Senin, 01 Juni 2020

Doa yang Tak Kunjung Henti

Selama Mamao di RS ternyata banyak saudara, tetangga, teman dan sahabat yang datang ke rumah. Namun apadaya Mamao masih di RS mereka terpaksa hanya bisa bertemu dengan Babah atau Bapak Ibu di rumah. Malah sebagian ada yang nekat ke RS tapi tetep enggak bisa ketemu Syahrul jadi Cuma ketemu Mamao aja. Ada satu cerita yang masih terngiang di hati Mamao saat di RS. Waktu itu jam menunjukkan pukul 17.00 lalu lalang pengunjung besuk berdatangan. Mamao baru saja selesai mandi di kamar mandi yang terletak kira-kira 100 meter dari bangsal anak. Ketika tengah menuju kamar tunggu pandangan mata Mamao tertuju pada sosok laki-laki yang terlihat familiar di matanya.

“Pak Sugeng, ngapain di sini?” tanya Mamao pada laki-laki yang tengah berbincang singkat dengan dua temannya. Sontak Pak Sugeng menoleh ke arah Mamao. Tak kalah terkejutnya.

“Lha kamu sendiri kenapa di sini, Lia?” tanya Pak Sugeng balik seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan mantan rekan kerjanya dulu. Mamao malah cengegesan. Pak Sugeng kemudian mengenalkan 2 rekannya yang ikut bersamanya.

“Saya mau jenguk teman saya dia habis melahirkan” jawab Pak Sugeng pendek.

“Kalau habis melahirkan bukan di bangsal ini pak Sugeng, tapi di bangsal lantai 3” timpal Mamao.

“Kemarin di WA katanya di rawat di RS ini lantai 4” sanggah Pak Sugeng, “ini sudah di hubungi tapi tidak membalas” tambah Pak Sugeng.Tepat saat Pak Sugeng berhenti bicara salah satu temannya berujar “Sudah pulang ternyata tadi malam, barusan dicek sama perawatnya”

Mamao mencoba mengingat-ingat. Semalam memang ada pasien bayi yang sakit kuning dan menjalani fototerapi di kamar bayi. Ibu bayi tersebut juga sempat berbincang-bincang sebentar dengan Mamao semalam sesaat sebelum pulang dan mendoakan agar Mamao dan Syahrul bisa segera pulang ke rumah. Tak disangka ibu tersebut adalah rekan kerja Pak Sugeng di perusahaan tempat Mamao dulu bekerja.

Dua teman Pak Sugeng kemudian memutuskan untuk pamit pulang terlebih dahulu. Sementara Pak Sugeng masih ngobrol dengan Mamao di kursi lorong depan bangsal anak. Kebetulan Babah sedang berada di kamar tunggu, Mamao segera memanggil Babah.

“Bah, ada pak Sugeng di sini” kata Mamao

“Kok tahu Mamao di sini?”tanya Babah.Kemudian Mamao menjelaskan perihal Pak Sugeng yang mau menjenguk temannya tersebut. Mamao mulai bercerita tentang Syahrul.

“Sudah seminggu aku di sini Pak” tutur Mamao.Pak Sugeng kaget karena lama tidak bertemu tahu-tahu Mamao melahirkan lagi.Obrolan beralih tentang pekerjaan Pak Sugeng yang ternyata sekarang dipindahkan ke divisi lain dan kantor cabang di wilayah sleman utara. Mamao pun bertanya kabar teman-teman dan mantan atasannya dulu di kantor. Beberapa sudah resign beberapa masih bertahan. Ketika berpamitan pulang Pak Sugeng menyelipkan amplop di sela jabat tangannya dengan Mamao. Mamao sempat menolak namun Pak Sugeng bersikukuh agar Mamao menerima pemberian tersebut. Tidak terasa air mata haru mengalir di pipi Mamao. Pak Sugeng mulai menenangkan Mamao yang mulai menangis sesengukan sambil mengucapkan kata-kata menguatkan hati Mamao.

Kemudian ada lagi cerita satu keluarga eh 2 keluarga karena keluarga ini datang beserta anak dan menantunya. Mereka yang pertama kali datang menjenguk ke RS tapi hebatnya mereka menjenguk enggak pas jam besuk. Mamao ingat waktu itu hari Ahad siang jam besuk sudah lewat tapi entah dari mana mereka datang mengagetkan Mamao yang tengah duduk sendirian di kamar tunggu. Asli kaget Mamao.Setelah berbicang sejenak barulah Mamao tahu mereka datang tidak melalui loby rawat jalan tapi melalui pintu belakang kantin. Fiuh untung enggak ada satpam nunggu di depan lorong. Jadi mereka enggak kena marah satpam. Hahahaha

Banyak saudara dan teman menjenguk di rs tanpa  melihat Syahrul.Mamao hanya bisa menemui di lorong depan bangsal anak. Malah ada yang ke RS tapi setelah bertemu Babah di loby dan bilang Syahrul enggak bisa dilihat mereka balik kanan.Apapun itu Mamao tetap mengucapkan terimakasih atas doa dan perhatian keluarga, teman, sahabat dan bahkan doa sesama orangtua pasien di rs.

Setelah Syahrul pulang ke rumah hati Mamao kembali meleleh. Keluarga, saudara, teman dan sahabat yang sempat ‘kecelik’ kembali datang ke rumah. Mereka sepertinya penasaran dengan kondisi Syahrul kok bisa 2 minggu baru bisa dibawa pulang. Mamao sebagai ibunya belajar mengasah mental memiliki anak istimewa. Setiap ada tamu yang hendak menjenguk Mamao tunjukkan semua keistimewaan anaknya satu per satu. Tak ayal setiap yang datang pasti menunjukkan ekspresi terkejut, iba, sedih, tak sedikit juga yang kepo, “Dulu enggak ketahuan pa, Mbak?”. Aha andai udah ketahuan pun Mamao juga enggak tahu harus berbuat apa.

Mamao ingat ketika moment Bu Nyai menjenguk Syahrul. Mamao serahkan Syahrul agar digendong Bu Nyai. Jadilah Bu Nyai malah nangis sesengukan dan diikuti ibu-ibu yang lain setelah melihat fisik Syahrul.Mamao juga terharu tak kala ibu –ibu wali santri tpa Inayatullah datang berkunjung.Banyak di antara wali santri yang datang malah Mamao tidak kenal!.Meleleh deh Mamao.Ibu-ibu rt seberang yang Mamao yakin datang lantaran Mbah Utinya aktif di pengajian juga turut memanjatkan doa untuk kesembuhan Syahrul.Ternyata setelah ditelisik mereka mengetahui perihal keadaan Syahrul melalui Pengajian Sabtu Pahing yang diadakan oleh pondok pesantren Inayatullah rutin selapan sekali, saat-saat kritis Syahrul di NICU bertepatan dengan pengajian tersebut dan didoakan oleh Kyai Chamdani dan seluruh jamaah. Ya Allah, mungkin atas seizin Allah melalui doa-doa mereka Syahrul bisa melalui masa –masa kritisnya.

Mama-mama cantik wali murid TK Alfatah, tk tempat Kak Haura dulu sekolah juga turut datang menguatkan hati Mamao. Mama Tsaniya, Mama Daffa, Mama Atika, Mama Alie, Mama Fafa, Mama Alif, Mama Tarra. Love You All. dan ternyata ada yang ketinggalan info tentang kelahiran Syahrul. Yaitu wali murid SDIT Yaa Bunayya. Sempat membuat heboh komite sekolah. Mbak Maya Syarief selaku ketua komite kelas 1A sampai bilang tidak enak hati katanya karena telat mengetahuinya. Yap, waktu itu mereka mengetahui setelah Syahrul berusia 3 bulan. Sebenarnya bukan maksud Mamao diam-diam saja. Cuma kondisinya Mamao masih harus bolak-balik ke RS jadi enggak sempat share macem-macem.Jadi, pernah suatu hari Babah pas ada acara kerja bakti di sekolah kak Haura ngobrolin tentang Syahrul dengan beberapa bapak-bapak wali murid dan salah satu di antaranya dokter Desin, dokter spesialis di Sardjito.Selang 2 bulan dokter ini menyampaikan ke ketua komite. Sore hari ketua komite konfirmasi ke Babah, Paginya langsung silaturahmi ke rumah. MasyaAllah gercep banget mereka kalo untuk kegiatan sosial. Kemudian siang harinya gantian Mbak Maya yang ke konfirmasi ke Mamao. Masih dalam minggu yang sama Mbak Maya, Ummu Hafsoh,keluarga Ummu Alifia, keluarga Ummu Aisyah,silaturahmi ke rumah. Jujur ini pertama kalinya Mamao berinteraksi dengan mereka yang bercadar. Sempat ada rasa minder-minder gimana gitu, tapi ternyata mereka welcome banget. Gak beda-bedain sama yang enggak pakai cadar.

Masih inget cerita Mamao tentang anak itu membawa rezeki sendiri-sendiri. Sempet pesimis karena saat di rumah sakit apalagi waktu Syahrul di bangsal, uang yang di dompet Babah udah menipis karena buat wara-wiri dan operasional selama enggak jualan. Babah terpaksa pinjam ke ibu mertua dan mbah uti. Itu aja sebenernya masih kurang guys buat tebus Syahrul pulang. Siang hari pas mau urus kepulangan Syahrul Babah udah bawa BPKB motor dan mobil tua buat jaminan di RS karena terakhir dicek nominalnya udah 9 jutaan. Saat menuju kasir Mamao dan Babah iseng ngecek ke atm di loby RS. Begitu memasukan kartu ATM dan memencet beberapa tombol di mesin atm alangkah terkejutnya Mamao dan Babah, ternyata pencairan jamsostek yang sejatinya masih nunggu beberapa hari lagi udah cair. Allahu Akbar Mamao dan Babah tak henti-hentinya mengucap syukur. “Udah Bah kalo cukup langsung kita lunasin aja, yang besok kita pikir besok” kata Mamao. Babah mengangguk mengiyakan. Sampai di mbak mbak kasir angka yang muncul 12 juta sekian. Fiuh lega. Mamao bayar cash dan sebagian lewat mesin EDC di kasir. Percaya enggak semua sodara-sodara. Saya sama Babah sebelumnya Cuma minta ke Allah biar enggak punya hutang ke RS apalagi punya hutang ke bank. Aduh ngeRibanya bikin kapok. Tapi sama Allah langsung dijawab “Gak usah kawatir. Gak usah hutang rs ini tak kasih sisa 2 juta sekalian” ini yang bikin Mamao nangis. Allah begitu dengan sayangnya seperti tengah mengelus-elus kepala Mamao “Tenangno pikirmu[1]”. Mamao yang dari awal kehamilan udah khawatir soal dana seperti ditegur “Kandani kok ngeyel[2].Rezeki sudah dijamin” dan ada beberapa peristiwa nantinya yang menunjukkan kalau rezekimu semua sudah dijamin Allah. So, masih ngeyel?

Tentang rezeki tak semuanya dikaitkan dengan materi. Keluarga yang dengan tangan terbuka menerima keadaan Syahrul juga bagian dari rezeki Mamao dan Babah. Kak Haura dan Syakira pun tanpa Mamao jelaskan panjang lebar mereka tetap sayang dengan Syahrul. Pertama kali kak Syakira melihat tangan special Syahrul malah Syakira yang nangis. “Adik kasihan sekali, Ma” ucap Syakira waktu itu sambil terisak memegangi tangan kanan adiknya yang tak berjari. Merekalah yang membuat Mamao kuat menjalani hari. Begitu juga dengan sahabat,teman yang tetap memberi semangat dan doa baik langsung atau melalui pesan WA mereka juga bagian dari rezeki. Beruntunglah Mamao.dikelilingi oleh orang-orang yang begitu perhatian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Tenangkan pikiranmu (bahasa jawa)

[2] Dikasih tahu kok gak percaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar