mamao jaga-jaga juga kalau ada tagihan, tapi seinget Mamao selama bekerja
enggak pernah pake BPJS pakainya asuransi internal perusahaan, jadi ya kalo
masih ada denda ya kebangetan itu ya. Oke akhirnya setelah cari-cari informasi
di internet dan tanya-tanya saudara sampailah Babah ke kantor BPJS yang
terletak di depan RSUD Sleman. Lebih melegakan lagi ternyata tidak ada denda
sama sekali, karena ternyata oleh kantor akun BPJS Mamao sudah dinonaktifkan.
Entah bagaimana caranya itu pula Mamao juga tak ngerti, karena setahu Mamao
keanggotaan BPJS tidak dapat diberhentikan kecuali pesertanya meninggal.
Mungkin berbeda ya kalau untuk peserta yang dijamin oleh perusahaan. Kemudian
untuk BPJS Syahrul bisa segera dibuat namun masih memakai kartu sementara
karena pendaftarannya Cuma pakai surat keterangan lahir.
Setelah
melalui keribetan yang tidak bisa Mamao tuliskan karena yang ngurus semua Babah
sih hehe.Akhirnya kepesertaan BPJS sekeluarga jadi juga dengan bekal penjelasan
dari petugas BPJS akhirnya Mamao menuju ke puskesmas terdekat yang menjadi
faskes pertama. Awalnya Mamao dan Babah merasa proses mendapatkan pelayanan
kesehatan melalui BPJS teramat rumit. Tapi seiring berjalannya waktu terasa
mudah. Apa karena terbiasa kali. Yah Syahrul memang mengajarkan kepada Mamao
dan Babah banyak hal salah satunya kesabaran. Asli jadi kalau ada yang ngeluh
pake BPJS kok dapet pelayanan sampai sore hari di Sardjito anda bakal
diketawain sama semua pasien BPJS di sana. Lha udah biasa memang seperti itu
prosedurnya. Mamao jadi inget di ICJ ada yang curhat semacam itu malah jadi
bully-an warga ICJ. Ok balik ke minta rujukan di puskesmas ya, di puskesmas
kami diperbolehkan memilih mau ke RS Sakina atau RS Queen Latifa yang menjadi
Faskes tingkat 2. Mamao memilih Sakina karena lebih dekat dengan rumah. Malam
harinya Mamao ke Sakina bertemu dengan dokter spesialis anak. Setelah
menceritakan kronologis riwayat medis Syahrul dan keinginan kami bertemu dengan
dokter perinalogi di RS Sardjito, dokter
anak tersebut menyampaikan hal tersebut tidak bisa dilakukan.
“Untuk
saat ini , kami rujuk ke Neurologi anak dulu ya. Karena umur bayi ini sudah
lebih dari 1 bulan, sementara untuk perinalogi dikhususkan untuk bayi usia
dibawah 30 hari” jelas dokter wanita berjilbab tersebut.
“Neurologi?”
ucap Mamao mengulangi istilah itu.
“ya
Saraf anak” jawab dokter itu yang paham Mamao bingung istilah itu. Mamao mulai
cemas. Kenapa di Bagian Saraf. Ada Saraf Syahrul yang terganggukah?. Sekilas
dokter anak itu jauh lebih tahu apa yang terjadi dengan Syahrul namun seperti
ada yang ditahan untuk diutarakan, entah takut salah diagnosis atau bagaimana.
“Menurut
dokter selain fisik anak saya yang bermasalah adakah hal lain yang bermasalah?”
tanya Mamao yang tak kuat membendung rasa penasaran membaca bahasa tubuh dokter
tersebut.
“Nanti
di Sardjito bisa discreening,Bu. Untuk mendeteksinya apakah ada penyakit lain
harus melalui beberapa tes dan pemeriksaan” jawab dokter itu datar.
Selang
sehari Mamao dan Babah memeriksakan diri ke Sardjito. Karena masih awam dengan
administrasi pendaftaran rumah sakit Babah agak bingung juga memprosesnya,
namun lambat laun Babah mulai terbiasa dengan proses yang kadang agak njilimet
nan menguji kesaabaran. Selesai di loket pendaftaran, Mamao dan Babah menuju ke
poli anak. Katanya ke neurologi kok diarahkan ke poli anak ya sama mbak-mbak
pendaftaran?. Oia sebelumnya Syahrul pernah ke Sardjito untuk bertemu secara
pribadi dengan salah satu dokter jantung anak dengan bantuan Mbak Nuli.
Ketemunya waktu itu di poli anak ini enggak di sangka ternyata di poliklinik
anak ini terdiri dari banyak bagian, seperti Neurologi, Gizi, Kardiologi,
Endrokrin, Infeksi, Gastrologi, Nefrologi, Hemato, Onkologi, Respirologi,
Hepatologi,imunologi, buanyak kan. Dari banyak bagian tersebut, Syahrul pernah
masuk ke 4 bagian yaitu Neurologi, Gizi, Kardiologi, dan Endrokrin. Berhubung
sudah berpuluh kali ke Sardjito sampai Mamao lupa detailnya Mamao coba
ceritakan seingat Mamao aja ya.
Ok,
awal periksa di Neurologi Mamao dan Babah diwawancarai detil tentang riwayat
medis Syahrul, riwayat keturunan sampai dokternya bikin pohon silsilah
keluarga, kedua Syahrul dirujuk ke poli mata karena menurut Prof Sunartini
kedua mata Syahrul berbeda ukurannya, ketiga dirujuk ke poli bedah untuk tindak
lanjut tulang dada Syahrul. Langkah pertama dokter syaraf meminta tes TORCH
Syahrul dan Mamao. Ooh ini yang bikin Mamao agak cemas. Karena pernah denger
TORCH itu salah satunya karena kucing. Apalagi ini pas ambil sample darah
Syahrul, mbak petugas labnya juga sempat tanya “Ada riwayat kucing, Bu?”tambah
parno Mamao. Kebetulan di rumah sering
banget kucing kucing tak bertuan mampir ke rumah, entah sekedar Cuma say hello
atau ya kalo pas lagi baik banget Mamao ada ikan sisa ya dapet tu kucing. Mbah
Uti yang sering jengkel sama kucing apalagi kalo ada lauk yang dicuri itu. Aduh
alamat satu rumah disalahin karena enggak nutup pintulah, nutup
jendelalah...bisa panjang ini Mamao kalau cerita kucing yang sering nyolong
itu. Hahahah. Oke balik ke test torch nah karena Syahrul yang jadi pasiennya
dan memang sedang ada diagnosa penyakit yang mengharuskan Syahrul tes torch
untuk memastikan maka tes darahnya ditanggung bpjs. Nah giliran Mamao yang
harus test.pusing pala Mamao, test TORCH untuk kasus Mamao ini tidak ditanggung
BPJS. Setelah lihat rincian biaya test Syahrul yang mencapai 1 jutaan, mau
enggak mau Mamao harus rogoh kocek sendiri, demi anaklah ya.Oia sebelum test
prof Sunartini pernah nanya ke Mamao. “Dulu pas hamil enggak pernah tes TORCH,
Bu” . “Enggak prof, lha enggak kepikiran sampai ke sana”jawab Mamao.
“Seharusnya
itu kesadaran setiap ibu yang lagi hamil” gitu timpal profesor. Diem deh Mamao
lha mau jawab apa juga percuma. Okay buat buibu atau calon ibu yang lagi hamil
atau mau promil dan punya sisa uang berlebih dan memiliki riwayat misal pernah
keguguran, pernah memiliki anak lahir cacat saya sarankan untuk test TORCH.
Mahal memang kalo mau satu set tesnya bisa juga dicicil bulan ini test tokso,
bulan depannya tes rubella, dst gitu. Atau kalo enggak bisa memanfaatkan
program test TORCH gratis. Secara berkala pemerintah ada test torch gratis.
Selang
seminggu Mamao akhirnya bisa tes TORCH, puter puter cari tempat test TORCH yang
biayanya terjangkau akhirnya mentok Mamao tesnya di Lab Sardjito juga. Hahaha.
Biasa emak-emak cari yang paling murahhh. Secara tempat swasta lainnya enggak
mampu. Ada juga sebenarnya milik pemerintah di Balitbang di jogja tapi
selisihnya sedikit banget sama Sarjito. Ya udah karena lebih deket Mamao milih
Sardjito. Sekalian ambil hasil testnya Syahrul.
Nanti Mamao jepretin ya hasilnya tapi kalau suruh baca hasil Lab Mamao enggak paham. Bu dokter yang lebih paham. Artinya kurang lebih Aman...hehehe.Alhamdulillah hasil tes Mamao juga aman. Meski di hasil lab kalo diterjemahkan kurang lebih Syahrul pernah terpapar virus CMV ketika dalam kandungan tapi sekarang sudah memiliki antibodi jadi aman. Bener enggak nih Mamao jelasinnya, Dok?.
Oke
intinya hasil testnya tidak menunjukkan bahwa Syahrul mengidap sindrom rubella.
Lanjut ke poli mata. Di poli ini Syahrul diperiksa di detik-detik poli pagi
udah hampir lewat. Untung perawatnya baik banget dan langsung mengantarkan
Syahrul ke dokter mata anak. Sedikit wawancara kemudian dokter tersebut memberi
obat tetes mata ke Syahrul. Selang setengah jam kemudian kembali ditetesi lagi.
Katanya untuk mengobservasi syaraf matanya bekerja atau tidak gitu kalo enggak
Mamao salah denger. Di tahap akhir dokter memeriksa mata Syahrul dengan lampu
yang menempel di jidatnya. Sepintas kayak lampu buat masuk ke goa-goa itu. Agak
kesulitan mengobservasi, dokter itu kemudian meminta bantuan seniornya. Sampai
pada kesimpulan bahwa mengingat usia Syahrul yang masih 2 bulanan memang
perkembangan mata belum begitu optimal, mereka meminta untuk periksa ulang
diusia 4-6 bulan. Agak lega tapi juga agak enggak puas juga sama jawaban dokter
tersebut, karena memang mata Syahrul kurang fokus ketika Mamao coba rangsang
dengan menggerakkan benda di wajahnya, matanya tidak merespon. Semoga seiring
waktu perkembangan matanya berangsur membaik.
Next
ke poli bedah anak. Sebenarnya ini adalah poli pertama yang didatangi sebelum
ke poli mata, mamao inget waktu itu udah pagi-pagi banget sampai Sardjito eh
udah jam 9an belum juga dipanggil ternyata dokternya enggak datang. Jadilah
Syahrul diperiksa oleh dokter lain, tapi Alhamdulillahnya yang gantiin justru
dokter senior. Emang sabar itu berbuah manis banget.hehehehe. Setelah memeriksa
fisik Syahrul dokter tersebut terkejut. Menurutnya kasus Syahrul termasuk
langka. Namun dokter tersebut belum berani mengambil tindakan operasi, paling
cepat umur satu tahun itu pun dengan syarat berat badannya sesuai standar.
Mamao jadi agak ngeri-ngeri gimana gitu membayangkan Syahrul yang masih bayi
harus menjalani operasi bedah. Hufft Mamao hanya bisa pasrah mencoba
menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.
Poli selanjutnya poli tumbuh kembang. Sebenarnya
niat awal pengen imunisasi sekalian tapi ternyata untuk imunisasi harus ke poli
tumbuh kembang bukan di poli anak. Gedungnya
bersebelahan dengan poli anak.di depan poli terdapat ayunan. Kesan
pertama masuk ke poli ini adalah sepi. Tidak sepenuh poli anak. Hanya beberapa
anak yang tengah mengantri. Ruangan pun didesign lebih ceria menurut Mamao.
Ruang tunggu nyaman dan adem.
Enggak pakai lama Syahrul dipanggil. Dokter muda
itu menjelaskan bahwa di poli tumbuh kembang berbeda dengan poli anak. Setiap
pemeriksaan paling lama bisa 1 jam sendiri. Beberapa pertanyaan tentang
perkembangan Syahrul dilontarkan dokter
tersebut. Mamao dan Babah terpaksa harus berpikir dan mengingat-ingat. Sesekali
dokter tersebut juga sambil mengisi
kolom-kolom pada kertas di atas mejanya. Beberapa piranti seperti lonceng,
pom-pom merwarna mencolok, untuk mengetes. Selesai melakukan observasi Mamao
dan Babah ditinggalkan cukup lama di ruang periksa. Sepertinya dokter muda itu
melakukan diskusi kecil dengan dokter senior lainnya. Sampai akhirnya para
dokter itu turut masuk ke ruang periksa. Ada 5 dokter yang turut memeriksa
salah satunya seorang profesor, bapak-bapak sudah sepuh tapi masih terlihat
segar bugar.
“OI ini prof, iyakan Prof?” ujar salah seorang
dokter wanita. “lihat matanya biru” tambahnya. Profesor itu masih memeriksa.
Profesor hanya menyarankan agar ada pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan.
Mamao dan Babah terlihat cemas. Sepertinya ada yang serius. Dokter wanita satu
lagi terlihat lebih tenang.
“Sudah enggak apa-apa periksa rontgen seluruh
badan, terus ke orthopaedi, terakhir nanti ke endokrin” kata dokter tersebut.
Mamao dan Babah tambah bingung, istilah medis apalagi itu. Niat mau imunisasi
malah dapet diagnosa aneh-aneh. Dokter memutuskan imunisasi dilakukan esok
paginya. Ya Allah jadi tambah panjang. Oke karena masih siang Mamao langsung ke
bagian radiologi untuk rontgen. Lumayan lama menunggu akhirnya dipanggil juga,
waktu itu Mamao masuk sendiri karena Babah harus jemput kak Haura sekolah. Aduh
Kak, maaf ya sering jemputnya telat kadang yang jemput pakde apa budhenya kalo
pas bareng jadwal Syahrul kontrol.Di ruangan tersebut Mamao diharuskan pake
baju yang entah apa isi didalemnya, pokoknya berat banget bajunya. Sambil
megangin Syahrul agar posisinya tak berubah saat diambil gambar rontgennya.
Pinternya Syahrul enggak rewel sama sekali.
Di kunjungan kami berikutnya setelah imunisasi
pertama, Mamao dan babah membawa hasil rontgen. Apesnya Mamao dan Babah ketemu
dokter yang berbeda jadilah kita menjawab ulang pertanyaan-pertanyaan yang
pernah diajukan dokter sebelumnya. Plus dapet hadiah dimarah-marahi karena kami
enggak nurut waktu diminta ke endokrin. Pikir Mamao dan Babah waktu itu enggak
ke Endokrin karena hasil test sebelumnya menyatakan negatif OI jadi enggak
mampir ke Endokrin. Nah sekarang tambah suruh test BERA,terus ke Endokrin lagi.
Mamao jadi penasaran, Endokrin itu poli untuk apa ya?kok ngotot banget
dokternya. Hehehe jangan ikutan ngeyel kayak Mamao dan Babah ya. Manut, Madep,
Mantep aja deh.
Setelah tanya sana dan sini dimanakah letak ruangan
untuk test BERA ternyata enggak jauh-jauh amat dari poli tumbuh kembang.
Setelah tanyaa-tanya sebentar dengan petugas jaga di poli itu ternyata harus
booking tanggal dulu baru bisa test. Daaan Syahrul baru dapat jadwal testnya
satu bulan kemudian yaitu tanggal 15 Januari 2020. Busett antrianya banyak
juga. Eh ternyata memang per hari testnya dibatasi hanya untuk beberapa pasien
aja. Oowh... Gitu.Tapi seingat Mamao dan Babah Syahrul sewaktu di RSA juga
sempat tes BERA tapi oleh dokter di poli tumbuh kembang mengatakan hasil BERA
yang kami bawa dari RSA itu bukan BERA. Lha terus opo kui, dok?
Mamao singkat aja ya, Setelah test BERA hari itu
juga Syahrul periksa ke poli Endokrin. Biar besok kalo ke tumbuh kembang lagi
enggak kena marah. Maapkeun ya , Dok.yeah akhirnya sampai di poli endokrin. Di
poli ini wawancaranya agak panjang.
Dokter (D) : kenapa kok dirujuk ke endokrin?
Mamao (M) : disuruh sama dokter di Tumbuh kembang
(polos banget jawabnya)
D : didiagnosa apa ?
M : kemarin sempat dibilang OI, tapi hasil testnya
negatif, dok
D : OI itu apa ?
M : Oesteo apa imperfecta apa gitu deh kayak
semacam kerapuhan tulang (ini tahu setelah buka google, dokter tumbuh kembang
gak jelasin apa-apa)
D: kok bisa didiagnosa OI? (mulai sebel, ini dokter
pura-pura enggak tahu apa emang enggak tahu ya)
M : enggak tahu, dok. Mungkin karena tulang dadanya
enggak lengkap terus jari tangannya enggak ada ditambah kakinya CTEV gitu.
D : baik, sebentar saya konsultasikan ke profesor
dulu ya. Bapak-dan ibu tunggu di luar dahulu nanti saya panggil lagi.
Mamao dan Babah mulai terbiasa dengan jurus
pamungkas dokter untuk mengakhiri sesi pemeriksaan. Agak lumayan lama Syahrul
kembali dipanggil lagi, kali ini dokter muda tersebut didampingi seorang
profesor. Profesor wanita tersebut jauh
lebih muda daripada profesor Sunartini. Profesor juga kembali menanyakan
beberapa hal seperti yang dilakukan dokter di poli syaraf. Sesekali profesor
membuka dokumen hasil pemeriksaan yang Mamao bawa. Tak ada pernyataan yang
berarti, profesor tersebut malah mengatakan “ Bapak-ibu bertemu dengan kolega
kami, namanya dokter Budi, ditunggu sebentar”.
Setelah makan siang dan sholat dhuhur barulah Mamao
dan Babah balik ke Endokrin. Di ruangan tersebut dr Budi sudah menunggu sambil
membolak-balik dokumen pemeriksaan Syahrul. Setelah bercakap-cakap sebentar
dokter Budi memeriksa fisik Syahrul. Mamao dan Babah ingat sekali ekspresi awal
dokter Budi melihat Syahrul. Dari sorot matanya tidak bisa dipungkiri beliau
terkejut. Sempat tertegun sejenak.
Dokter Budi (B) : Bapak-ibu sebelumnya pernah
bertemu saya?
Mamao (M) : belum dok, ini pertama masuk ke endokrin
B : ini persis bayi Haikal (dokter budi mencoba
mengingat-ingat sesuatu). Ini namanya sindrom Moebius Poland nanti saya
jelaskan. maaf saya tidak menakut-nakuti Cuma menekankan anak jenengan tidak
sendirian. Dulu ada bayi kasusnya sama seperti anak jenengan. Ciri-cirinya
persis.
M &
Babah: (mulai tegang)
B : Cuma diusia 10 bulan dia meninggal karena
pnemonia. Sempat dirawat di sini kemudian beberapa kali di rawat di rs lain
M & Babah (mulai pucet)
B : boleh saya foto anaknya , Bu?
M : boleh-boleh dok (masih enggak percaya)
Selesai foto-foto dokter Budi menyodorkan hapenya,
dilayar hape tersebut terpampang foto bayi sekilas mirip dengan wajah Syahrul.
Foto tersebut diambil dari halaman akun instagram seseorang. Dokter Budi
memanggilnya Bu Febi. Dokter mengklik foto lainnya terlihat tangan kanan bayi
itu juga tak memiliki jari persis seperti Syahrul. Allahu Akbar. Di foto itu
terlihat jelas kemiripan wajah antara Syahrul dan Haikal. Jantung Mamao
berdebar semakin kencang. Diantara diagnosa-diagnosa dokter, diagnosa ini yang
membuat Mamao percaya. Sayangnya dialog selanjutnya Mamao tidak ikut nimbrung
karena Syahrul rewel jadi Mamao harus ke ruang laktasi. Hanya sepenggal dialog
yang Mamao sempat dengar.
B: kebetulan bu Febi ini tinggal di Jogja, tapi
saya lupa tepatnya dimana. Kalau boleh saya minta no hp bapak nanti saya minta
ijin ke bu febi dulu kalau mau sharing-sharing.enggak pake lama Babah mencatat
no hp dokter budi.
Setelah hampir 1 setengah jam dokter Budi
menjelaskan tentang sindrom moebius poland kami berpamitan pulang dengan
membawa sejuta rasa. Tahu enggak hari itu 15 januari 2020 bertepatan dengan
ulang tahun pernikahan kami ke 8, Allah kasih kado berupa jawaban dari
serangkaian perjuangan Syahrul screening selama 3 bulan di Sardjito. Anakku Syahrul
mengidap Sindrom Moebius-Poland.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar