Yup kita yang masih dikaruniai kesehatan dan fisik yang lengkap harus harussss bersyukur. Syahrul mengajarkan pada Mamao dan semua orang untuk lebih bersyukur dengan keadaan apa adanya. Dulu Mamao membutuhkan waktu untuk bisa’berdamai’ dengan kondisi yang ada, hampir tiap malam Mamao Cuma bisa mewek. Yah, semua orangtua dengan anak spesial pasti pernah merasakan hal yang sama. Sedih karena enggak tahu harus bagaimana meringankan beban derita si kecil. Apalagi kayak Mamao yang bingung secara finansial, di rumah sakit udah mukanya kucel , mikirin anak tambah mikir biaya operasional, belum mikirin keluarga yang di rumah. Aaaah jadi melow ingat masa itu. Tapi Allah seakan menuntun Mamao agar segera ‘sadar’ dan belajar menjadi orangtua tangguh. Dipertemukannya Mamao dengan orangtua-orangtua tangguh lainnya di poli anak dr sardjito, mbk Febfi, dan komunitas untukteman.id menambah rasa syukur Mamao.
Setiap
kali Mamao mengantar Syahrul periksa di RS Sardjito pasti ada cerita baru, bertemu
dengan orangtua tangguh lainnya.Enggak Cuma dari Jogja saja, banyak pasien dari
luar kota yang berobat di dr Sardjito.
Mamao ingat pertemuan dengan seorang ibu muda dengan anaknya yang masih 10
bulan di depan poli neurologi. Anaknya terlihat sehat badannya pun gemuk, hanya
selang NGT di mulut bayi tersebut yang memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang
‘berbeda’. Setelah Mamao tanya sakit apa?Mamao baru terhenyak. Bayi yang tengah
tertidur pulas di strollernya itu ternyata mengalami komplikasi di jantung,
ginjal, mata dan di umur 10 bulan bayi tersebut belum bisa ngapa-ngapain. Ibu
tersebut juga bercerita anaknya Cuma diam saja.
Ada
cerita lagi tentang gadis kecil di kursi roda, badannya sebesar Kak Haura, anak
Mamao yang pertama kelas 1 SD. Setelah diselidiki ternyata gadis tersebut sudah
berusia 16 tahun dan sakit ginjal. Seminggu sekali gadis kecil itu harus cuci
darah dan belum lagi setiap kontrol ke sardjito per hari bisa 4 poli yang harus
dilakoni.Mamao yang 2 poli per hari aja sampai sore selesainya.
Cerita
lainnya, bayi 4 bulan dari temanggung udah opname di sardjito 1 bulan. Waduuuh
Mamao yang kemarin-kemarin mewek nginep di rs 15 hari langsung ciut ketemu ibu
itu. Bayi CMV asal Boyolali yang Mamao temui di poli THT juga total udah 3
bulan belum pulang ke rumah sama sekali bikin Mamao dan Babah tertampar-tampar.
Noh, yang Mamao alami enggak sebanding dengan ortu-ortu hebat tersebut, masih
kurang syukur apa coba?.Mamao yang kerap kasihan sama Babah yang harus
pagi-pagi subuh ambil antrian di sardjito ternyata ada yang lebih ‘prihatin’
lagi, ada yang harus ke sardjito pake kereta prameks dari klaten pulang kontrol
kesorean belum pasti dapat kereta.Waaa kalo denger cerita pejuang sehat gini
suka baper Mamao.
Yah,
di antara cerita pejuang sehat di atas terselip 2 kisah anak Moebius-Poland
lainnya. Inget kan di post sebelumnya Mamao diberitahu oleh dr budi bahwa sebelumnya
ada anak dengan sindrom yang sama dengan Syahrul. Lewat dr Budi Mamao dan Babah
dipertemukan dengan Mbak Febfi Setyawati, yah beliau ini adalah ibu dari bayi
Haykal. Sepertinya dr budi sudah bercerita banyak tentang Syahrul jadi setelah
Mamao coba hubungi mbak Febfi welcome banget, dan berniat berkunjung ke rumah.
Selang
beberapa hari kontak WA barulah Mbak febfi datang ke rumah bersama suami dan
anak pertamanya, mbak Kaja. Persis seperti dugaan Mamao dan Babah, pertemuan
Mbak Febfi dan Syahrul diwarnai isak tangis. Mamao dan Babah yang beberapa hari
kepoin instagramnya mbak Febfi juga nangis liat story dan post ig yang isinya
tentang perkembangan Haykal. Mamao pun sempat sedih, seandainya Syahrul juga seperti
itu gimana.Well, nggak bisa dipungkiri Syahrul mengingatkan dengan almarhum
Haykal. Fisik di antara keduanya 80% mirip. Paras wajahnya, tangan kanannya,
yang membedakan hanya kaki. Kaki Syahrul mengalami bilateral CTEV, kedua
kakinya pengkor. Sementara bayi Haykal kaki sebelah saja yang pengkor. Rongga
mulut Syahrul pun menurut Mbak Febfi nyaris sama dengan Haykal. Kelak kalo saya
dapat izin dari mbak febfi saya sertakan foto Haykal ya.
Setelah
agak reda tangisnya, Mbak Febfi mulai bercerita bahwa kasus Syndrome moebius
poland itu termasuk langka di Indonesia. Menurut sepengetahuan Mbak Febfi di
Indonesia baru ada 3, yang pertama Adelio dari Bogor, Haykal, dan yang ketiga
baru saja ditemukan Mbak Febfi, ya Syahrul menjadi kasus sindrome moebius
poland ke tiga.mendengar hal tersebut Mamao dan Babah bertambah terkejut. Mamao
pun menanyakan bagaimana dengan Adelio?perkembangannya bagaimana?yah, Mamao dan
Babah memang belum memiliki gambaran saat itu tentang sindrom yang dialami
Syahrul.jadi maklum Mamao dan Babah banyak tanya pada Mbak Febfi. Seperti
kebiasaan Syahrul suka mendongakan kepala ke belakang, menurut Mbak Febfi itu
karena Syahrul kesulitan menggerakan matanya jadi untuk melihat sekeliling
dengan menggerakan kepalanya. Jadilah hari itu Mamao dan Babah banyak ber
“Ooo...”. banyak hal baru dan ilmu baru yang Mamao dan Babah dapatkan.
Selepas kunjungan pertama Mbak Febfi Mamao dan Babah diikutkan dengan grup whatsapp Moebius. Waktu itu grup hanya terdiri beberapa orang, 3 orang pengidap moebius poland, dan 7 orang pengidap sindrom moebius. Tidak hanya dari indonesia saja ternyata ada 1 orang pengidap moebius dari Malaysia. Sungguh di tengah sulitnya Mamao mencari literasi tentang sindrome ini, Mamao sangat terbantu dengan adanya grup tersebut. Mamao banyak belajar dari Kak Adelio, Kak Haqiqi, Kak Citra, Kak Nayra, Kak Amin, Kak Zaky dan anak-anak Moebius lainnya. Lebih terharunya lagi gak lama gabung grup Syahrul dikirimin kaos Moebius dari Kak Nayra, pengidap Moebius asal Malang. Kemudian beberapa minggu setelah Syahrul gabung grup Moebius, tepatnya pada akhir bulan Februari bertepatan dengan Moebius Awareness Day dan Mbak Febfi bikinin short vidio tentang sindrome Moebius,di vidio itu terpampang wajah-wajah pengidap sindrome Moebius, termasuk Syahrul yang merupakan member baru. Nanti Mamao share vidionya yah
.
Masih
tentang kisah pertemuan Mamao dengan orangtua tangguh lainnya. Lewat Mbak Febfi
Mamao dikenalkan dengan Komunitas Untuk Teman. Sebuah komunitas yang bergerak
di bidang sosial terutama untuk anak-anak disabilitas. Di komunitas ini mata
Mamao kembali dihadapkan pada kenyataan
bahwa di luar sana banyak anak-anak spesial lainnya dengan beragam sindrome,
dan sakit lainnya. Wajah wajah tegar, tangguh, terlihat jelas di wajah orangtua
anggota komunitas untuk teman. Mamao merasa tertampar berkali-kali. Cukup sudah
merasa yang paling menderita. Lihat di sana masih banyak jauuuuh
memprihatinkan. Malulah Mamao. Saat Mamao dipertemukan di seminar dengan
seluruh anggota komunitas, terbesit dalam benak Mamao. Mamao juga ingin
melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sesama. Mamao dan Babah seolah melihat
apa yang dilakukan Mbak Febfi dan tim untuk teman adalah upayanya menabung
akherat. Kami-kami ini yang pernah terbantu dengan kehadiran komunitas ini yang
akan membelanya di akherat.
Yah,
untuk mengakhiri tulisan Mamao. Mamao hanya berpesan bahwa misal anda sendiri,
saudara, teman, atau tetangga yang memiliki anak berkebutuhan khusus, mohon beri ia dukungan moril. Kuatkan hatinya
dengan banyak bersyukur. Ingat Allah memberi jutaan nikmat kepada kita tanpa
kita sadari hingga lupa bersyukur tapi begitu Allah berikan sedikit kesempitan,
kesusahan kita lupa dengan nikmat dari Allah yang jumlahnya jutaan tersebut.
Doakan orangtuanya tetap kuat mendampingi anaknya. Karena orangtua kuat maka
disitulah menjadi sumber kekuatan anak kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar