Operasi caesar dijadwalkan pukul 9 pagi. Tapi sejak semalam
infus sudah terpasang di tangan kanan Mamao. Tengah malam Mamao sudah
diharuskan puasa. Sebenarnya malam sebelum melahirkan itu Mamao berniat
bermalam sendiri sedangkan Babah di rumah bersama anak-anak. Meskipun di rumah
ada Mbah Akung dan mbah Utinya, Mamao bersikeras agar Babah malam itu di rumah
biar anak-anak tidak merasa sendiri. Tapi bada Isya Babah datang katanya enggak
tega Mamao tidur sendiri di ruangan itu. Weew padahal di ruangan itu ada satu
pasien lain. Yah meskipun menurut perawat pasien itu sedang di ruang bersalin.
“Lha terus besok enggak jualan Bah?” tanya Mamao. “Jualan, Ma. Besok pagi –pagi
sekali Babah pulang” jawab Babah. “Enggak ngrepotin mbak perawat bah jam 3 pagi
pulang?” tanya Mamao lagi. Oh iya di bangsal khusus bersalin ini pintu keluar
masuknya dijaga ketat. Hanya yang ber-id card RS yang bisa buka tutup pintu.
Pernah waktu itu Mamao tanya alasannya karena di bangsal tersebut ada bayi jadi
rawan terjadi pencurian bayi.ooohgitu toh. Apakah pernah ada kasus pencurian
bayi?hehe yang itu saya enggak nanya,dan benar saja jam 3 pagi Mamao bangunkan
Babah untuk segera pulang masak sari kacang ijo.Sayang kalo jualan. Sehabis
antar Kak Haura sekolah Babah balik lagi
ke RS nungguin Mamao. Perawat beberapa kali ngecek kandungan Mamao karena
kenceng-kenceng mulai intens. Bahkan ketika perawat datang membawa baju ganti
untuk operasi tiba-tiba keluar cairan.Mamao panik.
“Apa ini yang keluar ya mbak?Darahkah atau ketuban?”tanya
saya cemas.Perawat kemudian mengecek apakah itu adalah cairan ketuban atau
tidak.Setelah diperiksa dengan kertas semacam kertas Lakmus[1] ternyata itu
hanya cairan biasa bukan ketuban. Pukul 10 pagi Mamao diantar beberapa perawat
menuju ruang operasi. Sebelum masuk ruang persiapan operasi Babah sempat
mengajak Mamao berdoa semoga operasinya lancar.Tegang.bener deh meski udah
pernah 2 kali operasi caesar tapi di
operasi ini tegang karena perut udah mulai kencang-kencang. Di ruang persiapan
operasi sempat diperiksa lagi oleh perawat, detak jantungnya sempat kesulitan
di deteksi Fetal Doppler[2] karena perutnya
kenceng banget. Kurang lebih hampir 1 jam di ruang persiapan tambah bikin
tegang kok lama ya?dokternya pada belum datang atau gimana ini.Sambil merasakan
perut yang udah enggak nyaman pandangan Mamao tertuju pada bed di sebelah.
Bapak-bapak sudah sepuh. Entah mau operasi apa. Dari sebelum Mamao masuk
ruangan itu bapak itu selalu terpejam matanya.Bapaknya sadar enggak ya itu atau
kondisi udah gak sadar, batinku. Hampir pukul 11 beberapa perawat cowok mulai
membawa Mamao ke ruang operasi. Beberapa pisau bedah sudah tertata di samping
meja operasi. Segera Mamao dipindah ke meja operasi dengan dibantu paramedis di
ruang operasi berjubah ijo-ijo,bahkan kepalanya juga ditutup dengan nurse cap[3] warna ijo.Kedua
tangan diikat disisi samping meja operasi dan di tangan kanan terpasang
tensimeter yang terhubung ke sebuah mesin.Selang oksigen mulai dipasang ke
hidung Mamao. Sambil mencoba agar Mamao lebih relaks beberapa orang di ruangan
itu mencoba mengajak Mamao berbincang sejenak. Tapi dasar Mamao hearing loss
beberapa kali percakapan menjadi enggak nyambung. Hahaha. Maafkan saya mas-mas.Tak
lama dokter anestesi datang, beliau mengajukan beberapa pertanyaan tentang
pengalaman Mamao anestesi sebelum-sebelumnya. Ada riwayat alergi?dulu operasi
dimana?oh yang ini agak malu-malu Mamao jawabnya saat dokter anestesi tanya”
Lha kok sekarang operasi di sini”?Mamao jawab sok diplomatis. “Dulu dijamin
perusahaan pak jadi cari rumah sakitnya yang kerjasama sama assurance kantor”.
Aslinya “sini yang paling murah Pak”. Hahaha. Untung dokternya enggak
korek-korek lagi. Setelah siap dokter tersebut memberikan bantal agar bisa
Mamao peluk saat menahan sakit suntik anestesi di tulang belakang. Buat yang
sudah pernah operasi caesar pasti tahu posisi saat suntik anestesi bukan posisi
yang nyaman untuk ibu hamil dengan perut besar masih harus suruh duduk tegak.
Jadi kalau masih ada yang bilang melahirkan melalui oprasi caesar itu tidak bisa dibilang seorang ibu sejati, sini
saya bantuin sayat perutnya 20 cm terus hari kedua pasca operasi harus sudah
bisa berdiri. Rasanya enggak kalah WOW dengan rasa sakit ibu yang melahirkan
secara normal. Karena pasca operasi masih harus merasakan kontraksi dan
perihnya luka operasi. Belum lagi resiko infeksi luka operasi.fuih.Ditambah
urat malunya harus diputus. Di ruang operasi bener-bener telanjang dan kita
enggak bisa milih paramedis harus cewek semua. Malah hampir 75% cowok di ruang
operasi saat itu.
Selesai suntik anestesi beberapa paramedis berjubah hijau
yang masuk ke ruangan operasi.Badan Mamao mulai mati rasa. Dokter mengecek
apakah anestesi sudah mulai bekerja dengan meminta Mamao mengangkat kaki ke
atas. Bila sudah tidak bisa .pertanda
anestesi sudah bekerja dan operasi bisa segera dilakukan.Seorang wanita meraih
tangan kiri saya dan menyarankan agar saya tenang dan mulai berdoa.Di kemudian
hari nanti Mamao baru akan mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Bidan senior
di RSA. “Kok malah keringetan ini tangannya?Takut apa?” tanya wanita itu
“Cuma tegang kok”jawab Mamao dengan senyum agak dipaksakan
karena saking tegangnya.
“Jadi disteril, Bu?”tanya sesosok wanita lainnya di sebelah
wanita tadi dan ternyata wanita itu adalah dokter Esti.
“Ya, Dok” jawab Mamao singkat sambil mengangguk pelan. Sesaat
kemudian operasi dimulai meski dibius Mamao masih bisa merasakan ketika
paramedis itu mencoba memasang kateter. Alhamdulillah dipasang dalam kondisi
bius. Dulu sewaktu operasi caesar Syakira kateter dipasang ketika Mamao masih
berada di bangsal. Sakitnya bukan main.Setelah itu dokter mulai membuat sayatan
diatas tulang kemaluan Mamao merasa ada yang menggaris-garis perutnya. Mamao
hanya bisa memejamkan mata dan menoleh ke kiri atau ke kanan karena bila
melihat ke atas ada lampu operasi yang memantulkan kondisi perutnya yang tengah
dibedah.Ada hal yang membuat Mamao tak habis pikir ternyata selama operasi
berlangsung paramedis tersebut juga diselingi obrolan ringan. Ada yang
ngobrolin dokter yang ini gini nih kalo operasi kalo dokter itu biasanya gini.
Hadeh Mamao jadi berasa kayak ayam potong yang lagi dipotong-potong sama bakul
daging ayam, ditinggal ngobrol sama pelanggannya.Kira-kira 20 menit kemudian
paramedis tersebut memberi aba-aba, sepertinya Dedek bayi siap diangkat. 3
orang di atas kepala Mamao turut mendorong perut Mamao.Mamao sempat mengaduh
kesakitan. Rasanya kayak ada yang menarik badan Mamao tapi berat banget
lepasnya. Selesai mendorong 3 orang yang mendorong dari atas dada Mamao
mengucap maaf ‘Maaf ya Bu agak sakit”. Mamao hanya mengangguk pelan. Namun ada
membingungkan Mamao.Mamao tak mendengar suara tangis bayi.Mamao memang Hearing
Loss tapi beberapa pembicaraan para medis barusan Mamao dengar tapi masak suara
bayi tidak terdengar?
[1] Kertas
dari bahan kimia yang akan berubah warna jika dicelupkan ke dalam larutan asam
atau basa.
[2] Alat
yang berfungsi mendeteksi dan mengghitung detak jantung janin dalam kandungan.
[3]
Pelindung kepala sekali pakai yang sering digunakan para petugas medis di ruang
operasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar