Selama
Mamao di RS ternyata banyak saudara, tetangga, teman dan sahabat yang datang ke
rumah. Namun apadaya Mamao masih di RS mereka terpaksa hanya bisa bertemu
dengan Babah atau Bapak Ibu di rumah. Malah sebagian ada yang nekat ke RS tapi
tetep enggak bisa ketemu Syahrul jadi Cuma ketemu Mamao aja. Ada satu cerita
yang masih terngiang di hati Mamao saat di RS. Waktu itu jam menunjukkan pukul
17.00 lalu lalang pengunjung besuk berdatangan. Mamao baru saja selesai mandi
di kamar mandi yang terletak kira-kira 100 meter dari bangsal anak. Ketika
tengah menuju kamar tunggu pandangan mata Mamao tertuju pada sosok laki-laki
yang terlihat familiar di matanya.
“Pak
Sugeng, ngapain di sini?” tanya Mamao pada laki-laki yang tengah berbincang
singkat dengan dua temannya. Sontak Pak Sugeng menoleh ke arah Mamao. Tak kalah
terkejutnya.
“Lha
kamu sendiri kenapa di sini, Lia?” tanya Pak Sugeng balik seraya mengulurkan
tangannya menjabat tangan mantan rekan kerjanya dulu. Mamao malah cengegesan.
Pak Sugeng kemudian mengenalkan 2 rekannya yang ikut bersamanya.
“Saya
mau jenguk teman saya dia habis melahirkan” jawab Pak Sugeng pendek.
“Kalau
habis melahirkan bukan di bangsal ini pak Sugeng, tapi di bangsal lantai 3”
timpal Mamao.
“Kemarin
di WA katanya di rawat di RS ini lantai 4” sanggah Pak Sugeng, “ini sudah di
hubungi tapi tidak membalas” tambah Pak Sugeng.Tepat saat Pak Sugeng berhenti
bicara salah satu temannya berujar “Sudah pulang ternyata tadi malam, barusan
dicek sama perawatnya”
Mamao
mencoba mengingat-ingat. Semalam memang ada pasien bayi yang sakit kuning dan
menjalani fototerapi di kamar bayi. Ibu bayi tersebut juga sempat
berbincang-bincang sebentar dengan Mamao semalam sesaat sebelum pulang dan
mendoakan agar Mamao dan Syahrul bisa segera pulang ke rumah. Tak disangka ibu
tersebut adalah rekan kerja Pak Sugeng di perusahaan tempat Mamao dulu bekerja.
Dua
teman Pak Sugeng kemudian memutuskan untuk pamit pulang terlebih dahulu.
Sementara Pak Sugeng masih ngobrol dengan Mamao di kursi lorong depan bangsal
anak. Kebetulan Babah sedang berada di kamar tunggu, Mamao segera memanggil
Babah.
“Bah,
ada pak Sugeng di sini” kata Mamao
“Kok
tahu Mamao di sini?”tanya Babah.Kemudian Mamao menjelaskan perihal Pak Sugeng
yang mau menjenguk temannya tersebut. Mamao mulai bercerita tentang Syahrul.
“Sudah
seminggu aku di sini Pak” tutur Mamao.Pak Sugeng kaget karena lama tidak
bertemu tahu-tahu Mamao melahirkan lagi.Obrolan beralih tentang pekerjaan Pak
Sugeng yang ternyata sekarang dipindahkan ke divisi lain dan kantor cabang di wilayah
sleman utara. Mamao pun bertanya kabar teman-teman dan mantan atasannya dulu di
kantor. Beberapa sudah resign beberapa masih bertahan. Ketika berpamitan pulang
Pak Sugeng menyelipkan amplop di sela jabat tangannya dengan Mamao. Mamao
sempat menolak namun Pak Sugeng bersikukuh agar Mamao menerima pemberian
tersebut. Tidak terasa air mata haru mengalir di pipi Mamao. Pak Sugeng mulai
menenangkan Mamao yang mulai menangis sesengukan sambil mengucapkan kata-kata
menguatkan hati Mamao.
Kemudian
ada lagi cerita satu keluarga eh 2 keluarga karena keluarga ini datang beserta
anak dan menantunya. Mereka yang pertama kali datang menjenguk ke RS tapi
hebatnya mereka menjenguk enggak pas jam besuk. Mamao ingat waktu itu hari Ahad
siang jam besuk sudah lewat tapi entah dari mana mereka datang mengagetkan
Mamao yang tengah duduk sendirian di kamar tunggu. Asli kaget Mamao.Setelah
berbicang sejenak barulah Mamao tahu mereka datang tidak melalui loby rawat
jalan tapi melalui pintu belakang kantin. Fiuh untung enggak ada satpam nunggu
di depan lorong. Jadi mereka enggak kena marah satpam. Hahahaha
Banyak
saudara dan teman menjenguk di rs tanpa
melihat Syahrul.Mamao hanya bisa menemui di lorong depan bangsal anak.
Malah ada yang ke RS tapi setelah bertemu Babah di loby dan bilang Syahrul
enggak bisa dilihat mereka balik kanan.Apapun itu Mamao tetap mengucapkan
terimakasih atas doa dan perhatian keluarga, teman, sahabat dan bahkan doa
sesama orangtua pasien di rs.
Setelah
Syahrul pulang ke rumah hati Mamao kembali meleleh. Keluarga, saudara, teman
dan sahabat yang sempat ‘kecelik’ kembali datang ke rumah. Mereka sepertinya
penasaran dengan kondisi Syahrul kok bisa 2 minggu baru bisa dibawa pulang.
Mamao sebagai ibunya belajar mengasah mental memiliki anak istimewa. Setiap ada
tamu yang hendak menjenguk Mamao tunjukkan semua keistimewaan anaknya satu per
satu. Tak ayal setiap yang datang pasti menunjukkan ekspresi terkejut, iba,
sedih, tak sedikit juga yang kepo, “Dulu enggak ketahuan pa, Mbak?”. Aha andai
udah ketahuan pun Mamao juga enggak tahu harus berbuat apa.
Mamao
ingat ketika moment Bu Nyai menjenguk Syahrul. Mamao serahkan Syahrul agar
digendong Bu Nyai. Jadilah Bu Nyai malah nangis sesengukan dan diikuti ibu-ibu
yang lain setelah melihat fisik Syahrul.Mamao juga terharu tak kala ibu –ibu
wali santri tpa Inayatullah datang berkunjung.Banyak di antara wali santri yang
datang malah Mamao tidak kenal!.Meleleh deh Mamao.Ibu-ibu rt seberang yang
Mamao yakin datang lantaran Mbah Utinya aktif di pengajian juga turut memanjatkan
doa untuk kesembuhan Syahrul.Ternyata setelah ditelisik mereka mengetahui
perihal keadaan Syahrul melalui Pengajian Sabtu Pahing yang diadakan oleh
pondok pesantren Inayatullah rutin selapan sekali, saat-saat kritis Syahrul di
NICU bertepatan dengan pengajian tersebut dan didoakan oleh Kyai Chamdani dan
seluruh jamaah. Ya Allah, mungkin atas seizin Allah melalui doa-doa mereka
Syahrul bisa melalui masa –masa kritisnya.
Mama-mama
cantik wali murid TK Alfatah, tk tempat Kak Haura dulu sekolah juga turut datang
menguatkan hati Mamao. Mama Tsaniya, Mama Daffa, Mama Atika, Mama Alie, Mama
Fafa, Mama Alif, Mama Tarra. Love You All. dan ternyata ada yang ketinggalan
info tentang kelahiran Syahrul. Yaitu wali murid SDIT Yaa Bunayya. Sempat
membuat heboh komite sekolah. Mbak Maya Syarief selaku ketua komite kelas 1A
sampai bilang tidak enak hati katanya karena telat mengetahuinya. Yap, waktu
itu mereka mengetahui setelah Syahrul berusia 3 bulan. Sebenarnya bukan maksud
Mamao diam-diam saja. Cuma kondisinya Mamao masih harus bolak-balik ke RS jadi
enggak sempat share macem-macem.Jadi, pernah suatu hari Babah pas ada acara
kerja bakti di sekolah kak Haura ngobrolin tentang Syahrul dengan beberapa
bapak-bapak wali murid dan salah satu di antaranya dokter Desin, dokter
spesialis di Sardjito.Selang 2 bulan dokter ini menyampaikan ke ketua komite.
Sore hari ketua komite konfirmasi ke Babah, Paginya langsung silaturahmi ke
rumah. MasyaAllah gercep banget mereka kalo untuk kegiatan sosial. Kemudian
siang harinya gantian Mbak Maya yang ke konfirmasi ke Mamao. Masih dalam minggu
yang sama Mbak Maya, Ummu Hafsoh,keluarga Ummu Alifia, keluarga Ummu
Aisyah,silaturahmi ke rumah. Jujur ini pertama kalinya Mamao berinteraksi dengan
mereka yang bercadar. Sempat ada rasa minder-minder gimana gitu, tapi ternyata
mereka welcome banget. Gak beda-bedain sama yang enggak pakai cadar.
Masih
inget cerita Mamao tentang anak itu membawa rezeki sendiri-sendiri. Sempet
pesimis karena saat di rumah sakit apalagi waktu Syahrul di bangsal, uang yang
di dompet Babah udah menipis karena buat wara-wiri dan operasional selama
enggak jualan. Babah terpaksa pinjam ke ibu mertua dan mbah uti. Itu aja
sebenernya masih kurang guys buat tebus Syahrul pulang. Siang hari pas mau urus
kepulangan Syahrul Babah udah bawa BPKB motor dan mobil tua buat jaminan di RS
karena terakhir dicek nominalnya udah 9 jutaan. Saat menuju kasir Mamao dan
Babah iseng ngecek ke atm di loby RS. Begitu memasukan kartu ATM dan memencet
beberapa tombol di mesin atm alangkah terkejutnya Mamao dan Babah, ternyata
pencairan jamsostek yang sejatinya masih nunggu beberapa hari lagi udah cair.
Allahu Akbar Mamao dan Babah tak henti-hentinya mengucap syukur. “Udah Bah kalo
cukup langsung kita lunasin aja, yang besok kita pikir besok” kata Mamao. Babah
mengangguk mengiyakan. Sampai di mbak mbak kasir angka yang muncul 12 juta
sekian. Fiuh lega. Mamao bayar cash dan sebagian lewat mesin EDC di kasir.
Percaya enggak semua sodara-sodara. Saya sama Babah sebelumnya Cuma minta ke
Allah biar enggak punya hutang ke RS apalagi punya hutang ke bank. Aduh
ngeRibanya bikin kapok. Tapi sama Allah langsung dijawab “Gak usah kawatir. Gak
usah hutang rs ini tak kasih sisa 2 juta sekalian” ini yang bikin Mamao nangis.
Allah begitu dengan sayangnya seperti tengah mengelus-elus kepala Mamao
“Tenangno pikirmu[1]”.
Mamao yang dari awal kehamilan udah khawatir soal dana seperti ditegur “Kandani
kok ngeyel[2].Rezeki
sudah dijamin” dan ada beberapa peristiwa nantinya yang menunjukkan kalau
rezekimu semua sudah dijamin Allah. So, masih ngeyel?
Tentang
rezeki tak semuanya dikaitkan dengan materi. Keluarga yang dengan tangan
terbuka menerima keadaan Syahrul juga bagian dari rezeki Mamao dan Babah. Kak
Haura dan Syakira pun tanpa Mamao jelaskan panjang lebar mereka tetap sayang
dengan Syahrul. Pertama kali kak Syakira melihat tangan special Syahrul malah
Syakira yang nangis. “Adik kasihan sekali, Ma” ucap Syakira waktu itu sambil
terisak memegangi tangan kanan adiknya yang tak berjari. Merekalah yang membuat
Mamao kuat menjalani hari. Begitu juga dengan sahabat,teman yang tetap memberi
semangat dan doa baik langsung atau melalui pesan WA mereka juga bagian dari
rezeki. Beruntunglah Mamao.dikelilingi oleh orang-orang yang begitu perhatian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar