Senin, 06 April 2020

Detik-Detik Menegangkan


Operasi caesar dijadwalkan pukul 9 pagi. Tapi sejak semalam infus sudah terpasang di tangan kanan Mamao. Tengah malam Mamao sudah diharuskan puasa. Sebenarnya malam sebelum melahirkan itu Mamao berniat bermalam sendiri sedangkan Babah di rumah bersama anak-anak. Meskipun di rumah ada Mbah Akung dan mbah Utinya, Mamao bersikeras agar Babah malam itu di rumah biar anak-anak tidak merasa sendiri. Tapi bada Isya Babah datang katanya enggak tega Mamao tidur sendiri di ruangan itu. Weew padahal di ruangan itu ada satu pasien lain. Yah meskipun menurut perawat pasien itu sedang di ruang bersalin. “Lha terus besok enggak jualan Bah?” tanya Mamao. “Jualan, Ma. Besok pagi –pagi sekali Babah pulang” jawab Babah. “Enggak ngrepotin mbak perawat bah jam 3 pagi pulang?” tanya Mamao lagi. Oh iya di bangsal khusus bersalin ini pintu keluar masuknya dijaga ketat. Hanya yang ber-id card RS yang bisa buka tutup pintu. Pernah waktu itu Mamao tanya alasannya karena di bangsal tersebut ada bayi jadi rawan terjadi pencurian bayi.ooohgitu toh. Apakah pernah ada kasus pencurian bayi?hehe yang itu saya enggak nanya,dan benar saja jam 3 pagi Mamao bangunkan Babah untuk segera pulang masak sari kacang ijo.Sayang kalo jualan. Sehabis antar Kak  Haura sekolah Babah balik lagi ke RS nungguin Mamao. Perawat beberapa kali ngecek kandungan Mamao karena kenceng-kenceng mulai intens. Bahkan ketika perawat datang membawa baju ganti untuk operasi tiba-tiba keluar cairan.Mamao panik.
“Apa ini yang keluar ya mbak?Darahkah atau ketuban?”tanya saya cemas.Perawat kemudian mengecek apakah itu adalah cairan ketuban atau tidak.Setelah diperiksa dengan kertas semacam kertas Lakmus[1] ternyata itu hanya cairan biasa bukan ketuban. Pukul 10 pagi Mamao diantar beberapa perawat menuju ruang operasi. Sebelum masuk ruang persiapan operasi Babah sempat mengajak Mamao berdoa semoga operasinya lancar.Tegang.bener deh meski udah pernah 2 kali operasi caesar  tapi di operasi ini tegang karena perut udah mulai kencang-kencang. Di ruang persiapan operasi sempat diperiksa lagi oleh perawat, detak jantungnya sempat kesulitan di deteksi Fetal Doppler[2] karena perutnya kenceng banget. Kurang lebih hampir 1 jam di ruang persiapan tambah bikin tegang kok lama ya?dokternya pada belum datang atau gimana ini.Sambil merasakan perut yang udah enggak nyaman pandangan Mamao tertuju pada bed di sebelah. Bapak-bapak sudah sepuh. Entah mau operasi apa. Dari sebelum Mamao masuk ruangan itu bapak itu selalu terpejam matanya.Bapaknya sadar enggak ya itu atau kondisi udah gak sadar, batinku. Hampir pukul 11 beberapa perawat cowok mulai membawa Mamao ke ruang operasi. Beberapa pisau bedah sudah tertata di samping meja operasi. Segera Mamao dipindah ke meja operasi dengan dibantu paramedis di ruang operasi berjubah ijo-ijo,bahkan kepalanya juga ditutup dengan nurse cap[3] warna ijo.Kedua tangan diikat disisi samping meja operasi dan di tangan kanan terpasang tensimeter yang terhubung ke sebuah mesin.Selang oksigen mulai dipasang ke hidung Mamao. Sambil mencoba agar Mamao lebih relaks beberapa orang di ruangan itu mencoba mengajak Mamao berbincang sejenak. Tapi dasar Mamao hearing loss beberapa kali percakapan menjadi enggak nyambung. Hahaha. Maafkan saya mas-mas.Tak lama dokter anestesi datang, beliau mengajukan beberapa pertanyaan tentang pengalaman Mamao anestesi sebelum-sebelumnya. Ada riwayat alergi?dulu operasi dimana?oh yang ini agak malu-malu Mamao jawabnya saat dokter anestesi tanya” Lha kok sekarang operasi di sini”?Mamao jawab sok diplomatis. “Dulu dijamin perusahaan pak jadi cari rumah sakitnya yang kerjasama sama assurance kantor”. Aslinya “sini yang paling murah Pak”. Hahaha. Untung dokternya enggak korek-korek lagi. Setelah siap dokter tersebut memberikan bantal agar bisa Mamao peluk saat menahan sakit suntik anestesi di tulang belakang. Buat yang sudah pernah operasi caesar pasti tahu posisi saat suntik anestesi bukan posisi yang nyaman untuk ibu hamil dengan perut besar masih harus suruh duduk tegak. Jadi kalau masih ada yang bilang melahirkan melalui oprasi caesar itu  tidak bisa dibilang seorang ibu sejati, sini saya bantuin sayat perutnya 20 cm terus hari kedua pasca operasi harus sudah bisa berdiri. Rasanya enggak kalah WOW dengan rasa sakit ibu yang melahirkan secara normal. Karena pasca operasi masih harus merasakan kontraksi dan perihnya luka operasi. Belum lagi resiko infeksi luka operasi.fuih.Ditambah urat malunya harus diputus. Di ruang operasi bener-bener telanjang dan kita enggak bisa milih paramedis harus cewek semua. Malah hampir 75% cowok di ruang operasi saat itu.
Selesai suntik anestesi beberapa paramedis berjubah hijau yang masuk ke ruangan operasi.Badan Mamao mulai mati rasa. Dokter mengecek apakah anestesi sudah mulai bekerja dengan meminta Mamao mengangkat kaki ke atas. Bila sudah tidak bisa  .pertanda anestesi sudah bekerja dan operasi bisa segera dilakukan.Seorang wanita meraih tangan kiri saya dan menyarankan agar saya tenang dan mulai berdoa.Di kemudian hari nanti Mamao baru akan mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Bidan senior di RSA. “Kok malah keringetan ini tangannya?Takut apa?” tanya wanita itu
“Cuma tegang kok”jawab Mamao dengan senyum agak dipaksakan karena saking tegangnya.
“Jadi disteril, Bu?”tanya sesosok wanita lainnya di sebelah wanita tadi dan ternyata wanita itu adalah dokter Esti.
“Ya, Dok” jawab Mamao singkat sambil mengangguk pelan. Sesaat kemudian operasi dimulai meski dibius Mamao masih bisa merasakan ketika paramedis itu mencoba memasang kateter. Alhamdulillah dipasang dalam kondisi bius. Dulu sewaktu operasi caesar Syakira kateter dipasang ketika Mamao masih berada di bangsal. Sakitnya bukan main.Setelah itu dokter mulai membuat sayatan diatas tulang kemaluan Mamao merasa ada yang menggaris-garis perutnya. Mamao hanya bisa memejamkan mata dan menoleh ke kiri atau ke kanan karena bila melihat ke atas ada lampu operasi yang memantulkan kondisi perutnya yang tengah dibedah.Ada hal yang membuat Mamao tak habis pikir ternyata selama operasi berlangsung paramedis tersebut juga diselingi obrolan ringan. Ada yang ngobrolin dokter yang ini gini nih kalo operasi kalo dokter itu biasanya gini. Hadeh Mamao jadi berasa kayak ayam potong yang lagi dipotong-potong sama bakul daging ayam, ditinggal ngobrol sama pelanggannya.Kira-kira 20 menit kemudian paramedis tersebut memberi aba-aba, sepertinya Dedek bayi siap diangkat. 3 orang di atas kepala Mamao turut mendorong perut Mamao.Mamao sempat mengaduh kesakitan. Rasanya kayak ada yang menarik badan Mamao tapi berat banget lepasnya. Selesai mendorong 3 orang yang mendorong dari atas dada Mamao mengucap maaf ‘Maaf ya Bu agak sakit”. Mamao hanya mengangguk pelan. Namun ada membingungkan Mamao.Mamao tak mendengar suara tangis bayi.Mamao memang Hearing Loss tapi beberapa pembicaraan para medis barusan Mamao dengar tapi masak suara bayi tidak terdengar?


[1] Kertas dari bahan kimia yang akan berubah warna jika dicelupkan ke dalam larutan asam atau basa.
[2] Alat yang berfungsi mendeteksi dan mengghitung detak jantung janin dalam kandungan.
[3] Pelindung kepala sekali pakai yang sering digunakan para petugas medis di ruang operasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar